
Acara ngunduh mantu berlangsung hingga pukul sebelas malam. Selesai acara Azmia dan Revan langsung istirahat dikamar karena besok harus langsung ke kediaman Bakhri untuk menyiapkan acara terakhir yaitu party keluarga dan sahabat.
Kebiasaan ketiga sahabat Azmia selesai acara mereka bukannya tidur, tapi ngobrol bareng di kamar.
"Rin, aku masih penasaran nih kira-kira Kak Rania tahu nggak ya kalau Azmia nikah dengan Revan," ucap Melia.
"Entahlah, andai dia tahu gimana ya perasaannya," balas Karina.
Melia hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Eh, tapi kenapa Kak Rania nggak ikut datang ya, apa dia belum pulang dari kota A?" tanya Melia.
"Bisa jadi," jawab Karina singkat padat jelas.
"Kalian berdua ngomong apaan sih nggak ngerti?" tanya Derry. Dia ikut bergabung bersama kedua wanita, tapi dia tak mengerti apa yang di bahas dalam obrolan kedua wanita tersebut. Dia jadi seperti obat nyamuk kedua wanita yang ada di sampingnya.
"Kepo," balas Karina.
"Ini urusan wanita," sambung Melia.
__ADS_1
"Riweh kalau ngumpul dengan emak-emak lebih baik aku tidur ajalah, bye." Derry berkata sambil berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju kasur.
"Ih ... Kak Derry ngambek, hahaha." Karina jadi tertawa melihat tingkah Derry saat merajuk, karena yang selalu dia lihat adalah Derry laki-laki tampan dan selalu cool saat di kampus.
Derry tak mempedulikan ucapan Karina, dia lebih memilih memejamkan matanya.
"Dahlah yuk, kita tidur juga besok kita harus ikut pengantin ngurus acara," ucap Melia.
"Iya." Karina menyetujui ajakan Melia untuk istirahat sekarang.
Malam ini Karina tidur satu kamar dengan Melia. Karina tidur di sofa sedangkan Melia tidur di kasur bersama Derry.
Karina memilih satu kamar, karena mereka hanya satu hari tinggal di hotel.
Di tempat lain
'Maafkan Mama, Nak, karena dulu pernah menghancurkan kebahagiaan mu, menyia-nyiakan mu, semoga kamu bahagia selalu, Nak,' batin Mama Sonia saat teringat Azmia.
"Mama belum tidur?" tanya Papa Prabu, karena merasa ada pergerakan di sampingnya.
__ADS_1
"Mama nggak bisa tidur, Pa," jawab Mama Sonia.
"Kenapa, ada masalah?" tanya Papa Prabu.
"Mama kepikiran Azmia, Pa," jawab Mama Sonia.
"Sekarang dia sudah bahagia nggak ada yang harus di khawatirkan. Bukankah, Mama sendiri yang tidak menginginkan dia kembali hadir dalam keluarga kita," ucap Papa Prabu.
"Mama menyesal, Pa. Andai dia masih berada dalam keluarga kita pasti saat ini kami semua sedang bahagia atas pernikahannya," balas Mama Sonia.
"Enggak ada lagi yang perlu di sesali semua sudah takdir ilahi mungkin memang sudah sampai batas itu kita menjaganya." Papa Prabu mencoba menenangkan istrinya agar tidak terlarut dalam penyesalan, karena mau di sesali seperti apapun semua tidak akan pernah bisa di ulang dan kembali seperti semula.
"Iya, Pa, tapi Mama sedih saat teringat bukan kita yang mendampinginya saat di pelaminan," ucap Mama Sonia.
"Kita itu kan hanya orang tua angkat, Ma, lagi pula kita juga sudah memutuskan hubungan setelah pernikahan dia dengan Alby berakhir." Papa Prabu mengingatkan kembali saat Mama Sonia tak menerima Azmia kembali setelah Azmia menikah dengan Alby.
"Apa sekarang dia membenci, kita? menikah pun tak memberi tahu kita," ucap Mama Sonia.
"Azmia tak seperti itu, Ma. Dia nggak akan membenci kita, dia tidak memberi tahu kita, karena dia nggak tahu kita sudah kembali ke sini lagi," balas Papa Prabu meluruskan tentang pemikiran istrinya supaya tidak salah paham lagi dengan Azmia.
__ADS_1