
Setelah acara demi acara selesai kini semua orang beraktivitas seperti biasa.
Azmia dan Revan juga sudah mulai masuk kantor.
"Selamat pagi, Bu Mia," sapa para karyawan saat Azmia melintas di depannya.
"Pagi juga," balas Azmia dengan tersenyum ramah.
"Wajah Bu Mia makin bersinar ya setelah menikah," ucap Karyawan.
"Iya, makin cantik aja," balas si B.
"Pak Revan pasti sangat beruntung bisa mendapatkan Bu Mia," sambung si C.
"Iyalah, selain cantik Bu Mia juga baik, ramah, sopan, nggak sombong pokoknya," ucap si A.
"Betul banget," balas si B.
"Kalian ini pagi-pagi udah pada ghibah," celetuk salah satu staf di kantor yang melintas di depan para karyawan tersebut.
"Hehehe, ghibah baik kok, Mba," balas salah satu karyawan dengan tersenyum kecil.
"Dahlah, sekarang kalian mulai kerja udah waktunya masuk ruangan masing-masing," ucap Staf.
"Siap, Mba," balas karyawan kemudian mereka membubarkan diri menuju ruangan masing-masing.
*
*
*
Di tempat lain.
__ADS_1
"Gimana, Al, aman?" tanya Daffa.
"Aman lah," jawab Alby.
"Yailah, lu kan tukang bohong," sindir Daffa.
"Sue, Lu," balas Alby dengan kesal.
"Jadwal gue hari apa?" tanya Alby.
"Ada pertemuan dengan perusahaan Bakhri untuk membahas kerjasama yang kemarin," jawab Daffa.
"Lu, aja deh yang datang," ujar Alby.
"Lha kenapa?" tanya Daffa. Dia merasa heran karena Alby tak ingin hadir dalam pertemuan tersebut padahal kan Bakhri sekarang keluarga juga.
"Enggak apa," jawab Alby singkat.
"Oh ... oh ... gue tahu," ucap Daffa dengan tertawa kecil.
"Lu, enggak mau kan katemu Azmia?" tebak Daffa.
"Enggak juga sih, gue cuma lagi pengen istirahat aja," balas Alby.
"Halah ngeles aja, Lu," ucap Daffa.
"Dahlah nggak perlu tahu alasan gue," balas Alby.
"Iya, dah terserah, Lu aja," ujar Daffa.
'Lebih baik menghindar dari pada terus bertemu dengannya,' batin Alby. Meskipun pertemuan ini menyangkut pekerjaan, tapi jika bisa di gantikan, dia lebih memilih untuk di wakilkan Daffa dari pada harus bertemu dengan Azmia. Bukan tak bisa profesional dalam kerjaan, tapi jika terus bertemu maka akan sulit baginya melupakan mantan istrinya itu.
*
__ADS_1
*
*
*
Di tempat lain.
Dua laki-laki yang sedang asyik menikmati secangkir kopi sambil berbincang-bincang.
"Lu, kenapa kemarin baru datang pas acara party, bukannya, lu udah pulang satu hari sebelum hari pernikahan Azmia?" tanya Angga.
"Gue datang kok pas acara ijab kabul hingga resepsi kemarin, lu aja yang nggak lihat gue," jawab Devan.
"Bohong, lu," ujar Angga karena dia sama sekali tak melihat batang hidung Devan di hotel.
"Beneran, ngapain juga gue bohong. Azmia ijab kabul jam __, lanjut malam acara resepsi di mulai jam __ saat resepsi dia pakai baju warna __." Devan menjelaskan semuanya.
"Lha iya bener, Lu dimana saat acara?" tanya Angga yang penasaran, karena yang dia tahu Devan baru pulang saat Azmia mengadakan acara di kediaman Bakhri.
"Kepo, Lu. Pokoknya gue ada di setiap acara dia kemarin, hanya saja gue nggak nemuin dia aja," jawab Devan.
"Nenangin hati ya, Lu hahaha," ucap Angga dengan tertawa kecil.
"Enggak juga sih, gue seneng kok pada akhirnya dia bisa menemukan cinta sejatinya, balas Devan.
"Ok deh, lalu kapan, lu nyusul?" tanya Angga.
"Eh, Bambang, Lu nanya ke gue, Lu dulu kapan?" Devan balik bertanya.
"Gue sih nanti kalau udah dapat jodoh dari Allah," jawab Angga dengan bangganya.
"Serah, Lu aja dah. Gue pulang dulu nanti malam telpon saja kalau jadi," ujar Devan.
__ADS_1
"Mau kemana sih, lu buru-buru banget," balas Angga.
"Mau istirahat dulu, bye." Devan berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Angga.