
"Ma, ini adalah hasil penelusuran dari cctv tempat kecelakaan Mama." Ardiaz menunjukkan rekaman cctv di tempat di mana Mama Irana menjadi korban tabrak lari.
Ardiaz dan Mama Irana dengan seksama melihat ke layar laptop.
"Kalian berdua sedang apa serius sekali?" tanya Papa Irwan saat masuk ke ruang keluarga.
"Ini, Pa. Kita sedang melihat rekaman cctv di lokasi Mama kecelakaan," jawab Mama Iran.
"Coba, Papa lihat. Di sini terlihat Azmia tidak mengetahui apapun bahkan dia rela telat hadir dalam acara keluarganya hanya demi menolong Mama serta menunggu Mama rumah sakit hingga Ar datang dan satu lagi Azmia juga yang sudah mendonorkan darah untuk Mama saat Mama kritis kehabisan darah karena luka Mama yang cukup serius di bagian kepala," jelas Ardiaz. Dia seakan tak berhenti untuk membuktikan pada Papanya bahwa Azmia tidak bersalah.
Papa Irwan pun menghampiri anak dan istrinya duduk bersama mereka untuk melihat hasil rekaman cctv.
"Mama memang yakin kok bukan Azmia pelakunya. Saat itu sebelum Mama benar-benar pingsan Mama masih melihat Azmia begitu panik melihat keadaan Mama," ucap Mama Irana, beliau juga mencoba meyakinkan suaminya bahwa Azmia tidaklah bersalah.
__ADS_1
"Kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti, Pa. Apalagi dalam cctv ini terlihat begitu jelas bahwa Azmia bukanlah pelakunya. Ar, akan mencari tahu siapa pemilik mobil yang menabrak Mama," jelas Ardiaz.
"Mama setuju, Ar," sambung Mama Irana.
"Terserah kalian saja," balas Papa Irwan.
"Pa, harusnya, Papa berterima kasih karena di situ hanya Azmia yang peduli dengan Mama. Papa coba lihat begitu banyak mobil dan orang di sana, tapi tak ada satupun yang bergegas menolong Mama. Papa boleh tidak menyukai Azmia, tapi Papa tidak bisa menuduhnya seperti itu." Ardiaz hanya tidak ingin Papanya berprasangka buruk dengan orang lain jika tidak memiliki bukti apapun karena itu akan menjadi fitnah.
"Ar, sudah tidak tahu lagi harus berkata apa dengan Papa. Biarkan Allah saja yang membuktikan pada Papa jika Azmia itu wanita baik-baik tidak seperti yang Papa pikirkan." Bukan tidak ingin berjuang untuk membuktikan pada Papanya, tapi Ardiaz tidak ingin terus berdebat dengan orang tuanya hanya karena seorang wanita. Ardiaz tidak ingin di bilang anak durhaka karena terus membantah ucapan Papanya. Mungkin jika Allah yang sudah membuktikan Papanya bisa percaya. Ardiaz hanya bisa berdoa semoga suatu hari nanti Allah menunjukkan pada Papanya sosok Azmia sebenarnya.
"Sejak mengenal wanita itu kamu sekarang menjadi anak yang begitu berani dengan Papa mu, sampai kapanpun Papa tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua," ucap Papa Irwan dengan tegas.
"Terserah, Papa. Ar capek ingin istirahat. Ma Ar masuk kamar dulu, ya," pamit Ardiaz.
__ADS_1
"Iya, Ar," balas Mama Irana.
"Sudah, Pa." Mama Irana menenangkan suaminya dengan mengelus lembut lengan Papa Irwan.
"Lihat tuh anak Mama sekarang sudah berani melawan Papa hanya karena wanita itu," ucap Papa Irwan.
"Dia juga anak Papa," balas Mama Irana.
"Anak sama Emak sama saja," ujar Papa Irwan kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Pusing, mending nonton drakor," lirih Mama Irana dari pada pusing mikirin anak sama bapaknya yang terus berdebat lebih baik dia menenangkan diri. Mama Irana mengambil handphone yang ada di meja kemudian membuka layar benda pipih tersebut mencari drakor kesukaannya.
Hiburan emak-emak ya bestie, hehehe.
__ADS_1