Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 93 Saling terbuka


__ADS_3

"Van, lu nggak bosen mandangin foto Azmia terus?" tanya Kabin yang baru masuk ke dalam kamar langsung menghampiri Revan yang sedang duduk di balkon apartemen memandangi foto Azmia saat liburan di kota L.


"Gue kasihan sama dia, Bin. Andai saja waktu itu gue pulang mungkin semua ini tidak akan terjadi. Azmia tidak akan menikah dengan Mas Alby, meskipun dia Kakak gue, tapi gue sakit hati jika dia menyakiti Azmia. Lu kan tahu, Bin gue rela nungguin dia supaya kita bisa hidup bersama, tapi ternyata semua hanya mimpi yang tak akan pernah terwujud," jelas Revan.


"Namun, lu tidak bisa seperti ini terus lu harus maju ke depan masa depan lu masih panjang, Van jangan sesali semua yang sudah terjadi karena tidak akan bisa di kembalikan. Ingatlah manusia hanya bisa berencana Allah-lah yang menentukan, mungkin Allah telah merencanakan keindahan, ke bahagian buat lu. Gue tahu lu sayang sekali sama Azmia, tapi dia sudah tidak seperti dulu, Van. Azmia sudah memiliki suami yaitu Abang lu sendiri. Buang rasa cinta itu dan ubah menjadi rasa sayang terhadap Kakak terapkan di hati, lu menjaganya karena dia Kakak ipar lu. Lu kan tahu cinta itu tak harus memiliki," balas Kabin. Tanpa sadar dia mengucap seperti orang bener.


"Iya, Bin. Gue lagi berusaha untuk itu, tapi terasa sangat sulit. Wanita yang dulu gue kagumi, bertahun-tahun gue tungguin, eh ... di comot orang. Nasib gue kasihan banget ya, Bin," ucap Revan.


"Tidak, justru Allah sedang mempersiapkan kebahagiaan buat lu. Setelah hujan akan ada pelangi, setelah kesusahan pasti ada kemudahan. Semangat dong, Van. Gue yakin suatu hati nanti lu pasti bisa menemukan cinta sejati, Lu." Kabin mencoba menasehati Revan agar tidak terus terpuruk dalam patah hati di depan dia bisa bilang ikhlas, tapi tidak dengan hatinya yang belum bisa ikhlas dan merelakan cintanya.


"Semoga, terima kasih ya, Bin. Lu sahabat terbaik gue," ucap Revan.


"Sama-sama," balas Kabin.


"Oh, iya, Van sepertinya bulan depan gue mau pulang. Gue pengen mempertemukan Tari dengan bonyok gue," ucap Kabin.


"Lu, yakin?" tanya Revan.


"Iya, gue takut khilaf kalau pacaran lama-lama, lagian pacaran lama juga belum menjamin bakal nikah, lebih baik gue segerakan biar cepet halal nggak nambahin dosa gue," jelas Kabin.


"Makanya kalau pacaran baca ayat kursi biar nggak di godain setan," balas Revan


"Memangnya gue di kejar-kejar setan baca ayat kursi. Ah ... sudahlah susah kalau bicara sama orang yang patah hati," ucap Kabin kemudian pergi masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Dia ngambek." Revan yang melihat Kabin pergi begitu saja.


****

__ADS_1


Di tempat lain


Hari ini Azmia sengaja menghabiskan waktu di cafe dengan bekerja dan bertemu banyak orang bisa melupakan sejenak masalahnya. Azmia ikut melayani pembeli supaya nanti sampai rumah dia bisa langsung tidur nyenyak karena lelah.


Waktu terasa begitu cepat kini sudah tiba saatnya toko tutup. Azmia berpamitan pulang pada semua karyawan cafe.


Sampai di rumah Azmia langsung masuk ke dalam kamar membersihkan diri. Setelah pulang dari rumah Bunda Azmia memilih tidur di kamarnya sendiri.


"Assalamualaikum, Mia," ucap Alby di depan pintu kamar Azmia.


"Wa'alaikumussalam," balas Azmia kemudian membukakan pintu untuk Alby.


"Boleh masuk," ucap Alby.


"Silakan!" Azmia mempersilakan Alby masuk ke dalam kamar duduk di sofa. Sedangkan Azmia duduk di kursi rias.


"Iya. Mas ingin minta maaf padamu, maafkan Mas karena selalu melukai hati mu," ucap Alby.


"Tidak perlu minta maaf, Mas karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan percuma juga minta maaf besok juga pasti di ulangi lagi," balas Azmia.


"Itu tidak akan, Sayang," ujar Alby.


"Mas - mas kamu selalu bilang begitu padaku, Mas aku bukan boneka yang hanya diam jika di sakiti. Aku ini manusia biasa ada rasa sakit, lelah dalam diriku. Aku manusia biasa, Mas yang tak memiliki stok kesabaran, Aku bisa tumbang jika terus di terpa angin. Maafkan, Mia karena tidak bisa menjadi istri yang baik, istri yang bisa membahagiakan suaminya, tidak bisa menjadi istri yang Sholehah," balas Azmia dengan nada yang lembut meskipun dia marah, tapi tetap dia selalu menjaga adab saat berbicara.


"Kamu sudah menjadi istri yang luar biasa, Mia. Maafkan, Mas karena belum bisa menjadi imam yang baik buatmu," ucap Alby.


"Mungkin ini adalah akhir dari pernikahan kita, terimakasih untuk waktu satu tahun ini." Azmi sudah menyerah.

__ADS_1


"Tidak, Mia. Aku tidak mau berpisah dengan mu, kamu adalah wanita satu-satunya yang bisa memberi warna dalam hidupku." Alby berkata tanpa berpikir.


"Jika aku jadi wanita satu-satunya kenapa Mas masih pergi dengan Kak Rania, Kak Elvina, kenapa, Mas apa tidak cukup denganku saja sehingga kamu mencari yang lain," ucap Azmia dengan tegas rasanya ingin sekali dia berteriak agar bisa mengeluarkan segala beban di hatinya yang terasa sangat sesak.


"Aku sudah lama putus hubungan dengan Elvina. Sedangkan Rania, dia yang selalu datang padaku," jelas Alby.


"Kenapa kamu tidak menolaknya, apa kamu juga masih mengharapkan dia? Aku pernah bilang jangan bermain-main dengan hati karena kamu sendiri yang akan terjebak dan sekarang lihat benarkan yang aku ucapkan? Kamu rela membohongi ku demi menjaga Kak Rania di rumah sakit dengan setia kamu menjaganya, hingga kamu lupa ada istri yang menunggumu di rumah mengkhawatirkan suaminya yang pergi keluar kota, tapi ternyata suaminya sedang bersama mantan kekasihnya." Azmia mengeluarkan semua unek-uneknya.


"Maafkan aku." Hanya itu yang keluar dari mulut Alby.


"Kata maaf tidak mampu mengobati semua rasa sakit ini, Mas. Tak bisa mengembalikan keadaan. Ingatlah, Mas jangan pernah berfikir bahwa istri tidak akan mengetahui semuanya. Kamu salah aku memang tidak melihatnya, tapi Allah mengetahui semuanya, Allah yang akan membuka semua ke bohonganmu," ucap Azmia.


"Maafkan aku karena tidak bilang dari awal aku takut kamu marah Azmia, aku takut kamu tidak akan mengizinkan ku. Awalnya aku juga tidak mau menjenguk Rania, tapi Papa Prabu datang memintaku agar aku menjenguk Rania meskipun hanya sebentar. Aku sudah menolaknya, tapi Papa akan bersujud di hadapanku agar aku mau menjenguk Rania, aku nggak tega Azmia. Akhirnya aku setuju untuk menjenguk Rania bersama Daffa. Akan tetapi semua memang tidak sesuai dengan kenyataan saat aku ingin pergi meninggalkan Rania, Kakak mu memberontak dia ingin bunuh diri lagi dan saat malam harinya tiba-tiba Papa mendapatkan telpon harus berangkat ke luar kota karena urusan darurat. Papa memintaku untuk menjaga Rania selama di rawat di rumah sakit. Saat itu aku bingung, jika aku menolak aku tidak tega melihat Papa Prabu sedih, akhirnya aku menyetujui permintaan Papa." Alby menjelaskan semuanya meskipun terlambat, tapi tidak apa setidaknya dia sudah berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar tidak terjadi salah paham.


"Meskipun demi Papa harusnya kamu tidak perlu berbohong padaku. Hampir dua minggu bersama setiap hari kini membuat hatimu terbuka kembali untuknya?"


"Tidak Azmia, aku hanya kasihan padanya, aku takut dia bunuh diri lagi," jawab Alby.


"Oh ... hanya kasihan." Azmia tersenyum getir. "Dari kasihan lama-lama akan merasa nyaman. Kamu kasihan padanya, tapi kamu tidak kasihan padaku," ucap Azmia dengan tertawa kecil. Sediam-diamnya seseorang, tapi jika dia sudah di sakiti maka dia juga akan memberontak.


"Kamu kan tidak sakit, Mia," balas Azmia.


"Ragaku memang tidak sakit, Mas, tapi hatiku yang sakit. Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi semua sudah terlewatkan, Mia sudah tak tahu harus berkata apalagi, sekarang Mia mohon dengan sangat tinggalkan Mia sendiri, Mas." Mia mengusir Alby secara harus tidak ada teriak-teriak yang membuat seisi rumah mendengar. Meskipun berdebat mereka masih tetap menjaga cara bicara agar orang lain tidak mendengar karena itu adalah privasi yang tak boleh seorang pun tahu.


"Namun, Mia," ucap Alby yang ingin menolak permintaan Azmia.


"Mas, please biarkan Mia sendiri," balas Azmia tanpa memandang kearah Alby. Dia tak ingin Alby melihat air matanya sudah membasahi pipi. Mungkin dengan menangis bisa sedikit melegakan nyeri di hatinya, itulah wanita jika sakit dia hanya bisa menangis menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dengan berat hati akhirnya Alby keluar meninggalkan kamar Azmia berjalan menuju kamarnya sendiri.


__ADS_2