
Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Setiap hubungan pasti akan mengalami berbagai rintangan.
Seperti halnya yang di alami Azmia dan Alby mereka harus berpisah di usia pernikahan yang masih seumur jagung, tapi itulah takdir kita tak pernah tahu jika Allah sudah berkehendak maka sesuatu yang tak mungkin terjadi bisa terjadi.
"Mi," panggil Karina.
"Iya, Rin. Kenapa?" tanya Azmia.
"Kamu kenapa, ada masalah?" tanya Karina karena Azmia terlihat seperti orang yang gelisah sejak sampai di kampus dia hanya diam saja nggak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya hingga kini mereka duduk di ruang kelas Azmia masih berdiam diri.
"Tidak cuma bingung," jawab Azmia.
"Bingung kenapa?" tanya Karina.
"Kata Mba Dinda besok di suruh datang ke kantor pengadilan agama," balas Azmia.
"Ngapain?"
"Sidang," balas Azmia.
"Terus kenapa bingung?" Karina jadi bingung sendiri.
"Kamu kan tahu bunda masih berada di rumah sakit masa aku harus kasih tau ini. Di sisi lain aku ingin secepatnya urusan kita selesai, tapi nggak tega juga mau bilangnya," jelas Azmia.
"Kamu bilang saja ke Mba Dinda supaya di tunda karena keadaan tidak memungkinkan," solusi Karina.
"Iya. Aku bilang ke Mas Alby nya gimana ya kan aku nggak punya nomor handphonenya," balas Azmia dengan tersenyum kecil.
"Astaghfirullah, Mi. Nomor laki sendiri nggak punya," ucap Karina.
"Bukan nggak punya, tapi nomornya ada di ponsel yang aku simpen di cafe cinta," balas Azmia.
"Mi, bukankah lebih baik kamu bicara baik-baik sama Mas Alby ketemuan aja sebentar sekalian jenguk Bunda." Karina memberikan saran karena tidak ada salahnya kan bertemu sebentar saja membicarakan masalah kalian.
__ADS_1
"Aku takut Kak Rania lihat, malas berurusan lagi dengannya lagi," balas Azmia.
"Kalau soal itu gampang kita bisa minta bantuan Kak Revan," ucap Karina.
"Kita lihat nanti sajalah," balas Azmia.
*
*
*
Di rumah sakit
"Al, kamu nggak berangkat kerja?" tanya Ayah Wisnu karena melihat Alby belum juga pulang dari rumah sakit padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.
"Al, lagi free, Yah," jawab Alby masih dengan mode malas-malasan rebahan di atas sofa sambil memainkan ponselnya.
"Ayah, kenapa nggak asistennya saja." Padahal hari ini dia sengaja nggak ke kantor karena lagi malas malah di suruh meeting.
"Kan ada kamu, Al," ujar Ayah Wisnu.
"Ah ... baiklah," balas Alby karena nggak mungkin dia menentang Ayahnya.
"Dari mana, Lu?" tanya Alby pada Revan yang baru masuk ruangan Bunda di rawat.
"Pulang ganti baju," jawab Revan kemudian berjalan menghampiri sang Ayah.
"Ayah, pulang saja istirahat biar Revan yang jagain Bunda," ucap Revan.
"Baiklah." Ayah Wisnu menyetujui saran putranya karena badannya memang sudah sangat lelah semalam tak bisa tidur dengan nyenyak.
"Van," panggil Alby.
__ADS_1
"Apa," balas Revan
"Dimana istri, Mas?" tanya Alby.
"Entahlah, setelah mendonorkan darahnya dia pergi tanpa pamit mungkin memang sengaja biar nggak ketemu dengan Mas Alby," jawab Revan.
"Jangan bohong. Plis tolong kasih tau Mas di maba dia sekarang Mas ingin sekali bertemu dengannya," ucap Alby.
"Mas, sekarang Mas baru sadar saat dia sudah pergi dulu Mas kemana saja, saat dia masih berada di sisi Mas. Mas selalu menyia-nyiakan dia andai saja saat itu aku pulang aku tidak akan membiarkan Mas menikah dengannya. Andai Mas Alby tahu bagaimana perjuangan Revan untuk mendapatkan cintanya, semua tidak mudah Mas. Sedangkan Mas Alby dengan gampangnya bisa memiliki dia, tapi malah Mas sia-siakan dia begitu saja. Revan sangat kecewa dengan Mas Alby." Revan berkata dengan nada yang tegas mengungkapkan isi hatinya yang sampai saat ini masih terasa sakit karena wanita pujaan hatinya di sakiti Kakak kandungnya sendiri.
"Maafkan Mas, Van," lirih Alby.
"Kata Maaf tidak akan mengubah semuanya, Mas, tidak akan mengembalikan keadaan seperti dulu lagi," ucap Revan.
"Andai Mas tahu dari awal jika dia adalah cintamu maka Mas nggak akan pernah mau menikah dengannya," balas Alby. Semua terjadi juga bukan karena kemauannya sendiri.
"Semua sudah terlambat, Mas. Nasi sudah menjadi bubur. Waktu juga tak akan pernah bisa di ulang kembali," ujar Revan.
"Tidak ada kata terlambat karena sebentar lagi Azmia akan berpisah dari Mas kami sudah mengajukan surat perceraian tinggal menunggu sidang ketuk palu dan setelah itu semua akan berakhir. Kejarlah cintamu lagi dia masih sama seperti yang kamu kenal, dia masih sama seperti dulu wanita yang mampu mempertahankan dirinya, menjaga kehormatannya," jelas Alby sakit sekali rasanya saat mengucapkan kata-kata itu.
"Apa Mas Alby bilang cerai?" Revan yang tak percaya dengan ucapan Kakaknya.
"Iya, Mas dan Azmia akan berpisah mungkin memang ini adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua," jawab Alby.
"Semua pasti kesalahan, Mas Alby," ucap Revan.
"Iya, semua memang salah, Mas. Mas nggak bisa menjadi suami yang baik untuknya, tapi percayalah ada cinta di hati Mas untuknya meski tidak sebesar cintamu padanya," jelas Alby.
"Jika Mas cinta kenapa Mas Alby menyakitinya, kenapa nggak Mas perjuangankan cinta itu?"
"Azmia tak lagi memberikan kesempatan pada Mas," jawab Alby.
Revan terdiam otaknya mulai berkelana memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hingga pernikahan Kakaknya dengan wanita pujaan hatinya harus berakhir di meja pengadilan.
__ADS_1