
Sekitar pukul enam MUA sudah datang langsung menuju ruangan yang di pakai untuk make up.
Ada tiga orang yang bagian make up satu makeup pengantin yang dua orang lainnya makeup para pendamping dan orang tua.
"Mba, makeup nya natural saja ya. Saya tidak biasa pakai makeup," ucap Azmia pada MUA.
"Baik, Kak," balas MUA.
Satu jam Azmia selesai di makeup dan sudah berganti pakaian memakai baju seragam yang telah di berikan Melia.
"Masya'Allah, Kakaknya cantik sekali," puji MUA yang makeup Azmia saat melihat Azmia keluar ruang ganti.
"Mba bisa saja," balas Azmia dengan tersenyum ramah.
"Beneran Kak. Coba Kakak lihat di depan cermin," ucap MUA sambil menggandeng tangan Azmia menuju cermin besar yang bersandar di dekat jendela.
"Makasih ya, Mba sudah membuat saya terlihat secantik ini," ucap Azmia pada MUA.
"Sama-sama, Kak," balas MUA.
Setelah itu Azmia duduk di sofa menunggu Karina dan Melia yang masih di makeup.
Sambil menunggu kedua sahabatnya selesai Azmia memainkan ponselnya, mengambil gambar dirinya sendiri dan suasana di dalam ruangan.
Tak berselang lama Karina juga sudah selesai langsung menghampiri Azmia duduk di samping Azmia.
"Rin, aku pangling lihat kamu," ucap Azmia.
"Jangan ngeledek," balas Karina.
"Enggak, beneran hari ini kamu cantik banget, terlihat anggun," ujar Azmia dengan tersenyum kecil.
"Terimakasih pujiannya," balas Karina.
"Kira-kira pak Devan bakalan ngenalin kamu nggak ya, Mi." Karina berkata sambil berpikir karena memang Azmia tuh kalau sudah di makeup beda banget mungkin karena Azmia tidak pernah pakai makeup jadi saat di poles dikit juga langsung bikin pangling.
Kata orang kan begitu. Kalau tidak pernah dandan sekalinya di rias bikin pangling.
"Pasti ngenalin lah masa iya kagak kenal adiknya sendiri," balas Azmia.
"Ya kali gitu, Mi. Kita lihat saja nanti pasti pak Devan langsung tak berkedip, bengong lihat penampilan kamu seperti ini," ujar Karina. Karena ini adalah pertama kalinya Devan melihat Azmia ber-make up.
"Kamu ini ada-ada saja, Rin." Azmia tertawa kecil.
"Pada bahas apaan sih?" tanya Melia. Selesai di makeup dan memakai gaun pengantin Melia langsung menghampiri para sahabatnya. Saat ini dia butuh kedua sahabatnya di sampingnya untuk menenangkan dirinya yang gugup.
"Ini beneran kamu, Mel." Azmia dan Karina terpesona dengan kecantikan Melia yang begitu memancar. Melia terlihat begitu cantik dan sangat anggun.
__ADS_1
Gaun putih yang melekat di tubuhnya dan polesan make up yang mempu membuat Melia terlihat begitu berbeda dari biasanya.
Karina memutar tubuh Melia. "Beh ... saat melihat kamu Kak Derry pasti langsung klepek-klepek," ucap Karina.
"Kamu cantik banget, Mel," sambung Azmia.
"Ah ... kalian memang sahabat terbaik ku." Melia merangkul pundak ke dua sahabatnya.
"Kak acara akan segera di mulai." Salah satu tim WO memberitahu Melia.
"Iya, Kak," balas Melia.
"Silakan di lihat dari layar yang sudah kami siapkan!" Tim WO mempersilakan Melia untuk melihat pelaksanaan ijab kabul.
Azmia, Melia, dan Karina duduk bertiga sambil menatap layar yang berada di meja melihat keadaan di lantai bawah.
Melia menggenggam erat tangan Azmia dan Karina. Saat ini dia benar-benar gugup, jantungnya juga berdetak lebih cepat rasanya ingin keluar dari tempatnya.
***
Di lantai bawah.
Semua tamu undangan sudah datang dari pihak mempelai laki-laki pun sudah berada di lokasi.
Derry juga sudah duduk di kursi pelaminan untuk segera melaksanakan ijab kabul. Para saksi, wali, serta penghulu pun sudah siap.
"Bisa kita mulai acaranya?" tanya Penghulu.
"Bagaimana pengantin sudah siap?" Penghulu bertanya pada Derry.
"Insya'Allah sudah siap, Pak," jawab Derry.
"Baiklah. Kita mulai dan kita laksanakan acaranya sekarang." Penghulu menatap ke arah para saksi dan wali. Melihat tatapan penghulu mereka pun menganggukkan kepalanya pertanda mereka juga sudah siap.
Papi Melia dan Derry sudah berjabat tangan.
"Bismillah ....." Penghulu memulai.
Tak lama terdengar suara para saksi "sah" dengan satu tarikan nafas.
"Alhamdulillah." Suara para tamu undangan mengucapkan hamdalah.
Selesai ijab kabul penghulu menyuruh pengantin wanita untuk di hadirkan.
Tim WO yang berada di lantai bawah langsung memberikan perintah pada tim yang berada di lantai dua agar segera membawa turun pengantin wanita.
Azmia menggandeng tangan Melia sebelah kanan sedangkan Karina sebelah kiri. Mereka berjalan menuruni anak tangga menuju kursi pengantin.
__ADS_1
Bukan hanya pengantin wanita yang menjadi pusat perhatian, tapi juga kedua pendamping pengantin menjadi pusat perhatian para tamu pasalnya mereka bertiga begitu cantik.
"Itu sebelah kanan Meli siapa, Bin?" tanya Revan yang tak mengenali Azmia.
"Entah, gue juga nggak tau kan dari tadi kita berdua di sini," jawab Kabin.
"Si Mia kemana ya, kenapa tidak terlihat?" Revan bukannya fokus pada acara, tapi dia sibuk dengan urusannya sendiri yaitu mencari keberadaan Azmia. Revan menoleh ke seluruh ruangan, tapi tak menemukan sosok yang ia cari. Dia jadi merasa heran masa di hari pernikahan sahabatnya Azmia tidak hadir itukan tidak mungkin.
"Nanti kita cari setelah acara selesai," ucap Kabin agar Revan fokus ke acara.
"Ok," balas Revan.
Setelah mengantarkan Melia di kursi pengantin Azmia dan Karina duduk di kursi yang tak jauh dari pengantin.
"Silakan di cium tangan suaminya," ucap penghulu.
Melia pun mengikuti apa kata penghulu.
Selesai ritual acara ini itu. Kini tiba saatnya para keluarga mengucapkan selamat dan foto-foto.
Melia dan Derry sudah berpindah tempat duduk di kursi pelaminan. Karena ini hanya acar ijab dan temu keluarga jadi acara tidak begitu mewah. Dekorasi pelaminan pun cukup sederhana yang penting bagi mereka adalah acara berjalan dengan lancar.
Azmia dan Karina duduk berdua sambil menikmati cemilan yang ada.
"Karina. Azmia mana?" tanya Devan.
"Memangnya, Pak Devan belum ketemu Azmia?" Karina bukan menjawab dia malah bertanya balik.
"Belum, dari tadi saya cari tidak ketemu," jawab Devan.
"Oh ... begitu. Karina juga tidak lihat, Pak," ucap Karina.
"Saya kira tadi dia bersama kamu jadi pendamping pengantin, tapi ternyata tidak orangnya yang bersama kamu beda," jelas Devan.
Karina hanya membalas dengan senyuman. Ingin sekali dia tertawa ngakak, tapi tidak mungkin karena sedang banyak orang.
"Orangnya disini di cariin. Orangnya ada di depan mata," celetuk Azmia yang gemes dengan ucapan Devan. Masa iya Devan tidak mengenalinya.
Devan yang mendengar ucapan orang di depan Karina ia pun menoleh dan menatap wanita tersebut dengan seksama.
"Masih tidak mengenali adiknya sendiri." Azmia berkata dengan wajah cemberut.
"Ini beneran kamu, Dik?" Devan memegang kepala Azmia agar diam menatap kearahnya.
Azmia mengangguk.
"Masya'Allah bidadari Kakak hari ini cantik banget. Sekalian yuk! Dik," ucap Devan.
__ADS_1
"Sekalian kemana?" tanya Azmia yang tak mengerti.
"Itu mumpung masih ada penghulu," balas Devan dengan tersenyum manis.