Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 45


__ADS_3

"Hai, bengong aja." Melia yang baru datang mengagetkan Azmia.


"Hist, kau ini, untung saja aku nggak punya penyakit jantung," omel Azmia.


"He-he-he, ngapain sih ngelamun?" Melia duduk di samping Azmia.


"Siapa yang melamun, aku lagi menikmati angin pagi," jawab Azmia.


"Novel baru tuh?" tanya Melia saat melihat buku yang berada di tangan Azmia.


"Iya, kemarin baru datang," balas Azmia. "Karina mana?" Azmia yang tak melihat sahabatnya satu lagi.


"Karin lagi ijin sakit, barusan telpon," jelas Melia.


""Oh, yaudah kita langsung masuk yuk," ajak Azmia kemudian berdiri dari duduknya mengandeng tangan Melia berjalan menuju kelas.


"Mi, kamu nggak marah kan sama Aku?" tanya Melia.


"Untuk?" Azmia yang tak mengerti dengan pertanyaan Melia.

__ADS_1


"Aku bakalan nikah sama Kak Dery dalam waktu dekat ini. Aku tidak bisa menolak Nyokap. Kak Dery pun sama kita berdua sama-sama tak bisa menentang kemauan ke dua orang tua kita, tapi aku juga tidak mau menyakiti kamu Mi," jelas Melia.


Seketika Azmia langsung menghentikan langkahnya, menggenggam erat tangan Melia dan menatap kearah sahabatnya itu. "Mel, aku sudah bilang Aku sama Kak Dery tidak ada hubungan apapun jadi kamu tidak perlu menghawatirkan keadaan ku, lagi pula aku sudah memiliki pendamping hidup." Azmia terpaksa harus mengatakan itu supaya Melia tidak terus merasa kasihan padanya.


Padahal harusnya yang perlu di kasihani adalah Dery karena dia yang sedang galau.


"Namun, Mi __." Ucapan Melia harus terhenti karena Azmia memotongnya.


"Lakukan apa yang harus kamu jalani, ikuti kata hatimu," sahut Azmia.


Melia langsung memeluk Azmia.


Azmia menggeleng. "Suatu saat nanti aku akan kasih tahu," ucap Azmia.


Tak terasa kini mereka telah sampai di depan ruang kelas mereka pun masuk kemudian duduk di bangku masing-masing.


**


Di tempat lain.

__ADS_1


"Azmia, kemana, Al?" tanya Daffa.


"Kuliah, ngapain lu nanyain bini gua?" tanya Alby.


"Ciah, sekarang bilangnya istri. Apa Anda sudah tersadar Bapak Alby?" ledek Daffa sambil menatap kearah Alby dengan senyum mengejek.


"Lha kalau gua nggak sadar mati dong," balas Alby.


"Iya, hati lu yang mati," ucap Daffa dengan penegasan karena dulu Alby tidak pernah menganggap Azmia istri jangankan istri keberadaannya pun tak dianggap. Alby lebih fokus mencari kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang yang berada di sampingnya.


"Sahabat terlaknat kau." Alby yang kesal langsung melempar pulpen ke arah Daffa yang duduk di depannya. Menang sih waktu itu dia menganggap keberadaan Azmia karena dia di butakan oleh cinta. Entah yang sesungguhnya atau hanya obsesi belaka.


"Tidak kena," ledek Daffa karena dia berhasil menangkap pulpen yang Alby lempar ke arahnya. "Gua berharap dia nggak akan pernah kembali ke sini lagi supaya lu terus menganggap kehadiran Azmia di samping lu," lanjut Daffa.


"Gua akan selalu mencoba untuk mencintai Azmia," ucap Alby.


"Semoga saja lu nggak goyah meskipun dia kembali dan mencoba untuk merayu mu kembali. Al kita itu hidup ke depan bukan ke belakang. Jika masa depan kita lebih baik Kenapa harus kembali ke masa lalu," jelas Daffa. Dia tak pernah lelah terus mengingat kan Alby karena Daffa tidak ingin Alby menyesal di kemudian hari.


Alby hanya terdiam mendengar ucapan Daffa. Sebenarnya dia juga takut terpengaruh lagi dengan godaan Elvina, tapi dia akan tetap berusaha untuk menahan diri dari godaan syaitan nirojim.

__ADS_1


__ADS_2