Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 295 Jujur


__ADS_3

Hari demi hari Azmia dan Revan di sibukkan dengan persiapan pernikahan mereka dari mulai fitting baju, milih cincin, MUA, pesan undangan, sovenir, survei lokasi dll.


"Apa semua seragam sudah di berikan pada keluarga, Mas?" tanya Azmia pada Ali.


"Sudah semua, Dik. Besok tinggal ambil undangan dan sovenir," jawab Ali.


"Alhamdulillah, Mas, Mia pengen ke cafe temenin yuk, biar di ijinin Mama dan Papa," ucap Azmia.


"Mau ngapain ke cafe?" tanya Ali.


"Ada yang harus Mia kerjakan di sana," jawab Azmia.


"Harus sekarang?"


"Iya, ini penting, Mas ayolah!" Azmia menarik-narik lengan Ali supaya Ali mau menemaninya ke cafe.


"Iya-iya." Ali pun menyetujui ajakan adiknya kemudian mereka berdiri dari duduknya berjalan keluar dari ruang kerja Ali menuju lantai bawah.


"Selamat malam Ma, Pa," sapa Azmia dan Ali saat tiba di ruang keluarga.


"Malam juga, Sayang," balas Mama Iren dan Papa Ari.


"Kalian mau kemana rapi gitu?" tanya Mama Iren.


"Keluar sebentar, Ma," jawab Ali.


"Kamu kan tahu adikmu nggak boleh sering-sering keluar," ujar Mama Iren.


"Sebentar duang kok, Ma kasihan kalau di kurung terus nanti stres," balas Ali.


"Benar kata Ali, Ma. Biarkan mereka keluar sebentar," sahut Papa Ari.


"Baiklah, tapi ingat jangan lama-lama," ucap Mama Iren mengingatkan pada kedua anaknya.


"Siap, Kanjeng Mami," balas Ali dan Ali.


Setelah meminta ijin kepada kedua orangtuanya Ali dan Azmia berjalan keluar rumah menuju garasi mengambil mobil.


"


*


*


Di tempat lain


Gazebo samping rumah menjadi tempat pilihan untuk bersantai ibu dan anak. Mereka mengobrol di temani secangkir teh dan beberapa cemilan.


"Ma, selama Rania pergi apa Azmia dan Mas Alby pernah ke sini?" tanya Rania.


"Tidak, bahkan sampai sekarang Mama tak pernah berjumpa dengan Azmia," jawab Mama Sonia.


"Oh, kira-kira mereka rujuk kembali apa enggak ya, Ma?"


"Mama juga tidak tahu, sayang. Sekarang kamu tidak perlu lagi memikirkan mereka jalani saja hidupmu sendiri. Kapan kamu akan memperkenalkan calon mantu pada Mama?" tanya Mama Sonia.


"Secepatnya, Ma," jawab Rania.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mama senang dengarnya," ucap Mama Sonia.


*


*


*


Di cafe cinta


Sesampainya di cafe Azmia mengajak Ali segera masuk ke dalam cafe.


"Assalamualaikum," ucap Azmia saat tiba di depan kasir.


"Wa'alaikumussalam," balas Nina.


"Gimana, Nin?" tanya Azmia.


"Nina juga nggak ngerti, Mba," jawab Nina.


"Baiklah kalau begitu kamu ikut saya ke ruangan," ucap Azmia.


"Iya, Mba," balas Nina.


"Kenapa, Dek ada masalah?" tanya Ali saat melihat ekspresi wajah Azmia dan Nina gelisah seperti terjadi sesuatu.


"Tidak, Mas," jawab Azmia.


Azmia dan Nina berjalan menuju ruang Azmia di ikuti Ali dari belakang.


Sesampainya di ruangan Azmia bergegas masuk langsung menuju meja kerjanya, Nina pun mengikuti langkah Azmia kemudian dia duduk di kursi depan Azmia tanpa menunggu di suruh Azmia. Sedangkan Ali merasa bingung saat masuk kedalam ruangan pandangannya menatap setiap sudut ruangan.


"Iya, Dek," balas Ali.


"Nin, sejak kapan kalian tahu?" tanya Azmia.


"Baru tadi sore, Mba saat Pras ke gudang belakang untuk mengambil stok barang," jawab Nina.


"Kalau gitu kita lihat cctv arah ke gudang belakang," ucap Azmia sambil mengotak-atik layar laptopnya.


"Memangnya, Mba Mia nggak cek cctv?" tanya Nina.


"Beberapa hari ini saya kan lagi banyak kerjaan jadi nggak sempat cek cctv," jawab Azmia. Biasanya hampir setiap malam sebelum tidur Azmia selalu mengecek cctv cafe lewat ponselnya, tapi sudah hampir tiga hari dia nggak cek cctv karena sibuk menyiapkan acara pernikahannya.


"Mba lihat dengan teliti yang hari minggu," ucap Nina.


"Ok." Azmia langsung memutar cctv hari minggu.


"Nin, siapa dia?" tanya Azmia sambil menunjuk ke arah layar laptop.


"Dia itu kurir yang mengirim barang, Mba," jawab Nina.


"Kalau begitu kamu segera telpon ke kantornya saja, karena hari minggu hanya dia yang mengirim barang," ujar Azmia.


"Baik, Mba," balas Nina.


"Kalau begitu Nina permisi dulu ya, Mba," pamit Nina.

__ADS_1


"Iya."


Setelah kepergian Nina, Ali langsung beranjak dari duduknya menghampiri Azmia.


"Boleh jelasin yang sebenarnya pada Masmu ini," ucap Ali.


"Maksud, Mas?" tanya Azmia yang tak mengerti dengan pertanyaan Ali.


"Enggak mungkin kan seorang asisten bos ruangannya senyaman ini," ucap Ali. Dia merasa sedikit aneh setelah melihat ruangan Azmia yang seperti ruangan bos besar karena ruangannya lumayan luas, terus di dalam terpampang banyak foto Azmia, terdapat ruang pribadi, sofa, serta toilet khusus.


Azmia terdiam dia memikirkan haruskah dia menceritakan identitas dia yang sebenarnya pada Ali.


'Duh, gara-gara terburu-buru jadi lupa kan kalau sama Mas Ali, mungkin memang sekarang saatnya kali ya, aku jujur ke Mas Ali, lagi pula nggak ada salahnya aku bilang yang sebenarnya toh dia kan Kakakku sendiri,' batin Azmia masih memikirkan haruskah dia jujur atau tidak.


"Kenapa diam saja, Dek?" tanya Ali.


"Ah ... tidak apa-apa. Memangnya ada yang salah dengan ruangan Azmia ya Mas?" Azmia balik bertanya.


"Iya, feeling Mas sih kuat kalau ini bukanlah ruangan asisten," balas Ali.


"Mas, benar ini memang bukan ruangan asisten, tapi __." Azmia menahan ucapannya.


"Ruangan bos pemilik cafe ini," sambung Ali.


Azmia mengangguk.


"Kan benar feeling, Mas. Kenapa, kamu tidak jujur dari awal?" Ali mulai mengintrogasi Adiknya.


"Mia tidak ingin semua orang tahu. Mia lebih nyaman dengan status Mia yang hanya karyawan di cafe ini," jelas Azmia.


"Jadi tak ada yang tahu tentang identitas kamu yang sebenarnya?" tanya Ali.


"Hanya beberapa orang yang tahu, seperti Karina, Melia, Kak Revan, terus para karyawan lama, tapi karyawan tahunya juga Mia asisten bos kecuali Nina, dia sudah mengetahui semuanya karena Nina yang membantu Mia dari awal cafe mulai buka,/," jelas Azmia.


"Terus Alby tak mengetahui identitas kamu?" tanya Ali.


"Tidak, Mas Alby tahunya Mia seorang karyawan di sini," jawab Azmia.


"Sungguh pandai sekali kamu menyembunyikan indentitas mu sampai saat ini," ujar Ali.


"Karena ada Bang Angga yang selalu bisa di andalkan. Lagi pula cafe ini juga hadiah dari Mami, Papi dan Abang saat Mia menginjak tujuh belas tahun, karena Mia ingin mandiri jadi Papi dan Bang Angga memberikan modal usaha untuk Mia jadilah ini." Azmia menceritakan asal mula cafe ini berdiri.


"Mereka lebih menyayangimu dari orang tua angkat mu," ucap Ali.


"Itu tidak perlu di bahas, Mas. Papa prabu dan Mama Sonia juga menyayangi Mia kok, karena berkat mereka Mia menjadi sosok yang mandiri," balas Azmia.


"Anak hebat, Mas bangga padamu," ujar Ali.


"Oh, iya tadi ada masalah dengan cafe?" tanya Ali.


"Hanya masalah kecil dalam gudang, ada beberapa barang yang di kirim ternyata tidak layak untuk di konsumsi, jadi Mia cek dari cctv pengirim terakhir ke cafe," jawab Azmia.


"Apa sudah ketemu?" tanya Ali.


"Sudah, Mas," jawab Azmia.


"Syukurlah kalau begitu. Jangan terlalu di pikirkan karena kamu harus fokus pada pernikahan mu yang sebentar lagi," ucap Ali.

__ADS_1


"Siap, Pak Bos," balas Azmia dengan tersenyum manis.


__ADS_2