
"Sini biar Mas bantu," ucap seseorang dari belakang.
Mendengar ada suara Azmia menoleh ke belakang. "Mas Alby," ujar Azmia sedikit canggung.
"Sini biar Mas saja yang bawa." Alby ingin mengambil alih nampan yang berisi makanan dari tangan Azmia, tapi Azmia menolaknya.
"Tidak perlu sungkan sekarang kan saya jadi Kakak ipar kamu. Sudahlah biar Mas saja kamu ke sana aja gabung dengan yang lain," ucap Alby.
Azmia hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian dia berjalan keluar rumah menuju lokasi acara.
"Kamu dari mana, Mi?" tanya Karina saat Azmia tiba di depannya.
"Ambil kue buat cemilan sambil menunggu semua bakar-membakar selesai," jawab Azmia.
"Mana kuenya?" tanya Karina.
"Di bawa Mas Alby," jawab Azmia.
"Karina dan Melia salin pandang
"Jangan mikir macam-macam," ucap Azmia. Dia tahu betul isi o*ak kedua sahabatnya itu.
"Enggak, Mi," balas Melia dengan tersenyum manis.
"Tadi saat aku ngambil kue di dapur kebetulan ada Mas Albi mau keluar, terus dia berniat membantuku dengan membawa kue tersebut." Azmia menjelaskan pada ke dua sahabatnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Oh." Karina dan Melia mengangguk tanda mengerti.
"Selamat malam, Mbak Mia," sapa para karyawan yang baru datang langsung menghampiri Azmia.
"Malam juga, kalian baru sampai?" tanya Azmia.
"Iya, mbak, tadi kami membersihkan cafe terlebih dulu untuk persiapan besok kita buka lagi," jawab Nina.
"Cafe buka hari senin saja, Nin," ucap Azmia.
"Memangnya kenapa nggak jadi besok, kita kan sudah libur lama, Mba?" tanya Nina.
"Takut nanti pulang dari sini capek, biar besok kalian bisa istirahat seharian," jawab Azmia.
"Mba Mia memang terbaik," ucap Nina sambil mengacungkan jempol ke arah Azmia.
__ADS_1
"Kalian kenapa hanya berlima yang lain mana?" tanya Azmia.
"Ada di belakang, Mba. Mereka bawa mobil," jawab Nina, karena Nina dan ke empat karyawan lain naik motor jadi mereka tiba lebih dulu.
"Oh, kirain mereka nggak datang," ucap Azmia.
"Pasti datang dong, Mbak, ini kan acara spesial bos kita," balas Nina.
"Hust ... Jangan kencang-kenceng takut ada yang dengar." Azmia berkata sambil menutup mulutnya dengan jarinya.
"Hehehe maaf, Mbak lupa. Mbak emang nggak mau diresmiin sekalian?" tanya Nina.
"Belum saatnya," jawab Azmia.
"Dari awal buka sampai sekarang punya cabang masih belum tiba waktunya, Mba?"
"Belum, masih banyak yang harus di pertimbangkan sebelum meresmikan itu," jawab Azmia.
"Oh, gitu iya deh terserah, Mbak Mia aja lah," ucap Nina.
"Ada yang bisa kami bantu nggak, Mbak?" tanya Nina.
"Enggak, ada. Kalian duduk aja atau makan tuh kue yang sudah disediakan," jawab Azmia.
"Dek," panggil Angga.
"Iya, Bang," jawab Azmia.
"Bisa ikut Abang sebentar ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu," ucap Angga.
"Siapa?" tanya Azmia.
"Ada deh, Kamu ikut Abang aja," jawab Angga.
"Jadi penasaran," ucap Azmia.
"Ayo!" Angga mengajak Azmia untuk menemui orang tersebut.
"Tunggu sebentar!" ucap Azmia.
"Aku tinggal sebentar ya guys," pamit Azmia pada ke dua sahabatnya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Karina.
"Ada urusan sebentar sama Bang Angga," jawab Azmia.
"Oke," ucap Karina dan Melia.
Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya Angga membawa Azmia ke arah parkiran mobil yang tak jauh dari pintu gerbang rumah.
"Kok kesini?" tanya Azmia.
"Iya, Dia sengaja minta ketemu di sini," jawab Angga.
"Abang nggak sedang jebak Mia kan?" tanya Azmia.
"Enggak. Sekarang kamu tutup mata dulu!" Angga menyuruh Azmia agar menutup matanya.
"Baiklah." Azmia mulai menutup mata dengan menggunakan kedua telapak tangannya.
Sesaat kemudian Azmia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya, karena merasa takut Azmia bertanya pada Angga apakah dia sudah boleh membuka matanya atau belum. "Abang, udah belum, Mia buka sekarang ya?" tanya Azmia, setelah mendengar langkah tersebut berhenti di depannya.
"Abang hitung sampai tiga ya, setelah itu baru boleh buka matanya," ucap Angga.
"Ok," balas Azmia.
Angga mulai berhitung dari satu sampai tiga, setelah hitungan ke tiga Azmia dengan perlahan membuka kedua tangan yang menutupi matanya. "Siapa ini?" tanya Azmia pada Angga, saat melihat seseorang dengan wajah di tutupi buket berdiri di hadapannya.
Angga hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
Saat Azmia menatap ke arah Angga yang berada di sampingnya, tiba-tiba orang yang berdiri di hadapan Azmia membuka buket yang menutupi wajahnya dengan berkata. "Surprise." Sontak Azmia pun langsung menatap ke arah sumber suara. "Kak Devan," ucap Azmia dengan mata berbinar. Dia sangat bahagia sekali karena di hari kebahagiaannya bisa berkumpul bersama para keluarga, sahabat dan semau orang yang menyayanginya.
"Selamat malam bidadari kecil ku," sapa Devan sambil memberikan buket bunga pada Azmia.
"Terima kasih, Kak," ucap Azmia sambil menerima buket pemberian Devan.
"Sama-sama. Maaf kan Kakak karena baru bisa hadir sekarang," ujar Devan.
"Enggak apa, yang penting sekarang Kakak bisa hadir di hari spesial ini," balas Azmia.
"Oh, iya, Kakak kapan tiba di Indonesia?" tanya Azmia.
"Tadi sore," jawab Devan.
__ADS_1
"Kalau begitu, Kakak harus makan yang banyak supaya lelahnya hilang," ucap Azmia kemudian mengajak Devan dan Angga untuk ke lokasi acara. "Tidak ada penolakan," lanjut Azmia sebelum Devan berbicara. Akhirnya Devan pun pasrah mengikuti adik kecilnya.
Sesampainya di tempat Azmia memperkenalkan Devan pada kedua orangtuanya dan suaminya. Setelah perkenalan Azmia memberikan beberapa cemilan dan makanan pada Devan, mereka duduk bersama pada satu meja.