
Pagi hari saat Melia membuka layar ponselnya ternyata banyak notifikasi masuk. Melia langsung syok saat membaca pesan chat yang di kirim para sahabatnya. Dia langsung berlari mencari keberadaan Mamanya.
Melia menuju kamar Mamanya, tapi tak menemukan keberadaan Mama Lia, selanjutnya Melia berlari menuju ruang kerja sang Mama, tapi Mama Lia tidak ada juga. Kemudian Azmia menuju ruang keluarga disinilah baru dia menemukan Mamanya yang sedang santai menikmati acara televisi.
"Ma, ini bagaimana, Ma?" Melia bertanya dengan suara yang sudah bergetar karena syok. "Bagaimana acara kita nanti? ini sudah tinggal tiga hari lagi tidak mungkin dengan waktu sesingkat itu kita bisa booking tempat," ucap Melia.
"Tenang dulu, Mel. Duduk dulu!" Mama Lia menyuruh Melia agar duduk terlebih dahulu.
Melia pun mengikuti apa kata Mamanya. Melia duduk di samping sang Mama.
"Nanti kita cari solusi bersama ini semua kan musibah. Kita juga tidak tahu jika akan seperti ini. Semoga secepatnya ada jalan keluar." Mama Lia berkata sambil mengelus lembut punggung Melia mencoba menenangkan putrinya.
"Namun, ini tinggal tiga hari lagi, Ma. Undangan juga sudah tersebar, bagaimana kita mengatasinya?" Hari ini juga rasanya Melia ingin sekali berteriak dengan kencang. Hanya tinggal tiga hari lagi acara pernikahan mereka akan di laksanakan, tapi manusia hanya bisa berencana Allah-lah yang menentukan. Tepat pukul dua dini hari hotel yang akan di pakai untuk acara ijab kabul Melia dan Derry terjadi kebakaran mengakibatkan pihak hotel menutup hotel sementara waktu hingga selesai di renovasi.
Ingin rasanya marah, tapi pada siapa. Menangis juga percuma semua tidak akan kembali seperti semula, saat ini hanya otaknya yang harus bekerja keras untuk mencari tempat yang tepat untuk acara ijab kabulnya.
Di saat di landa kegelisahan otak tak bisa berpikir dengan jernih sehingga membuatnya pusing tujuh keliling.
Drttt
Bunyi ponsel Melia yang menandakan ada telpon masuk. Melia segera mengangkat menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
"Iya, Mi," ucap Melia.
__ADS_1
"........."
"Iya, Mi. Aku juga tidak tahu pasti kejadiannya karena belum ke lokasi hanya tadi lihat berita dan juga mendapat telpon dari pihak hotel memberi tahu jika hotel akan di tutup sementara," jelas Melia
"......."
"Aku belum tahu, Mi ini lagi pusing cari tempat pengganti karena kan cari tempat tidak semudah itu, apalagi ini tinggal tiga hari lagi.
"......."
"Wah, iya kenapa aku tidak kepikiran ke situ ya. Baiklah, Mi nanti siang kita survei kesana bersama WO," ucap Melia dengan semangat. Akhirnya ada jalan keluar mudah-mudahan cocok jadi
"Iya, Mel," balas Azmia. Setelah itu Azmia memutuskan sambungan telponnya.
"Dimana, Mel?" tanya Mama.
"Tidak jauh dari sini, Ma. Nanti, Mel akan survei terlebih dahulu bersama tim WO," ujar Melia
"Baiklah, Mama jadi lega," balas Mamanya.
"Mel, masuk kamar dulu ya Ma," ucap Melia.
"Iya," balas Mama Lia.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Mamanya Melia berdiri dari duduknya berjalan menuju kamar.
Sesampainya di kamar Melia duduk di sofa sambil memegangi ponselnya memberikan kabar pada Derry jika dia sudah mendapatkan tempat pengganti untuk acara ijab kabul.
****
Di kantor
Alby dan Daffa duduk berhadapan di ruang kerja Alby.
"Al, gimana Mia sudah pulang?" tanya Daffa.
"Belum," jawab Alby.
Hampir setiap hari pertanyaan itu yang selalu Daffa tanyakan. Daffa tak pernah lelah menanyakan kabar Bu bosnya. Daffa juga sangat berharap Azmia kembali menyelesaikan semuanya agar tidak seperti saat ini hubungan yang tidak jelas.
Alby juga sampai saat ini masih belum juga meresmikan hubungannya antara berpisah atau tidak.
"Surat sudah kamu tandatangani, Al?" tanya Daffa.
"Belum, aku tidak ingin menyelesaikan masalah seperti ini aku ingin kita menyelesaikan semua dengan baik-baik," jawab Alby.
"Kita jangan menyerah untuk terus mencari Azmia. Apa lu tidak mengetahui tempat yang sering di kunjungi Azmia selain cafe cinta?" tanya Daffa. Hampir setiap hari Daffa selalu meluangkan waktu untuk mampir ke cafe, tapi tidak sekali pun melihat Azmia di sana.
__ADS_1
"Tidak," jawab Alby. Karena Azmia dan Alby jarang sekali pergi berdua selain cafe, restoran dan taman.