
Malam hari
Sesuai janji Karina, Daffa dan Alby kini berkunjung ke rumah Azmia.
"Assalamualaikum," ucap Karina, Daffa dan Alby bersama.
"Wa'alaikumussalam," balas Mbok Asih sambil membukakan pintu.
"Aden." Mbok Asih sedikit terkejut saat membuka pintu ternyata mantan majikannya.
"Mbok. Bagaimana kabar, Mbok Asih?" tanya Alby sambil menyalami mantan artnya.
"Alhamdulillah sehat, Den," balas Mbok Asih.
"Mari masuk!" Mbok Asih mempersilakan tamu masuk ke dalam.
"Azmia ada, Mbok?" tanya Karina.
"Ada, Non tunggu sebentar ya si Mbok panggilkan dulu," jawab Mbok Asih.
"Iya, Mbok."
Setelah mempersilakan tamunya masuk dan duduk Mbok Asih pamit memanggilkan Azmia yang berada di kamarnya.
"Permisi, Non," ucap Mbok Asih di depan pintu kamar Azmia.
"Iya, Mbok," balas Azmia dari dalam.
"Ada apa, Mbok?" tanya Azmia setelah membukakan pintu.
__ADS_1
"Di bawah ada Non Karina," jawab Mbok Asih.
"Iya, Mbok suruh tunggu dulu ya," ujar Azmia.
"Baik, Non." Setelah memberitahu majikannya Mbok Asih kembali ke lantai satu menuju dapur membuatkan minum untuk tamu.
"Kak, di bawah ada Karina," ucap Azmia memberi tahu suaminya.
"Karina sama Kak Daffa?" tanya Revan.
"Mungkin, Mia belum lihat," jawab Azmia.
"Turun yuk!" Azmia mengajak Revan menemui tamunya.
"Baiklah." Revan setuju ikut istrinya menemui Karina.
"Alnia biar Kakak yang gendong," ucap Revan.
'Kenapa Karina nggak bilang ya kalau dia bersama Mas Alby juga,' batin Azmia saat melihat ada mantan suaminya di ruang tamu.
"Maaf, menunggu lama," ucap Azmia saat tiba di ruang tamu.
"Enggak apa kok, Mi," balas Karina.
Azmia dan Revan menyalami para tamunya kemudian duduk bergabung bersama.
"Hallo, sayang." Karina mencolek pipi Alni.
"Kak, boleh Karin gendong?"
__ADS_1
"Boleh." Revan memberikan Alnia pada Karina.
"Silakan di minum, Kak!" Revan mempersilakan Daffa dan juga Alby minum.
"Iya," balas keduanya.
"Rin, boleh saya gendong Alnia?" tanya Alby.
"Iya, Mas," jawab Karina. "Nia, ikut Papa Alby ya," ucap Karina sebelum memberikan Karina pada Alby.
Alby mengambil alih Alnia dari gendongan Karina. Alby memandangi wajah putrinya kemudian menciumi wajah putri semata wayangnya yang sangat ia rindukan.
'Papa sangat merindukanmu, sayang. Maafkan Papa hanya bisa sesekali menemui mu. Semoga kamu selalu sehat ya, Nak tambah pinter. Nanti kalau Nia sudah besar Papa akan ajak Nia ke makam Mama Nila. Mama Nila pasti akan senang melihatmu berkunjung ke makamnya,' batin Alby sambil menatap wajah putrinya.
Merasa keadaan kurang nyaman Azmia mengajak Karina untuk ngobrol di ruang keluarga.
"Kamu kenapa tidak bilang kalau kesini bersama Mas Alby?" tanya Azmia to the poin.
"Memangnya kenapa?" Karina balik pada Azmia.
"Ya enggak apa sih, cuma kan aku jadi nggak enak sama Kak Revan, karena aku tahunya kamu sama kak Daffa yang main kesini, tadi aku bilang ke Kak Revan Kamu yang main, eh ... ternyata ada Mas Alby juga." Azmia bukan tidak memperbolehkan Alby main ke rumah Mia, hanya saja jika ada info lebih awal dia pasti akan bilang ke suaminya kalau seperti ini Azmia takut di kira berbohong, padahal dia juga tak mengetahui kalau Alby ikut main juga.
"Kak Revan pasti mengerti kok," balas Karina.
"Mas Alby katanya kangen Alnia makanya Kak Daffa ngajak main ke rumah mu. Kalau hanya Mas Alby yang main kesini pasti kamu nggak nyaman makanya Kak Daffa ngajak aku sekalian supaya sama-sama enak," ujar Karina.
"Pastilah kangen. Orang tua mana yang nggak kangen sama anaknya. Apalagi Alnia putri pertama, anak yang di nanti-nantikan, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Allah tidak mentakdirkan mereka hidup bersama dalam satu atap," balas Azmia.
__ADS_1
"Kasihan ya, Mi," ucap Karina.
Azmia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.