
'Apa kini sudah saatnya aku harus berkata jujur pada mereka, menceritakan kenyataan yang ada supaya mereka tidak salah paham terus menerus. Tapi aku masih ragu,' batin Azmia.
**
"Apa hari ini kamu ada acara lagi?" tanya Alby pada Azmia kini mereka sedang menikmati sarapan bersama.
"Tidak, Mas. Mia hanya ingin ke cafe membahas tentang rencana pembangunan cafe cabang," jawab Azmia sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ketemuan sama Bagas?"
"Tidak. Mia hanya diskusi sama Bang Angga di cafe," balas Azmia dengan jujur. Hari ini memang dia akan bertemu Angga membahas pembangunan cafe, kebetulan Angga lagi tidak banyak kerjaan.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Alby kemudian dia menghabiskan makanannya.
"Apa perlu aku antar?" tanya Alby sebelum berangkat kerja.
"Tidak perlu, Mas. Mia bisa bawa motor sendiri." Bukan menolak ajakan suaminya, tapi ini masih terlalu pagi.
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat terlebih dahulu," pamit Alby.
"Hati-hati di jalan." Azmia mencium punggung tangan suaminya.
Setelah mobil Alby keluar parkiran Azmia kembali masuk ke dalam, ia merapikan meja makan, mencuci peralatan dapur yang kotor. Selesai urusan dapur Azmia kembali ke kamar menyiapkan perlengkapan yang akan dia bawa.
Pukul sembilan Azmia berangkat ke cafe. Tak butuh lama untuk sampai di cafe karena jalanan tidak terlalu ramai.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Azmia saat melewati kasir.
"Wa'alaikumussalam, Mba," balas Nina.
"Nin, nanti kalau ada Pak Angga langsung suruh ke ruangan saya saja ya," ujar Azmia.
"Iya, Mba."
Azmia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan, sampai di ruangan Azmia duduk di kursi kebesarannya, sambil menunggu Angga datang Azmia memilih membuka layar laptop mengecek beberapa laporan dan stok barang.
Tak berselang lama orang yang di tunggu-tunggu pun datang. "Assalamualaikum," ucap Angga sambil masuk kedalam.
"Wa'alaikumussalam," balas Azmia.
"Apaan sih, Abang," balas Azmia.
"Banyak kerjaan?" tanya Angga.
"Tidak, hanya cek barang saja," jawab Azmia.
"Oh."
Azmia menutup laptopnya kemudian menatap kearah Angga.
"Abang dari kantor, apa dari rumah?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Dari rumah," jawab Angga dengan tersenyum kecil.
"Kebiasaan," ujar Azmia. Angga memang selalu saja seperti itu cuma demi adik kecilnya dia rela melakukan apapun. Terkadang sampai membatalkan janji dengan kliennya demi Azmia.
Pernah pada suatu hari saat Angga ingin pergi bertemu klien, tapi saat ingin berangkat tiba-tiba Azmia menelponnya karena ban motornya bocor di jalan, sedangkan jalanan tersebut sangat sepi akhirnya Azmia menelpon Angga meminta bantuan mendapatkan telpon sang adik dia langsung bergegas pergi membatalkan rapat begitu saja.
"Kamu sudah yakin dengan tempat yang akan di jadikan cafe cabang?" tanya Angga.
"Insya'Allah, yakin," jawab Azmia.
"Menurut, Abang gimana?" Azmia bertanya balik.
"Abang terserah kamu saja, kalau menurut kamu baik ya sudah." Angga tahu Azmia bukan orang yang gegabah dalam mengambil keputusan, semua pasti sudah dia pikirkan.
"Apa Alby sudah mengetahui semuanya?" tanya Angga.
Azmia menggeleng menandakan bahwa Alby belum mengetahui tentang Azmia.
"Kenapa?" Angga menatap kearah Azmia.
"Biarkan waktu yang memberi tahu semuanya." Entah kenapa Azmia masih tak ingin memberi tahu identitas dirinya sekalipun itu pada suaminya sendiri.
"Namun, alangkah baiknya jika kamu sendiri yang memberi tahu dari pada dia mengetahui dari mulut orang lain," jelas Angga.
Azmia hanya diam memikirkan ucapan Abangnya. Perkataan Angga memang ada benarnya, tapi dia masih memikirkannya lagi.
__ADS_1