
Setelah pergi meninggalkan Rania. Azmia berjalan masuk ke dalam ruangannya merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di dalam ruangan.
'Apa sih salah ku pada kalian? Kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini. Aku selalu berusaha menjadi apa yang kalian inginkan, tapi selalu saja salah di mata kalian. Aku bagaikan boneka mainan kalian,' batin Azmia. Lelah itulah yang ia rasakan ingin rasanya dia pergi jauh dan tak kembali lagi, tapi disisi lain dia harus bisa buktikan pada keluarga Pranata bahwa dia bisa berdiri sendiri tanpa mereka.
Malam hari Azmia memilih pulang ke rumah dan bertemu dengan Alby untuk menyelesaikan semua masalahnya.
"Assalamualaikum," ucap Azmia di depan pintu kamar Alby.
"Wa'alaikumussalam, masuk saja, Mi," balas Alby dari dalam kamar.
Setelah mendengar jawaban Alby, Azmia membuka pintu masuk ke dalam kamar Alby. "Maaf, Mas apa Mia mengganggu?" tanya Azmia karena melihat Alby menatap layar laptopnya dengan serius.
__ADS_1
"Tidak. Duduklah!" Alby mempersilakan Azmia duduk di sofa.
Azmia mengangguk kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Alby.
"Ada apa?" tanya Alby masih sibuk dengan laptop di depannya.
"Mia, ingin membahas hubungan kita, Mas. Mia, hanya ingin Mas Alby mendatangi surat ini." Azmia menyodorkan amplop putih pada Alby.
"Mas Alby cukup tanda tangan saja. Maafkan Mia, Mas harus memilih pergi karena tidak mungkin juga untuk kita bertahan. Mia harap Mas Alby bersedia mendatangani surat ini dengan cepat agar prosesnya segera terlaksana," ucap Azmia.
Alby menutup laptopnya mengambil amplop putih yang berada di meja kemudian Alby membuka amplop tersebut. Alby hanya bisa menghela nafasnya.
__ADS_1
"Ini apa, Mia, kenapa kamu melakukan ini?" Alby tak menyangka Azmia bisa bertindak seperti ini. Alby pikir Azmia hanya marah seperti biasa dan akan kembali jika sudah adem hatinya, tapi ternyata dugaannya kini salah. Azmia bukan hanya sekedar memberikan peringatan, tapi juga membuktikan omongannya.
"Mas, Mia sudah lelah, maafkan Mia jika punya banyak salah, terima kasih untuk waktunya selama satu tahun ini. Mas, Mia berharap Mas Alby bisa bahagia bersama Kak Rania. Oh ... iya surat itu nanti bisa Mas Alby titipkan di cafe dan sekalian Mia ingin pamit pergi dari sini. Terima kasih untuk semuanya, Mas," ucap Azmia sebelum pergi keluar dari kamar Alby.
"Mia, tunggu!" ujar Alby.
Azmia yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya.
"Azmia, tolong jangan pergi, aku nggak mau jauh dari kamu, Mia. Mas sayang sama kamu, Mia. Mas akan pernah bisa jauh dari kamu. Tolong berikan kesempatan lagi, Mas janji nggak akan mengulanginya lagi." Alby memegang tangan Azmia.
"Maafkan Mia, Mas. Ini sudah keputusan final, Mia. Jaga diri Mas baik-baik ya." Terasa sakit saat mengucapkan kata-kata itu, tapi mau tidak mau Azmia harus pergi dari pada keluarganya terus memarahinya belum lagi rasa sakit yang Alby goreskan di hatinya. Azmia berlari kecil keluar dari kamar Alby air mata mengalir begitu deras, hatinya begitu sesak. Azmia berlari masuk kedalam kamarnya sampai di kamar dia menutup pintunya kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur menangis sesenggukan. Membayangkan nasib pernikahannya yang sebentar lagi akan berakhir. Pernikahan yang ia impikan hidup bahagia bersama pilihan hatinya sirna begitu saja, sebentar lagi dia akan menyandang status jamtik (janda muda cantik).
__ADS_1