
Di kediaman Alby
Setelah selesai mengerjakan perkejaan rumah Mbok Asih membantu suaminya yang sedang membersihkan kebun di samping rumah.
Mereka mengobrol sambil melakukan pekerjaannya.
"Bagaimana, Bu?" tanya Mang Udin.
"Apanya yang gimana, Pak?" Mbok Asih balik bertanya.
"Itu gimana Aden kasih ijin nggak, kalau besok kita cuti." Mang Udin memperjelas pertanyaannya.
"Oh, itu. Aden mah ngasih ijin, Pak, tapi ya biasa itu istrinya nggak ngebolehin akhirnya non Nila berantem sama Aden. Pusing Ibu sama dia kalau terus bertahan di sini Ibu bisa kena penyakit darah tinggi, Pak," jelas Mbok Asih.
"Yang sabar ya, Bu. Mudah-mudahan besok kita bisa langsung mendapatkan pekerjaan," ucap Mang Udin.
"Amin." Mbok Asih mengaminkan doa suaminya.
"Oh, iya, Ibu kan punya nomor Non Mia kenapa nggak coba hubungi dia." Mang Udin memberikan saran.
"Nomornya sih aktif, tapi waktu itu pernah telpon yang angkat bukan Non Mia suaranya beda, Pak," balas Mbok Asih.
"Kenapa Ibu nggak coba tanya saja di mana Non Mia," ucap Mang Udin.
__ADS_1
"Nanti ibu coba tanyain deh, Pak," balas Mbok Asih.
"Iya, Bu barang kali dia bisa bantu kita bertemu dengan Non Mia," ujar Mang Udin.
"Mudah-mudahan ya, Pak," balas Mbok Asih.
"Ngerumpi terus. Kalian di sini di bayar untuk bekerja ya, bukan ngerumpi," cerocos Nila.
"Kita nggak ngerumpi, Non. Memangnya, Non Nila nggak lihat kita lagi bersih-bersih," balas Mang Udin.
"Berani melawan ya kamu," ucap Nila dengan nada yang sedikit tinggi sambil tangannya menunjuk ke arah Mang Udin.
"Sudahlah, Pak." Mbok Asih berusaha menghentikan perdebatan antara suami dengan majikannya.
"Dasar pembantu nggak tahu di untung awas saja kalian akan tahu balasannya karena sudah berani melawan saya," tegas Nila kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
"Enggak bisa begitu, Bu, meskipun kita orang miskin, tapi kita juga punya harga diri," balas Mang Udin.
"Bapak kan tahu sifat Non Nila memang seperti itu jadi buat apa di ladenin yang ada bikin sakit hati duang," ujar Mbok Asih karena percuma melawan orang yang memang dasarnya memiliki mulut cabe rawit.
"Iya sih, Bu," balas Mang Udin.
*
__ADS_1
*
*
Di kampus
Setelah selesai kelas Azmia dan Karina duduk di bangku yang berada tak jauh dari parkiran kampus.
"Bagaimana, Mi rasanya tinggal satu rumah dengan pak dosen?" tanya Azmia dengan tersenyum kecil.
"Ya kamu tahu sendirilah bagaimana aku, Rin," jawab Azmia.
"Iya-iya, terus tadi kamu berangkat gimana?" tanya Karina.
"Bareng sama pak Ali itu juga karena di suruh sama Mama. Kalau boleh milih lebih baik aku di antar sopir atau aku minta jemput kamu aja," jawab Azmia.
"Lha memangnya kenapa? kan pak dosen Kakak kandungan kamu, Mi," ucap Karina.
"Iya sih, tapi kan malu, Rin," balas Azmia.
"Harus di biasakan, Mi nanti juga lama-lama terbiasa," ucap Karina. Sangat wajar sih kalau Azmia malu, canggung karena memang saat mereka bertemu sudah sama-sama dewasa.
"Iya, Rin, tapi untuk saat ini jika di kampus aku lebih baik menghindar dari pada nanti di serang mahasiswi fans pak dosen," balas Azmia.
__ADS_1
"Hahaha, tapi kalau mereka tahu yang sebenarnya gimana ya? pasti mereka langsung terkejut-kejut," ujar Karina dengan tertawa kecil.
"Enggak perlu di bayangin," balas Azmia.