Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 60 Hati yang terluka


__ADS_3

'Kasihan sekali Mba Mia hatimu terbuat dari apa sih Mba kuat sekali menghadapi mereka berkali-kali di sakiti, tapi tetap saja tak pernah lelah menyayangi mereka,' batin Nina.


Nina sudah mengetahui tentang kehidupan Azmia, yang ia belum tahu hanya pernikahan Azmia.


**


Di taman.


Alby dan Rania duduk berdampingan menikmati keindahan malam, sambil makan jajanan yang berada di taman kota.


"Sudah lama kita tidak seperti ini ya, Mas," ucap Rania.


"Iya," balas Alby.


"Mas kamu masih cinta kan sama Aku, kita balikan lagi yuk!"


"Kita tidak mungkin bersatu kembali, Rania. Aku sudah memiliki Azmia."


"Apa kamu sudah mencintai Azmia?" Rania memasang wajah melasnya.


"Entahlah, perasaan ku masih tak menentu."


"Kalau begitu Aku masih punya kesempatan kan Mas untuk menyatukan cinta kita seperti dulu lagi," ucap Rania tanpa dosa.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Nia. Aku sudah menikah."


"Mas, kan bisa ceraikan Azmia. Papa akan bantu Mas Alby mengurus perceraian kalian," ujar Rania penuh dengan keyakinan.


"Apa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi setelah aku bercerai dengan Azmia?" tanya Alby.


"Aku janji aku setia selamanya," jawab Rania.


"Kita bahas di waktu lagi sekarang kita pulang karena sudah hampir larut malam kasihan nanti Azmia menunggu terlalu lama," ucap Alby.


"Azmia lagi Azmia lagi kenapa sih dari dulu dia selalu saja merebut perhatian banyak orang." Rania yang kesal langsung berdiri dari duduknya berjalan menuju parkiran terlebih dahulu tanpa menunggu Alby yang masih berada di belakang.


"Jangan ngambek gitu dong, Na nanti cantiknya ilang kan sayang tadi udah capek-capek dandan," goda Alby sambil mencoel pipi Rania.


"Ya sudah kalau ngambek besok nggak jadi ketemuan lagi," ucap Alby.


"Nia, nggak marah kok, hi." Rania tersenyum manis ke arah Alby berusaha menahan amarahnya agar rencananya berhasil untuk mendapatkan kembali cinta Alby.


Alby pun membalasnya dengan senyuman.


'Sabar Rania tinggal tunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan semuanya, karena semua tidak mungkin instan, harus berjuang penuh dengan rasa sabar,' batin Rania.


"Kamu ingin beli sesuatu?" tanya Alby.

__ADS_1


"Tidak perlu, Mas," jawab Rania.


"Baiklah." Alby melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang langsung menuju ke kediaman Pranata. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai. Setelah memarkirkan mobil Alby dan Rania keluar berjalan masuk kedalam rumah, ternyata kepulangan mereka sudah di nanti Sonia dan Prabu yang sedang berada di ruang tamu menikmati acara televisi.


"Ma, Pa, Azmia mana?" tanya Alby tanpa basa-basi karena dia tak melihat istri di situ.


"Oh, Azmia, dia sudah pulang karena ada urusan mendadak katanya, entah kemana tuh anak Mama juga tidak tahu, tapi tadi Mama lihat dia di jemput seseorang bawa mobil warna merah. Memang dasar tuh anak tidak tahu diri di tinggal suami pergi dia malah pergi juga sama laki-laki lain," jelas Mama Sonia. Sungguh wanita yang sangat luar biasa mulutnya, pandai sekali mengarang cerita. Harusnya Mama Sonia jadi penulis novel saja ya. 🤭


"Baiklah, kalau begitu Alby pulang terlebih dahulu ya, Ma, Pa," pamit Alby dengan wajah yang sudah berubah dia begitu kesal saat mendengar penjelasan dari Mama Sonia.


"Lho kenapa buru-buru, Nak Alby." Mama Sonia berusaha menahan Alby supaya tidak pulang.


"Alby, ingin mencari Azmia, Ma," ucap Alby.


"Oh, ya sudah hati-hati, kalau Nak Alby sudah tidak sanggup pulangkan saja Azmia pada kami biar kami yang membimbingnya," ujar Mama Sonia.


Alby hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian menyalami tangan kedua mertuanya, setelah itu dia berjalan melangkah kan kakinya keluar rumah menuju garasi mengambil mobilnya.


*


*


*

__ADS_1


'Aku berusaha untuk menerima semuanya, perlahan aku mulai terbiasa dengan keadaan, tapi kini dia kembali dan ingin mengambil apa yang telah dia buang. Haruskah ku memberikannya kembali padanya, apa aku harus mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku. Tapi aku tidak bisa memaksakan cinta agar memilih ku, karena jika di jalani dengan paksaan maka tidak akan ada kebahagiaan yang sempurna.' Azmia merenung duduk di kursi kebesarannya yang berada di ruangan. Azmia memilih pulang ke cafe dari pada harus pulang ke rumah Alby. Dia lebih merasa tenang jika berada di ruangannya, tempat ternyaman saat kondisi hatinya tidak baik-baik saja.


__ADS_2