Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 106 Restoran Amy


__ADS_3

Kita itu butuh refreshing agar tidak terlalu pusing memikirkan masalah yang ada.


Karena kesibukan masing-masing membuat mereka susah sekali untuk berkumpul bersama, tapi kini mereka sengaja mengosongkan jadwal agar bisa menikmati makan bersama di luar bersama ratu mereka yang telah lama mereka tinggalkan.


Merayakan kembalinya Devan.


Devan mengajak Azmia serta Angga untuk makan malam di luar tepatnya restoran Amy restoran yang menghidangkan banyak menu masakan tradisional. Restoran Amy tidaklah seperti restoran pada umumnya mewah, megah. sedangkan restoran Amy itu sebaliknya dia di bangun sangat sederhana, tempatnya sangat unik, suasananya juga berbeda dari yang lain karena restoran Amy di kelilingi kolam ikan. Makannya di saung-saung, lesehan, tapi itulah yang membuat para pengunjung membeludak karena nyaman dan bisa santai saat berkunjung di restoran Amy.


Angga dan Devan menjemput Azmia ke apartemen.


Azmia yang sudah menunggu di depan gerbang apartemen langsung masuk ke dalam mobil saat melihat mobil Angga berhenti di depannya. Azmia duduk di bangku belakang samping Angga sedangkan Devan jadi sopir pribadi mereka.


"Tumben pakai kacamata dik?" tanya Angga yang belum tahu tentang penyamaran Azmia. Azmia hanya bilang sekarang tinggal di apartemen belum menceritakan secara detail.


"Lagi pengen saja," jawab Azmia.


"Sepertinya ada yang berbeda dari dirimu," ucap Angga.


"Biasa saja," balas Azmia.


"Memangnya biasanya si Mia penampilannya gimana, Ga?" tanya Devan.


"Biasanya tuh simpel banget kalau pergi, tapi ini berbeda banget," jawab Angga.


"Jujur Abang suka dengan penampilan kamu sekarang. Kamu harus bisa membuktikan pada mereka bahwa kamu bisa dan kamu jauh lebih dari dia. Abang akan selalu ada di samping mu," ujar Angga.


"Iya, Bang, tapi Mia tidak apa-apanya jika di bandingkan dengan dia," balas Rania.


"Peri kecil Abang, harta tidaklah segalanya. Kamu boleh merubah penampilan mu, tapi tetaplah jadi pribadi yang baik, tetap menjadi Azmia yang Abang kenal." Angga mengelus lembut kepala Azmia. Dimana pun dan bagaimana pun kamu, tapi tetaplah jangan merubah kepribadian mu.


"Iya, Bang," balas Azmia.


Itulah obrolan mereka di dalam mobil.

__ADS_1


Tak lama mobil mereka sampai di restoran Amy. Setelah memarkirkan mobil mereka bertiga keluar berjalan mencari saung yang kosong.


"Kita duduk di sini saja yuk!" Devan menunjuk saung kosong yang tak jauh dari perkiraan. Mereka pun duduk di saung nomor lima.


"Gimana, Dik, kamu suka tempatnya?" tanya Devan.


"Suka, restoran yang berbeda dari yang lain," jawab Azmia.


Azmia duduk di tengah-tengah, dia bagaikan ratu yang di kawal oleh bodyguardnya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Angga.


"Samakan saja," jawab Azmia.


"Baiklah." Angga menulis pesanan di kertas yang telah di sediakan di meja setiap saung.


Setelah menulis pesanannya Angga memberikan kertas tersebut pada salah satu karyawan restoran.


"Lu, kenapa kembali ke indo nggak bilang-bilang," ucap Angga.


"Memangnya apa hubungannya Pak Akbar dengan Papanya Kak Devan?" tanya Azmia yang bingung. Istrinya Pak Akbar yang sakit kenapa Kak Devan yang harus menggantikan.


"Pak Akbar -- adik Papa paling kecil," jawab Devan.


"Oh ... jadi Pak Akbar pamannya Kak Devan?"


"Iya, Adikku sayang, kamu kenapa sekarang bawel sekali." Devan mencubit hidung Azmia.


"Ah ... Kakak," keluh Azmia sambil mengelus hidungnya.


"Kakak Devan, kenapa nggak ajak pacarnya?" tanya Azmia.


"Dia tuh masih jomblo, Dik." Bukan Devan yang menjawab melainkan Angga.

__ADS_1


"Lu juga sama jones," balas Devan.


"Sudahlah sesama jones itu harus akur, ha-ha-ha." Azmia tertawa kecil.


"Adik nggak ada akhlak begitu," ucap Devan.


"Biarin," balas Azmia.


"Kakak nungguin kamu saja, Dik, biar nggak jadi milik orang, Kakak nggak mau kamu selalu di sakiti, Kakak ingin kamu selalu tersenyum bahagia seperti ini," ucap Devan.


"Kakak bicara apa sih." Azmia berusaha untuk tidak gugup, tapi dia tidak bisa berbohong dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat.


"Van, lu jangan gombalin Azmia dia sudah jadi milik orang," ucap Angga mengingatkan pada Devan karena saat ini Azmia masih sah jadi istri Alby.


"Gue nggak gombal, gue beneran, Ga. Dari dulu gue ingin jadi pendamping hidupnya, menjaganya hingga maut memisahkan kita, tapi ternyata sebelum aku pulang dia sudah bersanding dengan yang lain, sempat aku sudah tak ingin kembali ke sini saat mendengar dia menikah, tapi demi paman Akbar aku kembali dan tak di sangka ternyata takdir mempertemukan kita kembali. Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk kita," jelas Devan.


Deg


Mendengar ucapan Devan membuat jantung Azmia semakin berjoget ria. Azmia tak menyangka Devan akan berkata seperti itu. Azmia pikir Devan sudah memiliki pendamping hidup karena sudah lama mereka tidak jumpa. Azmia pikir juga cinta itu hanyalah cinta monyet karena cinta itu tumbuh saat Devan SMA sedangkan Azmia masih duduk di bangku SMP.


Dulu Devan memang pernah mengungkapkan perasaannya, tapi itulah Azmia selalu ingin hubungan saudara dan kedua kalinya Devan mengungkapkan perasaannya saat di bandara ingin berangkat ke luar negeri. Saat itu Azmia pun menganggap Devan menyayanginya hanya sebatas Kakak beradik. Meskipun Devan berjanji pada Azmia akan pulang setelah dia selesai kuliah dan membuktikan pada Azmia bahwa dia benar-benar mencintai Azmia bukan hanya sebatas cinta antara adik dan Kakak, tapi cinta yang sesungguhnya.


Namun, apalah daya manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Ketentuan Allah lebih baik dari apa yang kita rencanakan.


"Van, lu sedang tidak Prank kita kan?" Angga yang tak percaya dengan ucapan Devan.


Angga memang tak pernah tahu jika ternyata Devan telah lama menaruh hati pada peri kecilnya. Azmia juga tak pernah bercerita apapun tentang Devan kecuali kebersamaan mereka sebagai Kakak beradik.


"Untuk apa gue bohongin Lu. Gue nggak pernah bermain-main dengan perasaan pertama kali gue jatuh hati padanya dan sampai sekarang cinta itu masih ada. Tapi, sekarang gue akan berusaha untuk membuat cinta ini beralih menjadi seperti dulu cinta dan kasih sayang sebagai Kakak," jelas Devan.


Devan menatap kearah Azmia kemudian mengelus lembut kepala Azmia.


"Semoga Allah selalu melindungi mu, Dik dan selalu memberikan kebahagiaan untukmu Kakak akan selalu menyayangi mu," ucap Devan masih memegang kepala Azmia.

__ADS_1


"Amin. Semoga Kakak selalu bahagia," balas Azmia hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap Devan karena saat ini hatinya terasa nyeri ingin sekali dia menangis, tapi tak mungkin dia menangis di depan Angga dan Devan yang ada mereka berdua langsung khawatir karena ratunya tiba-tiba menangis.


__ADS_2