
Keesokan hari. Setelah membaca pesan dari Nila. Hari ini Alby mengambil cuti. Dia ingin menjalankan amanah almarhumah istrinya. Alby meminta Bunda untuk menemaninya menjalankan amanah Nila.
Tepat pukul sembilan Alby datang ke rumah Bunda. Menceritakan semua isi pesan Nila.
Bunda jadi terharu mendengar cerita Alby, ternyata di balik sikapnya yang menyebalkan ada sisi baiknya.
Namun, Bunda sangat menyayangkan kenapa selama hidup menantunya bersikap sedikit menyebalkan.
"Apa semua yang akan kita bagikan kamu bawa, Al?" tanya Bunda.
"Iya, Bun. Ini perhiasannya, kalau perhiasan kita jual saja dulu ya, Bun nanti uangnya baru kita bagi-bagikan," ujar Alby.
"Iya, kalau ada uang sekalian saja beliin sesuatu untuk bingkisannya. Jadi bukan hanya uang aja yang kita bagikan." Bunda memberi usul.
"Iya, Bun." Alby menyetujui saran Bundanya.
"Kalau untuk baju gimana, Bun?" tanya Alby.
"Bawa saja, nanti Bunda bilang dulu ke Ibu yayasan apa mereka mau menerima baju bekas atau tidak," jelas Bunda.
"Iya, Bun."
"Yaudah yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Bunda.
__ADS_1
Alby mengangguk kemudian mereka berdua pergi keluar rumah tujuan pertama mereka yaitu toko emas yang ada di Mall.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di Mall.
Sesampainya di Mall. Alby dan Bunda langsung menuju ke lantai dua dimana toko emas berada.
"Selamat datang di toko Erzy. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Salah satu karyawan toko yang menghampiri Bunda dan Alby.
"Iya, Mba. Saya ingin ketemu manajer toko ada?" tanya Bunda.
"Ada, Bu. Mari silakan!" Karyawan tersebut mempersilakan Bunda dan Alby duduk terlebih dahulu. Kemudian dia memanggil manajer toko.
"Siapa sih mereka segala minta ketemu dengan manager." Bisik-bisik karyawan yang baru melihat Alby dan Bunda.
Tak berselang lama manager datang.
"Selamat pagi, Pak Alby, Bu Rita," sapa Manager saat menghampiri Bunda dan Alby.
"Selamat pagi juga, Bu Arni," balas Alby.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Arni.
"Begini, Bu. Kami ingin menjual semua perhiasan ini," ucap Alby sambil memperlihatkan kotak perhiasan yang ia bawa.
__ADS_1
"Lho memangnya kenapa di jual, Pak? Bukankah ini semua hadiah dari Pak Alby untuk Bu Nila?" tanya Bu Arni yang merasa heran.
"Iya, Bu. Kami menjual ini juga atas amanah almarhumah istri saya," jawab Alby.
"Tadi, Pak Alby bilang apa almarhumah?" Bu Arni yang terkejut dengan jawaban Alby.
"Iya, Bu. Istri saya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu," jawab Alby.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Saya turut berdukacita ya, Pak, Bu. Maaf saya tidak mengetahuinya," ujar Bu Arni.
"Iya, Bu tidak apa," balas Alby.
"Baiklah saya akan lihat dulu semua perhiasannya. Uangnya ingin cash atau transfer saja?" tanya Bu Arni.
"Transfer saja, Bu," jawab Alby.
"Baiklah kalau begitu saya cek dulu," ucap Bu Arni.
"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu karena masih ada urusan," ujar Bunda Rita pamit.
"Apa tidak menunggu terlebih dahulu, Bu, Pak?"
"Tidak perlu, Bu," jawab Bunda Rita.
__ADS_1
Setelah ke toko perhiasan kini Bunda dan Alby menuju tempat kedua yaitu ke pasar tradisional membeli beberapa makanan dan perlengkapan untuk bingkisan. Karena di dalam pasar semua tersedia ada toko kelontong, sembako, jajanan, dll sesuai dengan yang mereka butuhkan.