Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 331 Makan malam bersama


__ADS_3

Acara makan bersama. Kalau kata orang jawa melek'an umah anyar.


Para sanak saudara sudah berkumpul di kediaman Azmia.


Alby dan Nila sudah tiba saat sore hari.


Angga datang bersama Devan karena Mami dan Papi nya sudah terbang ke luar negeri.


Daffa juga hadir bersama Derry dan Ardiaz.


Semua berkumpul bersama saling membaur ngobrol santai sambil menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Azmia duduk berkumpul bersama para karyawan, Karina dan juga Melia.


"Kak Diaz, kok bisa datang pasti Melia dan Kak Derry yang ngundang," ucap Karina.


"Siapa lagi hanya mereka yang kenal dekat," balas Azmia.


Melia hanya tersenyum manis.


"Sekarang anggap saja dia teman kita," ucap Melia.


"Iya," balas Karina.


"Kak Diaz sama Kak Devan masih jomblo nggak sih?" tanya Karina.


"Entahlah, memangnya kenapa?" Melia balik bertanya.


"Enggak apa, kalau masih jomblo kan bisa tuh kita jomblangin saja sama Nina dan Novi," jawab Karina berniat menjodohkan Ardiaz dan Devan, dari pada mengejar sesuatu yang tak sampai.


"Ngawur aja kamu, Rin," ujar Azmia.


"Lha memangnya kenapa, Mi, nggak ada masalah kan kalau mereka sama-sama jomblo," balas Karina.


"Iya, sih nggak ada yang salah, tapi kan __. Ah ... sudahlah biarkan Allah saja yang menjodohkan mereka," ujar Azmia yang tak ingin menjadi mak joblang, karena hanya Allah yang bisa menyatukan hambanya.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya, kita kenalkan mereka, Mi," balas Karina.


"Iya, Mi," sambung Melia.


Azmia hanya diam tak membalas ucapan Karina dan Melia. Kemudian Azmia menatap ke arah Nina dan Novi orang yang berperan penting dalam perjalanan usahanya. Bukan dia tak ingin Novi dan Nina mendapatkan Ardiaz atau Revan, tapi kan kita tidak bisa menjodoh-jodohkan orang.


"Hust ... Nin. Mba Mia kenapa ngeliatin, lu seperti itu?" Salah satu karyawan menyenggol bahu Nina saat tanpa sengaja melihat tatapan Azmia mengarah ke Nina.


"Apaan?" tanya Nina.


"Mba Mia liatin, kamu terus," bisik Ina.


"Biarkan saja pura-pura nggak lihat," balas Nina.


"Non Mia, di depan ada tamu," ucap Mbak Lasmi.


"Iya, Mba," balas Azmia kemudian berdiri dari duduknya.


"Tinggal bentar ya gaes," ucap Azmia pada sahabat dan karyawan cafe.


"Mama, Papa, Kak Rania. Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga." Azmia menyalami tangan ke dua orang tua angkatnya dan Rania.


"Mari, Ma, Pa, Kak." Azmia mengajak keluarga Pranata menuju tempat acara yang berada di samping rumah.


Setibanya di lokasi acara Azmia memperkenalkan keluarga Pranata pada keluarga Bakhri.


"Ma, Pa, ada tamu," ucap Azmia saat menghampiri Mama Iren dan Papa Ari.


"Iya, Sayang," balas Mama Iren.


"Ma, Pa kenalin ini Mama Sonia, Papa Prabu dan ini Kak Rania mereka keluarga angkat Azmia," ucap Azmia memperkenalkan keluarga Pranata pada kedua orangtuanya.


Mereka saling bersalaman berkenalan.


"Salam kenal, Mba Sonia dan Mas Prabu. Senang sekali bisa berjumpa dengan kalian. Saya juga ingin berterima kasih karena kalian sudah menjaga Azmia," ujar Mama Iren.

__ADS_1


"Sama-sama, Mba," balas Mama Sonia.


"Mari, silakan!" Mama Iren mempersilakan keluarga Pranata duduk di meja yang kosong.


Mereka duduk bersama keluarga Bakhri dan Keluarga Pranata.


"Apa ini rumah kamu sendiri, Nak?" tanya Mama Sonia.


"Ini rumah Kak Revan, Ma," jawab Azmia.


"Sama saja rumah kamu juga," ucap Mama Sonia.


Azmia hanya membalasnya dengan senyuman.


"Sejak kapan kamu jadi Putri keluarga Bakhri? Hebat ya kamu bisa mengelabuhi keluarga kaya seperti mereka," cibir Rania.


"Maksud, Nak Rania apa ya?" tanya Mama Iren.


"Maaf nih, Tan bukan saya gimana-gimana, tapi apa, Tante dan Om sangat yakin jika Azmia adalah putri Om dan Tante yang hilang dua puluh satu tahun silam. Nia cuma takut saja kalian ketipu dengan Azmia," jelas Rania.


"Kami sangat yakin, bahkan kami juga sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok," ujar Mama Sonia.


"Tes DNA itu nggak menjamin, Tan. Kan bisa saja Azmia bersekongkol dengan dokter," balas Rania.


Azmia hanya diam mendengarkan ocehan Rania. Dia sengaja tak berkata sepatah katapun. Azmia ingin tahu bagaimana reaksi orang tuanya.


"Ucapan kamu memang ada benarnya menurut logika, tapi sebelum saya melakukan tes DNA saya lebih dulu mencari tahu informasi dan menelusuri serta mengenal lebih dalam tentang Azmia, semua itu memakan waktu yang lumayan lama. Jadi, semua terjadi tidak instan. Makanya saya yakin jika Azmia adalah putri kami yang hilang," ujar Mama Iren.


"Semua itu tidak menjamin, Tan, karena orang yang ahli dalam kebohongan pasti akan berhasil dengan berbagai cara yang dia lakukan," balas Rania.


"Kamu memang benar, Nak Rania, tapi kekuatan batin seorang Ibu tidak pernah salah. Saya sangat menyayangkan sikap kamu, Nak Rania. Segitu besarnya kebencian mu terhadap Azmia sehingga kamu bisa berbicara seperti itu, hal yang seharusnya tak pantas di ucapkan seorang Kakak terhadap Adiknya," ujar Mama Iren.


"Saya sangat kecewa orang yang selalu Azmia anggap saudara ternyata tidak memiliki rasa persaudaraan sama sekali. Bahkan dia ingin menghancurkan kebahagiaan saudaranya sendiri. Apa, kamu kurang puas menyakiti saudara mu sendiri. Orang yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaan mu, Azmia rela menggantikan peranmu saat pernikahan, bukan hanya itu untuk kesekian kalinya Azmia juga rela bercerai hanya demi kebahagiaan kamu." Mama Sonia berkata dengan begitu jelas mengungkapkan kekesalannya terhadap Rania yang seakan ingin menjatuhkan Azmia di depannya.


Rania terdiam membisu. Dia tak menyangka jika keluarga Bakhri ternyata tidak semudah yang dia pikirkan. Bahkan kini dia di buat mati kutu karena Mama Iren dengan lantang membalikkan semua ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2