
Di kediaman Pranata
Sonia yang sedang duduk bersantai di samping rumah, menikmati udara pagi hari sambil menikmati secangkir teh.
"Ma," panggil Rania dari arah belakang.
"Iya," balas Mama Sonia, tanpa menoleh ke sumber suara.
Merasa ada yang aneh dengan sikap Mamanya, Rania segera menghampiri Mama Sonia. Dia duduk di kursi samping Mamanya.
"Ada masalah?" tanya Rania.
Mama Sonia menggelengkan kepalanya.
"Lantas kenapa, Mama sejak tadi melamun?" tanya Rania.
"Kamu, tahu semalam Mama bertemu dengan siapa?" Mama Sonia bukannya menjawab pertanyaan Putrinya, tapi beliau malah balik bertanya.
"Bagaimana Nia tahu, jika Nia saja tidak ikut dengan Mama dan Papa," jawab Rania.
"Ish ... kau ini, kan kamu bisa menebaknya lebih dulu," ucap Mama Sonia dengan sedikit kesal karena jawaban putrinya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Nia lagi malas main tebak-tebakan," balas Rania. "Memangnya semalam, Mama bertemu dengan siapa?" tanya Rania yang mulai penasaran.
"Azmia," jawab Mama Sonia.
Mendengar jawaban Mamanya, Rania diam seketika. 'Lama tidak berjumpa dengannya bagaimana kabarmu saat ini, Mia. Apa kamu rujuk kembali dengan Mas Alby setelah aku menghancurkan pernikahan kalian, tapi aku tak mampu mendapatkan cintanya kembali,' batin Rania.
"Di mana, Mama bertemu dengan Azmia?" tanya Rania.
"Di hotel Queen," jawab Mama Sonia.
__ADS_1
"Apa dia hadir di acara pernikahan teman Papa? Bersama siapa Azmia hadir di acara tersebut?" tanya Rania, karena yang dia tahu Mama dan Papanya pergi ke acara pernikahan rekan bisnis Papanya, tanpa mengetahui siapa yang menikah dan orang yang mengundang.
Mama Sonia dan Papa Prabu juga tidak
"Dia bukannya hadir, tapi dialah pengantinnya," jawab Mama Sonia. Dia berkata dengan menekan setiap katanya.
"Apa?" Rania begitu terkejut mendengar jawaban Mamanya. "Mama nggak bohong kan?" tanya Rania. Dia memastikan jika ucapan Mamanya tidak salah.
"Untuk apa Mama berbohong padamu. Mama saja terkejut saat melihat Azmia yang menikah," ujar Mama Sonia.
"Dia menikah dengan siapa?" tanya Rania.
"Adiknya Alby," jawab Mama Sonia.
"Pada akhirnya cinta sejati akan kembali," lirih Rania.
"Maksudnya?" tanya Mama Sonia, karena dia hanya mendengar suara Rania dengan samar-samar.
"Oh, ternyata mereka sudah saling cinta, pantas saja dapat di lihat dari raut wajahnya, mereka itu sangat bahagia sekali," ucap Mama Sonia.
"Iyalah, Ma pasti mereka bahagia, apalagi Revan, dia itu sudah menunggu Azmia begitu lama," balas Rania.
"Apa mereka bersatu kembali setelah Alby dan Azmia bercerai?" tebak Mama Sonia.
"Bisa jadi seperti itu," balas Rania.
'Setelah bercerai dengan Kakaknya, kau ambil juga Adiknya. Gue nggak nyangka ternyata kamu tak sebaik penampilan mu,' batin Rania.
*
*
__ADS_1
*
Di tempat lain
"Al, bangun!" Daffa membangunkan Alby dengan menggoyang-goyangkan lengan Alby.
"Apa sih, Daf. Gue masih ngantuk nih." Alby berkata, tapi hanya bersuara tanpa membuka matanya.
"Eh ... lu lihat ini udah hampir siang," ucap Daffa saat melihat Kilauan cahaya matahari dari jendela.
"Biarin ajalah, gue masih ngantuk," balas Alby.
"Gue laper, Bambang," ujar Daffa. Dia terbangun karena merasa ada demo di perutnya.
"Tinggal pesan aja repot banget sih, Lu," balas Alby.
"Lu mau makan apa, biar sekalian gue pesenin?" tanya Daffa.
"Terserah, Lu aja deh," jawab Alby dengan kesal. Alby pun langsung membuka mata karena Daffa terus nyerocos menggangu tidurnya.
"Katanya masih ngantuk, ngapain bangun?" tanya Daffa saat melihat Alby bangun dari tidurnya, duduk bersandar di kepala ranjang.
"Gimana gue mau tidur kalau, Lu ngoceh mulu kayak emak-emak minta uang jatah belanja," balas Alby.
"Hahaha, sorry. Gue laper banget, Al semalam kan makan cuma dikit, terus lu ajak beberes sampai pagi, capek banget jadinya gue kehabisan tenaga," ucap Daffa.
Semalam Alby dan Daffa membersihkan kamar dari pukul sebelas malam hingga pukul tiga pagi.
"Ah ... iya aja dah, terserah lu mau ngomong apa yang penting sekarang semua beres tinggal ngepel, ganti seprei dan satu lagi kita ganti gorden juga, pokoknya semua harus rapi hari ini juga," balas Alby.
"Ok, tapi sarapan dulu baru kita lanjut lagi," ucap Daffa, karena dia butuh asupan daya terlebih dahulu sebelum melanjutkan kerja bakti kamar Alby.
__ADS_1
"Sip." Alby mengacungkan jari jempolnya.