Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 349 Saran


__ADS_3

Di cafe lovely


  Azmia dan Novi, duduk di sofa belakang kasir membicarakan tentang persiapan acaranya yang akan dia selenggarakan satu minggu lagi.


 "Nov, gimana persiapan acara?" tanya Azmia.


Azmia memang menyerahkan semua pada para karyawan. Dia percayai para karyawannya pasti bisa mengurus semua.


  "Alhamdulillah, sudah tujuh puluh persen, Mba," jawab Novi.


  "Syukurlah kalau begitu. Undangan sudah jadi?" tanya Azmia.


  "Nanti habis magrib di anterin ke sini, Mba," jawab Novi.


 "Lalu sovenir?"


 "Nina yang urus, Mba," balas Novi.


 "Ok, baiklah. Nanti malam kita tutup saja lebih awal ya, supaya tidak terlalu malam kita rapatnya," ucap Azmia.


  "Siap, Mba," balas Novi.


 "Baiklah kalau begitu nanti kita obrolkan lagi saat rapat. Saya ke ruangan dulu ya," ujar Azmia.


  "Iya, Mba," balas Novi.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Novi. Azmia berdiri dari duduknya berjalan menuju ruangannya.


  "Assalamualaikum," ucap Azmia sambil membuka pintu ruangan.


 "Wa'alaikumussalam," balas Revan dari dalam ruangan.


  "Sudah?" tanya Revan karena Azmia sudah kembali ke ruangan.


 Azmia mengangguk. "Nanti lanjut lagi saat rapat," jawab Azmia.


  "Kamu pasti lelah sekali ya, ngurus perusahaan, ngurus cafe juga, belum lagi di rumah," ujar Revan.


  "Enggak kok, Kak. Mia senang melakukan semuanya, lagi pula kan Mia ngurus juga di bantu yang lain," balas Azmia dengan tersenyum kecil. Setiap pekerjaan pasti lelah, tapi jika kita bawa happy maka pekerjaan itu akan terasa ringan.


  "Kakak bisa aja," balas Azmia.


***


 Di tempat lain


Ardiaz dan Delisa balkon kamar ngobrol santai sambil menikmati secangkir kopi.


  "Mas, bulan ini pemasukan menurun apa yang harus kita lakukan?" Delisa membuka obrolan.


  "Kita jalanin saja dulu, Del. Berdagang kan memang begitu pasti ada naik turunnya," jawab Ardiaz. Dia tak ingin ambil pusing.

__ADS_1


  "Mas, tapi ini udah bulan ke dua. Akan tetapi penjualan kita tidak naik-naik," ucap Delisa. Dia sedikit khawatir jika usahanya terus begini maka dia akan gulung tikar.


  "Semua itu butuh proses Sayang nggak bisa langsung instan," balas Ardiaz. Kan nggak mungkin kita jualan langsung ramai, kecuali kita pakai semburan dari si Mbah di jamin jualan langsung laris manis, tapi jangan ya, karena cara yang halal masih banyak kok. 😁


  "Iya, Mas. Delis tahu itu. Mas, apa tidak sebaiknya kita minta pendapat pada Azmia. Diakan kerja di cafe tuh pasti dia tahulah gimana caranya supaya cafe itu tetap stabil." Delisa memberikan saran, karena hanya Azmialah teman mereka yang berada di bidang usaha cafe, lainnya mereka biasa bekerja di perusahaan besar.


  Ardiaz terdiam. Dia memikirkan kata-kata istrinya. Sengaja pergi jauh niat hati ingin melupakannya, eh ... Istrinya malah ngajakin ketemuan dengan Azmia. Gimana mau lupa kalau begini.


 "Mas," panggil Delisa karena Ardiaz tak kunjung menanggapi ucapannya.


  "Iya. Kalau menurut aku sih ya, kita nggak perlu ngobrol dengan Azmia," ucap Ardiaz menolak pelan saran istrinya.


  "Memangnya kenapa, Mas?" tanya Delisa. Dia meminta alasan Ardiaz kenapa tak ingin ngobrol dengan Azmia.


  "Ya, nggak apa. Kita kan usaha ini untuk sekalian belajar, jadi ya sudah kita jalani sambil belajar," jawab Ardiaz.


  "Namun, bertanya dengan orang yang lebih berpengalaman itu bagus supaya kita bisa belajar banyak dengan Dia," ucap Delisa masih tetap memaksa agar Ardiaz mau mengikuti sarannya.


  "Ya sudahlah terserah kamu saja," balas Ardiaz akhirnya memilih untuk mengikuti saran istrinya dari pada berdebat tak ada ujungnya.


 "Horeeee. Kalau begitu besok kita terbang ke kota A ya, Mas," ucap Delisa.


"Iya, nanti Mas pesenin tiket," balas Ardiaz.


"Masuk yuk, sudah malam!" Ardiaz mengajak istrinya agar masuk ke dalam kamar karena sudah larut.

__ADS_1


__ADS_2