
"Mas, ini kopinya," ucap Nila sambil menaruh secangkir kopi di atas meja samping Alby duduk.
""Terima kasih, Sayang," balas Alby.
"Kenapa nggak di dalam saja, Mas?" tanya Nila.
"Lagi pengen nyari angin," jawab Alby.
"Apa masih banyak pekerjaannya?"
"Tidak, sebentar lagi juga selesai," balas Alby.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Alby.
"Tidak," jawab Nila.
Alby dan Nila duduk di kursi teras rumah menikmati suasana malam sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Oh, iya besok siang kamu di suruh Bunda ke butik langganan Bunda," ucap Alby.
"Untuk apa?" tanya Nila.
"Ukur baju," jawab Alby.
"Baju apa?"
"Seragam keluarga," jawab Alby.
"Memangnya akan ada acara apaan?" tanya Nila.
__ADS_1
"Nikahan Revan," jawab Alby.
"Nikahan?" tanya Nila.
"Iya."
"Memangnya kapan lamarannya? tiba-tiba udah mau nikahan aja," ujar Nila.
"Tunangan resmi sih nggak ada, hanya pertemuan dua keluarga saja," balas Alby.
"Memangnya siapa calon istrinya Revan?" tanya Nila.
"Besok juga kamu tahu sendiri saat di butik," jawab Alby.
"Kenapa nggak, Mas kasih tahu aku sekarang?" tanya Nila yang merasa bingung karena Alby tak memberi tahu.
"Baiklah." Nila mengikuti apa kata suaminya saja dari pada berdebat nggak jelas.
Hubungan Alby dan Nila semakin hari semakin membaik. Nila juga sedikit demi sedikit mulai mengubah kebiasaannya yang tadinya selalu sibuk dengan para sahabat sosialitanya kini mulai berkurang dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengurus rumah.
Setiap orang memang bisa berubah dengan seiring berjalannya waktu yang terpenting adalah kita sebagai pendamping tidak pernah lelah untuk terus berdoa dan membimbingnya dari kebiasaan buruk menjadi lebih baik.
'Bagaimana reaksi kamu saat melihat wanita yang akan menjadi pendamping hidup Revan,' batin Alby.
'Mas Alby kenapa sih tumben aneh cuma nanya calon istri Revan saja nggak di kasih tahu, memangnya seperti apa sih wanita itu. Aku jadi penasaran,' batin Nila.
****
Di tempat lain
__ADS_1
"Selamat malam, Ma, Pa," sapa seorang wanita cantik yang berdiri di pintu ruang keluarga.
Mendengar ada suara seseorang mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara.
"Rania," ucap Mama Sonia saat melihat wanita cantik yang berdiri ternyata Putri semata wayangnya. Diapun langsung berdiri berjalan menghampiri putrinya, memeluk erat tubuh Rania dengan derai air mata bahagia karena kini putrinya telah kembali lagi.
"Kenapa tidak memberi tahu Mama dan Papa kalau kamu pulang?" tanya Mama Sonia di sela-sela pelukannya.
"Nia ingin kasih surprise buat Mama dan Papa," jawab Rania.
Setelah melepas pelukannya dengan sang Mama kini Rania menghampiri Papanya yang duduk di sofa.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Papa Prabu sambil mengelus lembut kepala putrinya yang kini sudah semakin dewasa.
"Alhamdulillah Nia baik, Pa," jawab Rania.
"Gimana kuliah kamu?"
"Lancar, Pa," jawab Rania.
"Pa, Ma, Nia masuk kamar dulu ya, capek pengen istirahat," ucap Rania.
"Iya, Sayang," balas Mama Sonia.
Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya Rania berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Rania langsung menuju tempat tidurnya merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
'Masih sama seperti yang dulu, apa keadaan di luar sana juga masih sama atau sudah berubah, lama aku tak mendengar tentang mereka. Apa dia juga masih seperti dulu?' batin Rania sambil menatap langit-langit atap kamar.
__ADS_1