Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 376 Innailaihi


__ADS_3

Setelah meminta maaf pada orang-orang di sekitarnya Nila memegang tangan Azmia.


  "Mi, terima kasih ya, sekarang aku sudah lega dan tenang, Kamu mau maafin aku," ucap Nila dengan tersenyum kecil.


  "Iya, Mba sama-sama," balas Azmia.


  "Mas, aku istirahat dulu ya," ujar Nila.


 Setelah berpamitan pada semua Nila mulai memejamkan matanya. Selang lima menit tiba-tiba tubuh Nila kejang-kejang. Perawat segera memencet tombol darurat memanggil dokter.


 Azmia dan Bunda saling berpelukan menangis melihat keadaan Nila yang tiba-tiba ngedrop.


 Alby hanya menahan sedih melihat keadaan istrinya. Dia nggak mungkin menangis di depan mantan istri dan Bundanya.


 Tak berselang lama dokter datang segera melakukan tindakan, tapi jika Allah sudah berkehendak maka manusia hanya bisa menerima takdir. Terlihat dari layar hanya bergaris lurus tanda jantung sudah berhenti berdetak. "Innalilahi wa innailaihi roji'un," ucap Dokter.


 Mendengar ucapan dokter Azmia melepas pelukannya pada Bunda, dia mendekat ke arah Nila memeluk tubuh Nila. "Mba Nila bangun, Mba bangun. Mba Nila nggak boleh pergi." Azmia menangis dalam pelukan Nila.


  "Sayang sudah, Nak kasihan Nila." Bunda menyuruh Azmia agar melepas pelukannya pada Nila.


  "Mba Nila, Bun." Azmia memeluk mertuanya.

__ADS_1


  "Iya, Sayang. Kita harus ikhlas supaya Nila bisa pergi dengan tenang," ucap Bunda sambil mengelus lembut punggung putrinya.


  Alby hanya bisa menatap wajah istrinya yang kini sudah terlelap dan pucat. Alby menciumi wajah Nila sebelum dia menutup wajah istrinya dengan kain. "Mas ikhlas melepas mu, pergilah dengan tenang dan bahagia menghadap sang Khaliq. Namamu akan selalu terukir di dalam hati Mas, Nila istriku," lirih Alby kemudian dia menutup wajah istrinya.


  Setelah itu para perawat mulai mengurus jenazah Nila.


Revan, Kabin dan Ayah Wisnu baru tiba di rumah sakit bersamaan.


  "Kak." Azmia langsung memeluk suaminya saat Revan datang menghampirinya.


  "Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Revan. Dia belum mengetahui jika Nila sudah meninggal, tadi dia hanya tahu jika Nila berada di rumah sakit.


  "Kenapa dengan, Mba Nila?" tanya Revan.


  "Mba Nila, sudah tidak ada," jawab Azmia.


  "Maksudnya? Mba Nila meninggal dunia?"


 Azmia menganggukkan kepalanya.


 "Innalilahi wa innailaihi roji'un," ucap Revan.

__ADS_1


 Setelah mendengar kabar meninggal dari istrinya Ayah Wisnu segera menelpon orang rumah agar ke rumah Pak RT memberi kabar meninggalnya Nila karena jenazah Nila akan di bawa ke rumah Ayah Wisnu.


  "Ayah, biar Daffa pulang lebih dulu," ucap Daffa.


  "Iya, Nak. Kamu pulang dengan siapa?" tanya Ayah Wisnu.


  "Kak Daffa pulang bersama Revan saja, Yah," sahut Revan.


  "Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati ya karena ini sudah hampir larut malam," ucap Ayah Wisnu.


  "Iya, Yah," balas Revan dan Daffa.


 "Sayang, kamu pulang saja bersama suami mu, biar Bunda dan Ayah yang menunggu jenazah Kakak mu," ucap Bunda pada Azmia.


 "Baik, Bun," balas Azmia menuruti perintah Bundanya, meskipun sebenarnya dia masih ingin berada di rumah sakit menunggu jenazah Nila sampai selesai di rapikan.


 "Kami pulang dulu, Yah, Bun." Daffa, Revan dan Kabin berpamitan pada Ayah dan Bunda.


 "Iya," balas Ayah Wisnu.


 Setelah berpamitan dengan orang tuanya mereka berjalan keluar dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan Azmia hanya diam membisu sambil sesekali menghapus airmatanya yang membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2