Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 310 Bebenah


__ADS_3

Setelah acara ngunduh mantu selesai Alby meminta ijin untuk pulang lebih dulu bersama Daffa, karena ada kerjaan yang harus dia selesaikan bersama.


Sesampainya di rumah. Alby dan Daffa bukannya menyelesaikan pekerjaan kantor, tapi mereka ada tugas lain yang lebih penting.


"Al, lu yang benar aja dong ngajakin beberes tengah malam gini," ucap Daffa.


"Ini waktu yang tepat untuk merapikan semuanya, mumpung Nila nggak ada di rumah," balas Alby.


"Iya juga sih, tapi kan nggak harus tengah malam juga kali," ujar Daffa.


"Ah ... sudahlah jangan banyak protes, kan, lu sendiri yang bilang supaya gue secepatnya membersikan semuanya. Inilah saatnya, ayo!" Alby meminta Daffa agar segera membantunya.


"Nasib-nasib, gue ralat deh omongan gue.


Gue ganti benenahnya besok-besok aja," ucap


Daffa. Dia sedikit menyesal memberikan saran pada Alby, karena kini dia kena imbasnya.


"Ah ... sudahlah jangan banyak omong, ayo!" Alby menarik tangan Daffa mengajaknya menuju lantai dua.


Sesampainya di lantai dua Alby membuka satu ruangan yang berada di samping kamarnya. Setelah pintu terbuka Alby dan Daffa masuk kedalam.


"Ini kamar, lu sama Azmia?" tanya Daffa saat melihat ruangan terdapat foto-foto Alby dan Azmia.


"Iya," jawab Alby.


Daffa melihat setiap sudut kamar yang bersih dan rapi meskipun tak di tempati.


"Apa Azmia tahu kalau selama ini, lu masih menyimpan semua kenangan bersamanya?" tanya Daffa.

__ADS_1


"Tidak, mungkin yang dia tahu, gue hanya menyimpan fotonya aja," jawab Alby.


"Terus semua ini mau kita apain nih?" tanya Daffa.


"Kita kemas aja, kemudian taruh di gudang," jawab Alby. Sebenarnya dia nggak ingin merapikan tempat yang sudah memberikan banyak kenangan, tapi kini dia harus bisa menjaga perasaan istri dan adiknya.


"Ok, kita mulai!" Daffa sudah bersiap untuk memulai merapikan kamar Alby.


Alby mengangguk.


Mereka berdua mulai mengambil foto-foto yang terpampang di dinding, kemudian memasukkannya ke dalam bok putih.


"Al, ini kartu ATM?" tanya Daffa saat merapikan meja rias, dia mendapatkan kartu kecil.


"Iya, itu milik Azmia. ATM yang gue kasih untuk kebutuhan dia, tapi tak berkurang sedikitpun. Gue suruh bawa dianya nggak mau, jadi ya sudah gue taruh aja di laci," jelas Alby.


"Ya udah ini simpen aja, suatu saat nanti, lu bisa memberikan padanya lagi, kalau dia nggak mau yaudah, lu berikan saja pada yayasan, tapi atas persetujuan Azmia karena itu kan sudah hak milik dia." Daffa memberikan saran.


*


*


*


Pagi hari


Seperti kemarin setelah acara selesai pagi hari semua orang sarapan bersama.


Azmia dan Revan memilih duduk satu meja bersama para sahabatnya.

__ADS_1


"Mi," panggil Karina.


"Iya," balas Azmia.


"Semalam emak datang?" tanya Karina.


"Iya, paling Bunda yang ngundang," jawab Azmia.


"Gimana tuh semalam?" Karina mulai kepo.


"Senang banget sih bisa ketemu lagi Mama, Papa udah lama aku nggak lihat mereka dan yang paling bahagia itu aku bisa memeluk Mama seperti saat aku masih kecil dulu," jelas Azmia.


"Semoga saja mereka berubah setelah kejadian itu," ucap Karina.


"Semoga aja," balas Azmia.


"Eh ... mereka sudah tahu belum sih, kalau kamu sudah bertemu dengan orang tua asli mu?" Kini Melia yang bertanya.


"Sepertinya belum. Insya'Allah setelah acara selesai, kalau ada waktu luang aku akan mengajak Mama Iren dan Papa Ari berkunjung ke rumah Pranata," jawab Azmia.


"Enggak kebayang bagaimana reaksi mereka kalau tahu, kamu anak sultan," ucap Karina.


"Jangan di bayangin, Rin," balas Derry.


"Enggak aku bayangin, cuma kepikiran aja," ucap Karina.


"Eh, tapi Kak Rania nggak datang ya?" tanya Melia, karena semalam dia tak melihat sosok Rania.


"Kagak," jawab Azmia.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo, cepat selesaikan sarapan kalian setelah ini kita berkemas langsung ke rumah keluarga Bakhri," ucap Revan.


"Siap, Pak Bos," balas Karina, Melia dan Derry.


__ADS_2