Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 378 Akhir kehidupan


__ADS_3

Selesai di mandikan dan di kafani jenazah Nila di bawa pulang oleh keluarga menggunakan mobil ambulance.


**


Di kediaman Wisnu


Semua orang-orang terdekat sudah mulai datang memenuhi rumah Wisnu.


Azmia dan yang lain juga sudah tiba di tempat.


Azmia dan para sanak saudara duduk di ruang tamu menunggu kedatangan jenazah.


Tak berselang lama yang di tunggu-tunggu tiba.


"Jenazah datang," ucap salah satu warga saat melihat mobil ambulance berhenti di depan rumah Wisnu, karena waktu sudah menunjukkan larut malam sehingga sirene tidak di nyalakan.


Mendengar jenazah datang orang yang sedang duduk langsung pada berdiri.


"Mba Nila, Ma," ucap Azmia dengan lirih.


"Iya, Sayang. Sudah ya jangan menangis terus." Mama Iren berusaha menenangkan putrinya.


"Kenapa, Mba Nila harus pergi secepat ini, Ma, kasihan peri cantik."


"Sayang, setiap yang hidup itu pasti akan mati. Yakinlah, bahwa apa yang terjadi pasti Allah memiliki rencana yang lebih indah," ujar Mama Iren sambil mengelus lembut punggung Azmia yang berada di sampingnya.


Setelah turun dari mobil jenazah langsung di bawa ke ruang tamu.


Azmia duduk di samping peti jenazah. Semua orang mulai membacakan surat Yasin dan memanjatkan doa untuk jenazah.


**


Di luar


"Pak RT, kalau bisa besok pemakaman jenazah pagi saja ya karena kan semua sudah siap hanya tinggal menyolatkan jenazah," ucap Aya Wisnu.

__ADS_1


"Baik, Pak Wisnu. Memang sudah seharusnya pemakaman itu lebih cepat lebih baik," balas Pak RT.


"Iya, Pak RT."


**


*


*


*


*


Pagi hari setelah selesai shalat subuh pak RT mengumumkan kematian Nila.


Warga yang mendengar berita duka. Mereka langsung datang ke rumah Bunda Rita untuk melayat.


Tepat pukul tujuh warga mulai bersiap untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman. Sebelum di makamkan jenazah lebih dulu di shalatkan di masjid setempat.


Sesampainya di makam. Alby, Ayah Wisnu, Revan dan Daffa yang mengangkat peti jenazah menuju tempat peristirahatan.


Selesai prosesi pemakan, tabur bunga serta dari ustadz setempat para warga kembali pulang sedangkan Alby di temani Daffa masih berada di makam.


Alby duduk di samping makan istrinya mengelus lembut batu nisan Nila.


'Maafkan atas kesalahanku yang pernah menyakitimu, pergilah dengan tenang kita akan berjumpa kembali di surganya Allah. Terima kasih, untuk semuanya istriku,' batin Alby sambil memandangi makam Nila.


"Lu pasti bisa melewati ini semua," ucap sambil memegang bahu Alby.


"Balik, yuk!" Daffa mengajak Alby pulang karena ini sudah sepuluh menit mereka di makam setelah kepulangan pengantar jenazah.


Alby mengangguk kemudian berdiri dari duduknya perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan makam istrinya, meskipun berat, tapi tidak baik juga jika terlalu lama di makam.


**

__ADS_1


Kembali ke rumah.


Satu persatu kiriman karangan bunga mulai memenuhi halaman kediaman Wisnu.


Keadaan di rumah juga semakin ramai di penuhi para pelayat dari warga, kerabat, rekan bisnis, para karyawan.


**


Sesampainya di rumah Alby langsung masuk kedalam kamar saat ini dia ingin sendiri. Ayah dan Bunda yang menyapa para pelayat.


"Memangnya istri Pak Alby sakit apa sih kok tiba-tiba meninggal?"


"Kalau nggak salah sih kemarin sore kecelakaan lalu malamnya meninggal."


"Iya, beritanya sih begitu," sambung yang lain.


"Kasihan sekali ya, Pak Alby jadi duda."


"Duren," sahut si A.


"Gue mau antri ah, kali saja rezeki."


"Mimpi Anada terlalu tinggi Maemunah."


Itulah obrolan para karyawan kantor.


***


*


*


*


*

__ADS_1


Pasti pada bertanya-tanya di mana orang tua Nila. Nila itu anak anak angkat yang di ambil dari panti asuhan. Setelah menikahkan Nila orang tua angkatnya pergi keluar kota sehingga mereka jarang ketemu dan komunikasi.


__ADS_2