
Setelah selesai jam makan siang Azmia di sibukkan dengan beberapa kerjaan yang harus dia kerjakan hari ini juga.
"Mba Mia sudah siap?" tanya sekretarisnya.
"Sudah, Mba," jawab Azmia.
"Bisa kita jalan sekarang?" tanya sekretaris.
"Iya, Mba," jawab Azmia kemudian berdiri dari duduknya mengambil tas kecil yang selalu dia bawa sebagai tempat menyimpan ponsel.
Azmia dan sekretaris berjalan keluar kantor menuju parkiran.
"Kita mau kemana dulu nih, Mba?" tanya Azmia.
"Hari ini bertempat di restoran x dengan dua klien, Mba," jawab sekretaris.
"Ok." Azmia mulai melajukan mobilnya menuju lokasi.
Sesampainya di lokasi mereka masuk ke dalam ternyata sudah di tunggu dengan seseorang yang berada di meja nomor lima belas.
Azmia dan sekretarisnya segera menghampiri orang tersebut. "Maaf menunggu lama," ucap Azmia dan Sekretaris.
"Tidak apa, Bu Mia mari silakan!" orang tersebut mempersilakan Azmia agar duduk.
"Terima kasih." Azmia duduk di hadapan orang tersebut.
Sekretaris mulai membuka layar laptop sambil memulai berbincang-bincang tak lama kemudian mereka mulai membahas kerjasama perusahaan. Setelah deal klien pamit karena masih ada kerjaan lain.
"Klien kedua datang jam berapa, Mba?" tanya Azmia.
"Sebentar lagi, Bu mereka masih dalam perjalanan," jawab sekretaris.
"Ok." Azmia bersantai sebentar membuka ponselnya mengotak-atik benda pipih yang berada di tangannya supaya tidak bosan.
Tak berselang lama datang klien yang mereka tunggu-tunggu.
"Selamat siang, maaf menunggu lama," sapa klien yang baru datang.
Mendengar ada suara seseorang Azmia langsung menaruh ponselnya atas kemudian menatap ke arah kliennya. "Kak Daffa, Mas Alby," ucap Azmia sedikit terkejut, karena dia nggak tahu jika klien hari ini dari perusahaan Alby. Semua presentasi di urus oleh sekretaris nya jadi Azmia hanya tinggal beres.
"Mari silakan, Pak Alby dan Pak Daffa!" Sekretaris Azmia mempersilakan kliennya untuk duduk.
"Terima kasih," ucap Daffa. Kemudian mereka berdua duduk berhadapan dengan Azmia dan sekretarisnya.
__ADS_1
*** Setelah bernegosiasi dengan rayuan maut akhirnya Alby pun mengikuti apa kata Daffa agar bertemu dengan Azmia.
Daffa hanya ingin Alby menjadi orang yang profesional tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan kerjaan. ****
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Sekretaris membuka suara karena orang-orang yang berada di sampingnya hanya diam tak bersuara padahal dia sudah menunggu sudah lima belas menit agar Azmia berbicara, tapi ternyata tak ada yang memulainya.
"Iya, silakan!" balas Alby.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Alby, sekretaris Azmia mulai presentasi.
Sekitar satu jam akhirnya pembicaraan kerja sama mereka selesai.
"Kita makan bareng dulu ya, Mi," ucap Daffa. Tanpa menunggu persetujuan dari orang-orang di sampingnya Daffa langsung saja memesan makanan untuk mereka berempat.
"Kebiasaan deh, Kak Daffa," ujar Azmia.
"Kalau nggak gitu kamu pasti akan langsung pulang," balas Daffa.
"Tau aja sih," lirih Azmia.
Sambil menunggu makanan dateng mereka berbincang-bincang ngalur ngidul, tapi tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka. "Hai ... apa kabar?" sapanya.
Mendengar ada suara seseorang, mereka berempat langsung menoleh ke sumber suara. "Kak Rania," ucap Azmia.
"Rania," ucap Alby.
Mereka bertiga begitu terkejut saat melihat seseorang yang menghampiri mereka.
"Kenapa, liatin gue seperti itu memang kalian kira gue hantu," ucap Rania.
"Sejak kapan, Lu pulang?" tanya Daffa.
"Kalian nggak ada yang niat buat nyuruh gue duduk bergabung gitu," ucap Rani tanpa menjawab pertanyaan Daffa.
"Ah, iya. Silakan duduk, Kak!" Azmia mempersilakan Rania duduk bergabung bersama mereka.
Rania pun duduk di samping Azmia.
"Apa kabar, Mi?" tanya Rania.
"Alhamdulillah, seperti yang Kakak lihat," jawab Azmia.
"Kalian ngapain kumpul disini?" tanya Rania.
__ADS_1
"Kita itu sedang ada urusan bisnis, lu ngapain ikut-ikutan gabung." Lagi dan lagi Daffa yang menjawab.
"Lu, kebiasaan banget sih nyerocos mulu," ucap Rania dengan kesal.
"Aku dan Azmia sedang ada kerjaan bareng," sahut Alby.
"Memangnya Azmia sekarang kerja dimana?" tanya Rania.
"Azmia bukan kerja, tapi dia adalah direktur utama perusahaan Bakhri cabang dua di sini," jawab Daffa.
"Bercandaan, Lu nggak lucu kali, Daf," ucap Rania. Dia nggak percaya dengan ucapan Daffa.
"Lha siapa yang bercanda, kalau, lu nggak percaya tanya aja," balas Daffa.
Rania menatap tajam ke arah Azmia.
Azmia hanya diam tak bersuara. Dia bukan tak ingin jujur pada Rania, tapi dia hanya malas saja membahas soal begitu pada orang lain.
"Yang di katakan Pak Daffa benar, Bu Rania. Bu Mia adalah direktur utama PT X, tapi lebih tepatnya Bu Mia adalah pemilik PT X." Kini sekretaris yang angkat bicara.
"Kalian berdua ini bercanda aja, mana mungkin Azmia bisa jadi pemilik PT X, itukan perusahaan terkenal milik keluarga Bakhri," ujar Rania.
"Ya, Bu Rania betul sekali PT X adalah milik keluarga Bakhri dan Bu Mia adalah salah satu cucu dari Bapak Bakhri, Putri dari Bapak Ari Bakhri." Sekretaris menjelaskan tentang status Azmia.
"Itu nggak mungkin dia ini, anak angkat keluarga gue, bagaimana mana bisa tiba-tiba dia jadi anak keluarga Bakhri, kalian itu mau bohongin gue jangan terlalu tinggilah yang masuk akal sedikit gitu lho. Gue tahu ya keluarga Pak Ari Bakhri itu hanya punya satu anak cowok bukan dia." Rania berkata sambil menunjuk ke arah Azmia. Dia masih tak percaya dengan ucapan sekretaris Azmia meski dia sudah menjelaskan tentang status keluarga Azmia.
"Memangnya Bu Rania nggak tahu ya, Mba?" Sekretaris bertanya pada Azmia karena dia merasa heran Rania tidak mengetahui status Azmia padahal kan saat itu keluarga Bakhri sudah konferensi pers memperkenalkan Azmia.
"Mungkin tidak," jawab Azmia singkat.
"Nih kalau, lu nggak percaya." Daffa memperlihatkan layar laptopnya pada Rania vidio saat konferensi pers welcome my princess. Daffa mendapatkan vidio itu dari Karina.
Rania begitu tercengang saat melihat vidio tersebut.
"Ini nggak mungkin, mana bisa kamu tiba-tiba jadi bagian keluarga Bakhri pasti mereka salah orang," ucap Rani setelah melihat vidio hingga selesai.
"Memang itu kenyataannya, tidak ada yang salah jika Allah sudah berkehendak," balas Daffa.
"Kalian semua pasti bersekongkol untuk membohongi gue," ucap Rania yang masih tak percaya, tak terima jika Azmia adalah keturunan keluarga Bakhri.
"Terserah, Lu aja deh mau percaya atau tidak," balas Daffa yang sudah mulai kesal dengan Rania.
"Mas kenapa kamu diam saja?" tanya Rania.
__ADS_1
"Memangnya saya harus ngapain semua sudah di jelaskan, tapi kamu sendiri yang tak percaya ya sudah itu terserah kamu bukan urusan saya," balas Alby dengan tegas dia sudah tak ingin lagi berurusan dengan Rania.
"Kalian semua ah ...." Rania berdiri dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan meja Azmia dengan perasaan marah.