
"Kak," panggil Azmia di depan pintu ruang kerja Revan.
"Masuk, Ay," ucap Revan dari dalam ruangan.
"Sibuk ya," ucap Azmia saat melihat Revan serius menatap layar laptop di depannya.
"Enggak kok, sini!" Revan menyuruh Azmia agar mendekat.
"Kok sudah pulang?" tanya Revan.
"Iya," jawab Azmia.
"Ada apa Mba Delisa ngajak ketemuan?" tanya Revan.
"Tanya-tanya tentang bisnis," jawab Azmia.
"Oh."
"Ay, masa tadi Mba Delis nanyain kenapa aku nggak terima cinta Kak Diaz," ucap Azmia.
"Terus kamu jawab apa?" Revan mulai penasaran dengan cerita istrinya.
"Cie ... kepo, kasih tau nggak ya." Azmia berkata sambil tertawa kecil.
"Kasih tau nggak." Revan mencoel pinggang Azmia.
"Enggak."
"Nih." Revan menggelitik Azmia.
__ADS_1
"Kakak, geli," keluh Azmia sambil tertawa karena merasa geli.
"Kasih tau nggak," ucap Revan sambil terus menggelitik istrinya.
"Iya-iya." Azmia menyerah.
"Ya Mia bilang saja kalau Mia sudah di jodohkan dengan Kakak," ujar Azmia.
"Kenapa kamu mau di jodohkan dengan aku?" tanya Revan.
"Karena kasihan Kakak kan sudah menunggu Mia lama sekali," jawab Azmia.
"Astaghfirullah, berarti selama ini nggak pernah cinta padaku, lalu untuk apa kita jalin pernikahan ini, Dek." Revan yang tadi memeluk erat perut Azmia kini langsung melepas dan berpindah memandangi layar laptop, tapi posisi Azmia masih berada di pangkuan Revan.
"Kakak marah?" tanya Azmia karena merasa sikap Revan berubah.
Revan hanya diam tak menjawab.
"Kak, maafin Mia, Mia hanya bercanda. Mia menerima Kakak karena Mia sayang sama Kakak, Mia nggak mau menyakiti Kakak lagi. Mia nggak mau Kakak marah." Azmia berkata dengan lirih, Azmia merasa sedih karena Revan masih saja sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba air matanya
Revan masih terdiam tak menanggapi ucapan Azmia.
Tak mendapat respon dari Revan. Azmia dengan perlahan berdiri dari pangkuan Revan rasanya ingin sekali dia segera keluar dari ruangan Revan menuju kamar karena di dalam kamarlah tempat paling nyaman untuk meluapkan isi hatinya yang terasa sesak mungkin dengan menangis bisa menyembuhkan kesedihannya.
Sesampainya di kamar Azmia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur memeluk guling sambil mengeluarkan kesedihannya.
'Kakak segitu marahnya sama Mia padahal kan Mia hanya bercanda,' batin Azmia di sela-sela tangisannya.
**
__ADS_1
Di ruang kerja Revan masih fokus pada layar laptopnya, tapi sesaat kemudian dia bergegas pergi keluar dari ruangan menuju lantai bawah.
"Lho, Den mau kemana, kok terburu-buru begitu?" tanya Mbo Asih saat melihat Revan menuruni anak tangga dengan berlari kecil.
"Ada urusan bentar. Nanti kalau Azmia nyariin bilang saja saya keluar sebentar ya, Mbok," ucap Revan sebelum keluar dari pintu .
"Baik, Den," balas Mbok Asih.
Setelah itu Revan keluar rumah pergi menggunakan mobil.
***
Di kamar
Azmia tertidur pulas setelah lelah menangis.
****
Di tempat lain
"Bagaimana ketemuannya?" tanya Ardiaz.
"Alhamdulillah. Azmia itu baik banget ya, Mas. Delisa jadi merasa nyambung dan seneng ngobrol sama dia," jawab Delisa.
"Syukurlah," ujar Ardiaz.
"Lalu bagaimana menurut dia tentang cafe kita?" tanya Ardiaz.
"Kalau kata Azmia sih, kita lihat situasi di cafe, Mas tentang lokasi, desain dan menu," jawab Delisa.
__ADS_1
"Oh, gitu. Gimana kalau kita ajak Azmia berkunjung ke cafe kita?" Ardiaz meminta pendapat pada istrinya.
"Ide bagus tuh, Mas. Delis setuju banget. Besok Delisa bilang ke Azmia."