
Di cafe lovely
"Rin," panggil Azmia.
"Hem.m.m." Karina hanya membalasnya dengan deheman.
"Besok kamu temenin aku ya ke rumah sakit," ucap Azmia karena tidak mungkin dia pergi sendiri. Bukan sendiri sih, tapi bersama Ali dan Mama Iren. Akan tetapi Azmia akan lebih nyaman jika bersama Karina.
"Hem.m.m." Karina hanya membalasnya dengan deheman lagi.
"Semoga hasilnya sesuai harapan ya, Rin," ujar Azmia.
"Hem.m.m." Lagi-lagi Karina hanya membalas dengan deheman.
"Dari tadi aku ngomong kamu cuma balas hem.m.m.m terus, kamu kenapa sih, Rin?" tanya Azmia.
Karina tidak menjawab melainkan langsung menarik kepala Azmia agar melihat ke arahnya. Posisi mereka sedang rebahan di atas kasur Azmia ngobrol sambil fokus menatap ke langit-langit kamar. "Hem.m.m." Karina menunjukkan ke arah wajahnya.
"Hehehe, lupa," ucap Azmia sambil tertawa kecil saat melihat wajah Karina yang sedang memakai masker.
__ADS_1
"Jika semua sudah terbukti kalau aku anak dari keluarga Bakhri gimana ya, Rin?" tanya Azmia karena semua ini terjadi secara mendadak, jadi dia masih merasa antara percaya nggak percaya.
"Bagus dong, kamu jadi punya keluarga yang utuh, keluarga yang menyayangi kamu," jawab Karina setelah membersihkan maskernya.
"Iya, tapi aku merasa canggung," ucap Azmia.
"Nanti lama-lama juga terbiasa, semangat, Mia," balas Karina.
Azmia mengangguk sambil tersenyum.
Tak bisa dia bayangkan bagaimana rasanya berkumpul kembali dengan keluarga yang sudah tak jumpa selama dua puluh satu tahun, itu kan rasanya pasti sesuatu banget.
Di kediaman Bakhri
Setelah kepulangan Azmia dan Karina. Ali dan Mama Iren duduk di kursi ruang keluarga.
"Ma, apa tidak sebaiknya kita bilang ke Papa soal Azmia?" tanya Ali membuka obrolan, karena kan sebagai salah satu orang tuanya maka Papa Bakhri harus mengetahui tentang hal itu.
"Iya, tapi besok saja bilangnya karena ini kan sudah larut malam takut Papa sudah tidur," jawab Mama Iren.
__ADS_1
"Baiklah. Semoga hasil tes DNA sesuai dengan harapan kita ya, Ma," ucap Ali.
"Amin, semoga saja. Mama sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya agar Azmia bisa tinggal bersama kita," balas Mama Iren. Harapan seorang Ibu supaya bisa berkumandang bersama kembali dengan putrinya yang telah lama hilang. Tadi sebenarnya Mama Iren menyuruh Azmia agar menginap saja, tapi Azmia menolak dengan alasan sebelum semua terbukti dan tercatat secara resmi bahwa dia adalah anak bungsu keluarga Bakhri maka Azmia memilih untuk tinggal di cafe.
"Ali juga, Ma," sambung Ali.
"Ma, Ali masuk kamar dulu ya," pamit Ali. Dia sudah merasa ngantuk.
"Iya, Li," balas Mama.
Setelah berpamitan dengan Mamanya Ali beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar. Mama Iren pun sama ia pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
****
Di tempat lain.
"Baiklah, besok lu urus aja, gue pengen besok semua sudah selesai. Nanti kita ketemu di tempat biasa," ucap seseorang dari sambungan telepon.
Apapun itu akan gue lakuin buat kamu, meskipun pada akhirnya gue nggak bisa hidup bersamamu, tapi aku selalu bahagia karena bisa bertemu dengan wanita seperti mu. Saat ini akan aku perjuangkan keberadaan terlebih dahulu untuk membuktikan kalau kamu adalah wanita yang pantas buat gue, tunggulah sampai pada saatnya tiba. Semoga kamu masih sama seperti dulu," batin seseorang.
__ADS_1