
'Ya Allah, semoga ini adalah keputusan yang terbaik. Semoga kedepannya aku bisa jauh lebih baik. Hamba juga bisa menjadi suami yang sholeh, imam yang bisa memberikan contoh kebaikan, maafkanlah hamba mu ini ya Allah karena telah lalai dan menyakiti titipan-Mu serta tak bisa memberikan kebahagiaan untuknya,' batin Alby sambil memandangi surat pengajuan cerai yang di berikan Azmia.
"Bismillah, semoga kamu selalu bahagia dengan yang lain, maafkan aku karena belum bisa menjadi suami yang baik," lirih Alby sebelum benar-benar menandatangi surat cerai tersebut.
Sesaat kemudian dengan kemantapan hati Alby mulai mengangkat pulpen dengan perlahan kemudian dia mendatangi surat cerai tersebut. "Ku ikhlaskan kamu dengan yang lain semoga kebahagiaan selalu menghampiri mu istriku," lirih Alby kemudian memasukkan surat tersebut ke dalam amplop putih seperti sedia kala saat Azmia memberikan padanya. Setelah di masukan dalam amplop Alby menyimpannya di dalam tas kerja supaya besok bisa dia antarkan ke cafe setelah pulang dari kantor.
Karena waktu sudah hampir larut malam Alby berdiri dari duduknya berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar.
Sampai di kamar Alby langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. 'Sebentar lagi kamar ini akan menjadi tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang kita, Mi. Haruskah aku mengubah tampilan dalam kamar ini atau aku pindah ke kamar sebelah saja saat Allah mengizinkan ku menikah kembali dengan orang lain. Aku tidak ingin tempat kenangan kita di tempatin orang lian. Mia apakah tidak ada kesempatan lagi untuk kali ini saja, apakah begitu besar kesalahan yang ku perbuat sehingga membuat mu menjauh dariku. Terima kasih untuk kesempatan dan waktu mu selama satu tahun yang telah bersedia menemani hari-hari ku,' batin Alby sambil memandangi langit-langit kamarnya.
__ADS_1
***
Tak jauh berbeda dengan Alby.
Di kamar sebrang seorang wanita tengah menatap langit kamarnya. Mengingat kisah perjalan hidupnya yang begitu penuh dengan lika-liku.
****
Alarm berbunyi menandakan waktu pagi telah tiba Alby segera bergegas masuk kedalam kamar mandi meskipun sebenarnya dia malas sekali untuk berangkat kerja entah kenapa rasanya berat sekali untuk berangkat.
__ADS_1
Selesai ritual di kamar mandi Alby langsung berganti pakaian kerja kemudian berdiri di depan cermin melihat penampilannya. Setelah rapi Alby berjalan keluar kamar menuju ruang kerja mengambil tas kerjanya kemudian dia berjalan keluar rumah, tapi saat hendak membuka pintu tiba-tiba ada suara dari belakang.
"Sarapan dulu, Den!" Mbok Asih menyuruh Alby agar sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.
"Al, sarapan di kantor saja, Mbok. Al berangkat dulu ya, Mbok. Assalamualaikum," ucap Alby sebelum melangkahkan kakinya keluar dari pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas Mbok Asih sambil memandangi majikannya yang keluar rumah. 'Semenjak Non Mia pergi dari rumah si Aden jadi jarang sekali makan di rumah, badannya juga sekarang terlihat agak kurusan, tampangnya seperti orang yang banyak pikiran. Kenapa Non Mia tidak pulang-pulang ya. Kasihan si Aden jadi kurang ke urus begitu. Apa sedang terjadi sesuatu di antara mereka ya? ya Allah semoga Engkau selalu melindungi Non Mia dan Den Alby,' batin Mbok Asih sambil memikirkan para majikannya.
Mbok Asih memang belum mengetahui yang sebenarnya karena Azmia dan juga Alby tak ada yang buka suara.
__ADS_1