
Malam hari sesuai dengan janjinya akan membantu Karina. Tepat pukul tujuh malam Daffa datang ke rumah Karina.
"Assalamu'alaikum," ucap Daffa di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas Karina serta kedua orangtuanya, mereka sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan Daffa.
Mendengar ada salam Karina berdiri dari duduknya menghampiri Daffa. "Silakan masuk, Kak!" Karina mempersilakan Daffa untuk masuk ke dalam rumah.
Daffa mengangguk kemudian berjalan masuk menyalami kedua orang tua Karina terlebih dahulu sebelum dia duduk bergabung.
"Siapa nama kamu?" tanya Papa Karina.
"Saya Daffa, Om," jawab Daffa.
"Apa kalian sudah lama berpacaran?" Kini Mama Diva yang mengajukan pertanyaan.
Mama Diva -- ibu Karina.
"Baru satu bulan, Tante," jawab Daffa.
"Oh, apa kamu serius dengan Karina?" tanya Mama Diva.
Karina dan Daffa langsung saling pandang seakan bertanya bagaimana ini.
"Insya'Allah serius, Tan," jawab Daffa dengan tegas supaya orang tua Karina percaya, meskipun dalam hati dia bingung dengan keadaan seperti ini.
"Kalau serius saya tunggu minggu depan kamu dan orang tua kamu datang ke sini untuk melamar anak saya. Saya nggak suka kalian pacaran lama-lama lebih baik pacaran saja setelah menikah," ucap Papa Dika -- papa Karina.
"Baik, Om," balas Daffa.
"Ma, Pa apa itu tidak terlalu cepat kita kan baru saling kenal. Lagi pula Karin masih ingin fokus kuliah dulu," sahut Karina.
"Setelah menikah juga masih bisa kuliah. Ya kan, Nak Daffa?" tanya Mama Diva.
"Iya, Tan," jawab Daffa. Dia hanya berbicara seperlunya saja karena pikirannya melayang-layang niat hati cuma mau bantu Karina malah dia terjebak begini.
__ADS_1
"Namun, Ma __." Karina belum selesai berbicara Mama Diva sudah lebih dulu menyahutnya.
"Sudah tidak ada tapi-tapian," sambung Mama Diva.
Karina hanya bisa pasrah. Nanti akan di omongin lagi dengan Daffa.
"Oh, iya, Nak Daffa kerja dimana?" tanya Papa Dika.
"Saya bekerja di perusahaan X, Om," jawab Daffa.
"Oh, iya-iya," ucap Papa Dika sambil menganggukkan kepalanya.
"Kita makan malam dulu, yuk! nanti obrolannya di lanjut lagi." Mama Diva mengajak semua agar makan malam terlebih dahulu.
Mereka pun makan malam bersama.
****
Di cafe lovely
Azmia yang bosan karena nggak ada Karina jadi dia memilih bergabung dengan para anak buahnya di lantai bawah.
"Lagi pulang ke rumahnya, bonyoknya pulang dari luar kota," jawab Azmia.
"Oh, pantas saja nggak nonggol," ujar karyawan tersebut.
"He'em," balas Azmia.
"Sini biar saya saja yang ngantar pesanan bosen di sini sama Rudi." Azmia mengambil alih nampan yang ada di tangan Ine.
"Lha, Mba malah pergi katanya mau nemenin saya," ujar Rudi.
"Males ah, bosen," balas Azmia. Kemudian berlalu pergi keluar dapur mengantarkan pesanan.
"Azmia," panggil seseorang dari belakang saat Azmia mengantarkan pesanan.
__ADS_1
Merasa namanya di panggil Azmia pun menoleh ke belakang. Azmia membalas dengan senyuman. Setelah mengantarkan pesanan Azmia menghampiri orang yang memanggilnya.
"Mba Nila, sendirian?" tanya Azmia.
Ya orang yang memanggil Azmia adalah Nila pacar Alby.
"Iya. Lagi sibuk ya?" tanya Nila.
"Tidak," jawab Azmia.
"Kalau begitu bisa ngobrol sebentar?" tanya Nila dia ingin mengajak Azmia ngobrol santai.
"Bisa." Azmia duduk kursi depan Nila.
"Ada yang bisa Mia bantu, Mba?" tanya Azmia.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya sesuatu, tapi aku ingin kamu berkata jujur pada ku," ucap Nila.
"Apa itu, Mba?" Azmia mulai penasaran, tapi juga deg degan.
"Apa benar kamu adalah mantan istri Mas Alby?" tanya Nila. Meskipun dia sudah tahu dari Alby, tapi dia ingin mendengar dari mulut Azmia sendiri.
Azmia terdiam dia bingung antara jawab atau tidak, tapi dia juga sudah di tahan ingin memberi tahu Nila sebelum terjadi kesalahpahaman.
Setelah diam beberapa saat Azmia mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa kamu tidak berbicara dari awal?" tanya Nila.
"Maafkan Mia, Mba. Bukan bermaksud membohongi Mba Nila, tapi Mia nggak mau Mba Nila salah paham. Mia sudah menyuruh Mas Alby untuk menceritakan semuanya pada Mba Nila karena Mas Alby lebih berhak memberi tahu semuanya dari pada Mia," jelas Azmia. Karena jika mantan istri bercerita nanti di bilang masih berharap.
"Mas Alby sudah menceritakan semuanya, makanya saya menemui kamu. Apa saya boleh tahu kenapa kalian bercerai? karena yang saya lihat hubungan kalian baik-baik saja." Nila seakan mengintrogasi Azmia karena dia penasaran dengan hubungan Alby dan Azmia.
"Kita memang sepakat bercerai dengan baik, jadi ya seperti yang Mba Nila lihat, tapi ada sesuatu yang tidak bisa saya ceritakan pada Mba Nila. Mba Nila pasti tahulah setiap hubungan pasti ada masalah yang menerpa. Ya mungkin inilah jalan terbaik untuk kita," jelas Azmia. Dia nggak mungkin menceritakan semuanya pada Nila karena itu adalah aib dalam rumah tangganya, aib suaminya.
"Apakah tidak ada jalan keluar yang lain selain perceraian?" tanya Nila. Dia seakan menyayangkan perceraian Azmia dan Alby karena yang dia lihat Alby masih ada rasa dengan Azmia hingga foto Azmia saja masih terpampang jelas di ponselnya.
__ADS_1
"Jika sudah takdir apa boleh di kata. Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya," jawab Azmia.
Nila terdiam apa yang di bicara Azmia memang benar, tapi dia masih penasaran mungkin dengan Alby dia bisa menemukan jawaban yang lebih memuaskan.