
"Ar." Mama Irana menghampiri Putranya yang sedang duduk di kursi teras rumah bersantai sambil menikmati secangkir teh.
"Ma," ucap Ardiaz saat melihat seseorang yang datang menghampirinya.
"Boleh Mama duduk?" tanya Mama Irana.
"Iya, Ma," jawab Ardiaz.
Setelah mendapat jawaban dari putranya Mama Irana duduk di kursi samping Ardiaz.
"Ar, Mama minta mulai saat ini belajarlah untuk melupakan Azmia," ucap Mama Irana membuka obrolan mencoba memberi saran pada putranya.
"Memangnya kenapa, Ma? Bukankah saat itu, Mama sudah setuju jika Ar menjalin hubungan dengan Azmia," tanya Ardiaz yang merasa heran dengan ucapan Mamanya yang plin-plan karena waktu itu bilang iya, sekarang bilang enggak.
"Itu kan dulu sebelum Mama mengetahui Azmia yang sesungguhnya. Ar, kita tidak pantas untuk keluarga mereka. Mama mohon lupakan Azmia dan belajar untuk menerima Delis. Dia adalah wanita yang selalu mencintaimu dengan setulus hati lagi pula Delis juga baik, bukalah sedikit hatimu untuk dia," jelas Mama Irana.
"Baiklah, Ma. Ar, akan coba," ucap Ardiaz menerima saran Mamanya. Dia tak mau ribet jika memang itu yang terbaik ya sudah, karena jodoh sudah di tangan yang Maha kuasa.
"Alhamdulillah, ya sudah sekarang istirahatlah Mama masuk dulu," ucap Mama Iren sebelum masuk ke dalam rumah.
"Iya, Ma," balas Ardiaz.
Setelah memberikan saran pada putranya Mama Iren masuk ke dalam rumah berjalan menuju ruang kerja suaminya.
"Bagaimana, Ma?" tanya Papa Irwan saat melihat istrinya masuk ke dalam ruangan.
"Sudah, Pa," jawab Mama Irana.
"Apa Ar setuju untuk kembali dengan Delis?" tanya Papa Irwan.
"Alhamdulillah, Pa," jawab Mama Irana.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Papa Irwan. Beliau begitu bersyukur karena putranya menyutujui saran orang tuanya.
"Papa ingin kopi?" tanya Mama Irana menawarkan pada suaminya.
"Boleh, Ma," jawab Papa Irwan dengan senang hati menerima tawaran istrinya, meminum kopi bisa menemaninya menyelesaikan pekerjaan.
****
Di tempat lain
Setelah selesai makan malam kedua keluarga tersebut berbincang-bincang tentang niat awal mereka yang akan menjodohkan putra dan putrinya.
"Bagaimana, Ri, apa mau kita langsungkan saja ke pernikahan tanpa tunangan?" tanya Ayah Wisnu.
"Kalau aku terserah mereka saja," jawab Papa Ari.
__ADS_1
"Kita tanya putra, putri kita dulu," ucap Mama Iren.
"Betul, tuh saya setuju dengan, Iren," sambung Bunda Rita.
"Sayang, gimana menurut kamu?" tanya Bunda Rita dengan lembut.
"Bisakah kita di beri waktu untuk menjawabnya?" tanya Revan. Dia tidak ingin Azmia tertekan dengan keadaan yang mendadak seperti ini. Meskipun mereka sudah dekat lama, tapi Revan ingin membicarakan terlebih dahulu dengan Azmia.
"Boleh, tapi jangan lama-lama," ujar Bunda Rita.
"Iya, Bun," balas Revan.
"Bun, boleh nggak kita ngobrol berdua?" tanya Revan meminta ijin pada Bunda untuk berbicara empat mata dengan Azmia.
"Silakan!" Bukan Bunda yang menjawab melainkan Mama Iren.
Setelah mendapat laporan ijin Azmia dan Revan berdiri dari duduknya berjalan keluar restoran.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Azmia setelah mereka keluar dari restoran.
"Kita ke taman kota yuk!" ajak Revan.
"Tapikan __." Azmia belum selesai berbicara Revan sudah lebih dulu menyahutnya.
"Enggak ada penolakan," ucap Revan.
"Masuklah." Revan membukakan pintu mobil untuk Azmia.
"Terima kasih," ucap Azmia kemudian masuk ke dalam mobil.
Setelah Azmia masuk, Revan juga masuk ke dalam mobil lewat pintu samping melajukan mobilnya menuju lokasi.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan kini mereka tiba di lokasi taman kota, tempat paling nyaman untuk sekedar nongkrong bareng teman atau pacar.
Setelah memarkirkan mobil Azmia dan Revan keluar dari mobil kemudian melangkahkan kakinya mengelilingi area taman mencari tempat yang nyaman untuk mereka berdua.
"Mau beli sesuatu?" tanya Revan.
"Tidak perlu, Kak. Mia masih kenyang," jawab Azmia.
"Baiklah. Kita duduk di situ ya," ucap Revan sambil menunjuk ke arah satu bangku kosong yang berada di depan air mancur.
Azmia mengangguk sebagai jawaban. Kemudian mereka berjalan menghampiri bangku tersebut.
"Mi," panggil Revan membuka obrolan.
"Iya," balas Azmia.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan saat tahu jika orang yang di jodohkan dengan mu adalah aku?" tanya Revan.
"Terkejut, nggak nyangka banget," jawab Azmia.
"Bukan itu," ucap Revan.
"Terus?" tanya Azmia yang tak mengerti.
"Kamu senang atau tidak?"
"Senang," jawab Azmia. Dia merasa lega saat orang yang ingin di jodohkan dengannya adalah orang yang sangat dekat dengan dirinya.
"Alhamdulillah, kalau begitu bisa kita jalin hubungan yang lebih serius?" tanya Revan. Dia seakan sudah tak sabar untuk segera meminang Azmia.
"Apa tidak terlalu terburu-buru, Kak?"
"Tidak. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Mi. Cinta ini akan selalu ada untukmu, tak ada yang mampu menggantikan posisimu di hatiku," jelas Revan.
"Kenapa, Kakak harus mempertahankan cinta itu?"
"Karena kamu adalah wanita yang patut untuk di pertahankan dan di perjuangan," jawab Revan.
Azmia terdiam dia begitu terharu dengan jawaban Revan.
"Aku ingin kita mempersatukan cinta kita dalam ikatan pernikahan. Apa kamu bersedia menikah denganku?" tanya Revan.
"Apa, Kakak yakin dengan keputusan, Kakak? Mia nggak mau ada penyesalan di belakang," ucap Azmia.
"Aku sudah yakin seratus persen. Apa kamu tidak bisa melihat begitu besarnya cintaku padamu? Apa aku harus melakukan sesuatu sebagai bukti bahwa aku mencintaimu dengan setulus hatiku?"
"Iya, Mia butuh bukti keseriusan, Kakak," balas Azmia.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?" tanya Revan.
"Jika, Kakak serius Kak Revan harus datang ke rumah bilang pada Mama dan Papa," balas Azmia.
"Hampir saja aku jantungan, Dek," ucap Revan karena dia takut Azmia menyuruh sesuatu yang aneh-aneh atau bahkan menolaknya ternyata sebaliknya dia malah di suruh menemui ke dua orang tua Azmia.
"Insya'Allah jika tidak ada halangan esok hari Kakak akan datang menemui Mama dan Papa tunggu aku ya," ujar Revan
Selangkah lagi mimpi dia akan segera terwujud.
Azmia mengangguk sebagai jawaban.
"Kakak senang sekali. Semoga niat kita dapat ridho dari Allah SWT," ucap Revan.
"Amin," balas Azmia.
__ADS_1