
Awal yang baru dengan suasana baru dan penampilan baru pula.
Hari pertama Azmia datang kuliah dengan penampilan yang berbeda. Dia yang biasa tampil simpel, kini harus sedikit lebih ribet karena harus memakai kacamata, tapi meskipun berkacamata justru Azmia yang sekarang terlihat lebih cantik. Azmia sengaja merubah sedikit penampilannya agar Alby tidak mengenalinya.
Motor yang biasa ia gunakan sengaja diletakkan di garasi cafe. Azmia harus membeli motor baru lagi supaya penyamarannya lebih sempurna.
Jika masih menggunakan motor kesayangannya Alby pasti akan sangat mudah menemukan dirinya, bukan hanya motor. Azmia pun harus rela mengganti nomor pribadinya demi kelancaran proses penyamarannya.
Hari ini benar-benar hari dimana dirinya seperti baru dilahirkan. Memulai hidupnya dari awal lagi, tapi kini berbeda dia harus menjalani hidup tanpa keluarga.
"Ah ... ternyata begini cantik juga." Azmia melihat dirinya di depan cermin.
Setelah rapi Azmia keluar dari apartemen.
"Pagi, Mang Asep," sapa Azmia saat sampai di pos satpam.
Mang Asep menatap Azmia dengan teliti dari atas sampai bawah. "Neng geulis," ucap Mang Asep.
"Iya, Mang ini Mia," balas Azmia.
"Masya'Allah, Neng tambah cantik banget Mamang sampai tidak kenal," ujar Mang Asep.
"Mamang bisa saja," balas Azmia.
"Oh ... iya Mang, Mia berangkat dulu ya," pamit Azmia.
"Iya, Neng, hati-hati di jalan," ucap Mang Asep.
"Siap, Mang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Mang Asep, Azmia mulia melajukan motornya menuju kampus.
Satu jam perjalanan akhirnya Azmia sampai di kampus.
"Mel, lihat deh itu seperti Azmia, tapi motor beda, penampilan juga sangat berbeda," ucap Karina saat melihat seseorang yang sedang memarkirkan motor.
"Mungkin dia mahasiswi baru," balas Melia.
"Kita samperin yuk, Mel penasaran nih." Karina menarik tangan Melia agar menghampiri orang tersebut.
"Hai ... mahasiswi baru ya?" tanya Karina.
"Iya," jawab Azmia pura-pura tidak kenal Karina.
"Rin, kok suaranya mirip Azmia ya." Melia berbisik di telinga Karina.
Azmia yang mendengar ucapan Melia menahan tawanya. "Aku cantik ya?" Azmia menatap kearah Karina dan Melia.
"Terima kasih," ucap Azmia.
"Sama-sama," balas Karina.
"Si Mia kemana sih, kok belum datang padahal sebentar lagi kelas di mulai," ujar Melia.
"Iya, tidak biasanya dia seperti ini," balas Karina.
"Kita tunggu di kelas saja yuk, Rin!" ajak Melia.
"Ayolah!" Lho ... anak baru tadi kemana?" Karina menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Azmia baru.
"Sudahlah, mungkin dia masuk kelas," ucap Melia.
__ADS_1
Karina dan Melia berjalan menuju ruang kelas. Sesampainya di kelas mereka di kejutkan dengan adanya Azmia baru.
"Mel, kok dia duduk di kursi Azmia?" Karina menyenggol lengan Melia.
"Kita samperin yuk!" Melia dan Karina berjalan menuju kursi Azmia.
"Kamu kenapa duduk di sini?" tanya Karina.
"Memangnya tidak boleh ya?" Azmia balik bertanya.
"Bukan begitu, tapi ini tempat sahabat kami," ujar Karina.
"Oh ... orangnya yang ini." Azmia memperlihatkan foto mereka bertiga yang ada di ponselnya.
"Why?" Karina dan Melia langsung menatap serius ke arah Azmia.
Azmia membalasnya dengan senyuman manis kemudian membuka kaca matanya.
"Azmia, kamu ... tega sekali ngerjain kita," omel Karina sambil memukul pelan lengan Azmia.
" Ha-ha-ha sesekali tak apalah," balas Azmia.
"Kenapa sih berpenampilan seperti ini?" Melia yang heran dengan perubahan Azmia.
"Nanti saja ceritanya," jawab Azmia. Mereka harus menghentikan obrolannya karena dosen masuk.
**
Di dalam boleh sakit, tapi di luar kita harus tetap bahagia karena diri kita itu butuh canda tawa bukan tetesan air mata.
Jangan terus terpuruk karena rasa sakit, karena sakit itu bisa terobati dengan kebahagiaan yang kita ciptakan.
__ADS_1
Tak perlu menyakiti diri sendiri ketika kita di khianati karena sejatinya masih banyak cara untuk bahagia meskipun tak bersama sang kekasih hati.