
Sesuai dengan janjinya pada Azmia. Jam tujuh pagi Devan bersama Angga menjemput Azmia. Mereka menunggu di depan gerbang apartemen. Tak lama Azmia datang.
"Tumben, Neng geulis pagi-pagi sudah rapi mau pergi?" tanya Mang Asep.
"Iya, Mang. Tuh sudah di jemput, Bang Angga." Azmia menunjuk ke arah mobil yang parkir di depan gerbang.
"Oh ... sama, Den Angga," ucap Mang Asep.
"Iya, Mang. Mia berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Azmia.
"Wa'alaikumussalam," balas Mang Asep.
Setelah itu Azmia berjalan menuju gerbang menghampiri mobil Angga.
"Assalamualaikum," ucap Azmia sambil masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumussalam," balas Devan dan Angga.
"Mau Abang temenin nggak?" tanya Angga.
"Tidak perlu," jawab Azmia. Dia memilih duduk sendiri di kursi belakang.
"Ada sesuatu yang di pikirkan?" Angga merasa ada sesuatu yang aneh dari Azmia.
"Tidak, Bang," jawab Azmia dengan tersenyum manis.
Seperti biasa saat pergi bertiga Devan selalu jadi sopir pribadi mereka.
Azmia duduk anteng di belakang tidak ada suara lagi yang keluar dari mulutnya. Azmia memilih melihat ke arah luar jendela. 'Kenapa ya sejak tadi perasaanku nggak enak gini. Ada apa ya? Aku juga jadi merasa gugup padahal kemarin biasa saja,' batin Azmia yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya.
"Kamu baik-baik aja, Dik?" tanya Angga karena dia merasa ada yang aneh pada adiknya. Angga melihat dari spion mobil Azmia seperti orang yang gelisah.
"Dik," panggil Angga lagi karena Azmia tak menjawab saat dia tanya.
"Iya, Bang," balas Azmia.
"Kamu baik-baik saja?" Angga bertanya kembali.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mia baik, kok," jawab Azmia dengan tersenyum kecil agar Angga tidak curiga. Azmia tidak ingin Angga khawatir terhadapnya. Azmia sendiri juga bingung dengan dirinya sendiri kenapa tiba-tiba seperti ini entah apa yang akan terjadi.
Tak lama mobil mereka sampai di tujuan hotel tempat Melia dan Derry melaksanakan acara resepsi pernikahan.
"Abang sama Kak Devan masuk saja terlebih dahulu, Mia tunggu Karina sebentar lagi dia sampai," ucap Azmia setelah keluar dari mobil.
"Baiklah. Kami duluan ya," ucap Angga.
"Iya, Kak," balas Azmia.
Angga dan Devan masuk kedalam menuju kamar mereka. Semua bredismed mendapatkan fasilitas gratis menginap dua hari di hotel. Mereka juga sudah di berikan kunci masing-masing. Angga dan Devan milih sekamar berdua biar tidak sendirian saat di dalam kamar.
Azmia menunggu Karina tak jauh dari pintu masuk hotel.
"Maaf menunggu lama," ucap Karina yang baru datang langsung menghampiri Azmia. Sejak Azmia baru berangkat dia sengaja langsung memberi kabar Karina supaya saat sampai di hotel ada temannya.
"Tidak apa," balas Azmia. "Ayo! masuk." Azmia mengajak Karina agar segera masuk ke dalam kamar hotel meskipun acara masih lama, tapi mereka sengaja di suruh datang pagi atau lebih awal agar bisa istirahat terlebih dahulu dan bersantai di hotel.
"Si Meli sudah datang belum, Mi?" tanya Karina sambil berjalan menuju kamar mereka berdua yang berada di nomor dua lima.
"Sepertinya belum, tapi aku nggak tahu juga sih nanti setelah kita sampai kamar kita telpon dia aja," ucap Azmia.
"Lanjutin tidur lagi yuk! Mi," ucap Karina.
"Ini sudah siang, Karina. Anak perawan tidak boleh tidur jam segini pamali." Azmia berkata sambil tertawa kecil. Dia merasa seperti orang tua saja bilang seperti itu.
"Bu Malinya ada nggak, Mi?" tanya Karina.
'Lagi pergi ke pasar," jawab Azmia.
"Kamu tuh ada-ada saja, Mi," ucap Karina.
"Lha kamu yang mulai," balas Azmia. Entah pada kenapa mereka berdua ngobrol nggak jelas begitu.
******
Di tempat lain.
__ADS_1
"Al, nanti malam ada undangan," ucap Daffa memberi tahu Alby.
"Gue males banget keluar, kepala pusing sekali," balas Alby.
"Kita nggak mungkin tidak hadir karena beliau adalah salah satu klien kita," jelas Daffa.
"Baiklah. Jam berapa kita berangkat?" tanya Alby.
"Jam tujuh malam, nanti gue jemput," jawab Daffa.
"Ok - ok," balas Alby.
"Lu, ngapa sih lemes banget?" Daffa melihat hari ini Alby sepertinya kurang semangat.
"Entahlah, sejak tadi perasaan gue nggak enak. Rasanya tuh sedih, seneng, tapi gimana ya? pokoknya gitu deh nggak bisa di ungkapkan dengan kata-kata." Alby menceritakan kegalauannya hari ini. Entah itu pertanda apa Alby juga tak mengerti.
"Lu udah kayak orang jatuh cinta aja. Sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata," balas Daffa.
"Cinta gue masih setia untuknya sampai saat ini. Ternyata cinta yang sesungguhnya itu jauh berbeda dengan cinta yang hanya karena rasa empati. Saat cinta empati pergi tidak terlalu sakit, tapi saat cinta yang sesungguhnya pergi rasanya tuh hilang semangat hidup gue," jelas Alby mewakili hatinya.
"Sekarang lu baru sadar, baru tahu, apa baru merasakan, atau karena sekarang lu merasa menyesal di tinggal Azmia?" Daffa memberondongi dengan banyak pertanyaan.
"Kalau itu sudah pasti, kapan ya dia kembali." Hanya itu yang keluar dari mulut Alby. Menanti sesuatu yang tak pasti itu sakit, apalagi kita telah menyakitinya. Ketika hati telah terluka maka sulit untuk mengobatinya, sulit untuk kembali lagi, berbeda jika gigi yang sakit tinggal beli obat di apotik, hehehe.
"Al-Al, ada orangnya lu sia-siakan, nggak ada lu cariin, lu tungguin pusing gue sama hidup lu. Lebih baik hidup gue jomblo juga nggak apa yang penting bahagia." Daffa membanggakan dirinya sendiri dengan kejombloannya. Entah masih memilih atau memang belum ketemu jodoh, entahlah hanya Daffa yang tahu.
"Jomblo aja bangga, Lu," ucap Alby.
"Biarin, dari pada lu udah nikah, tapi kayak jones, hahaha," balas Daffa sambil tertawa terbahak-bahak.
"Teman terlaknat lu bisanya ngeledekin gue terus," kesal Alby.
"Lha gue berkata jujur. Memang itulah kenyataannya. Status menikah, suami, tapi hidupnya kayak jones," ucap Daffa dengan jujur. Jujur itu memang kadang menyakitkan. Memang itulah yang di alami Alby status menikah, tapi hidup sendiri. Seperti jomblo ngenes.
"Sono-sono pergi ke ruangan lu." Alby mengusir Daffa agar pergi dari ruangannya. Pagi-pagi bukan dapat dukungan agar semangat kerja ini malah dapat ledakan terus dari teman terlaknat.
"Hahaha, jones," ledek Daffa. Dia segera berlari keluar ruangan sebelum di lempar pulpen oleh Alby.
__ADS_1
"Awas! lu potong gaji," ancam Alby.
"Bodo amat," balas Daffa. Daffa berkata hanya menongolkan wajahnya di pintu.