
Satu hari sebelum hari H Azmia dan Melia terpaksa meminta ijin pada suami mereka untuk menginap di kediaman Karina.
Azmia dan Melia dengan setia menemani Karina serta memberikan support agar Karina tidak gugup.
"Kenapa nggak sekalian sewa gedung saja sih, Rin?" tanya Melia.
"Sudah penuh semua, jadi ya terpaksa kita di rumah. Lagi pula hanya cara ijab kabul," jawab Karina. Dia dan Daffa memang sudah memutuskan untuk tidak terlalu mewah saat acara akad nikah.
"Iya juga sih," ucap Melia.
"Memang rencana acara resepsi akan di adakan kapan, Rin?" tanya Azmia.
"Kemungkinan satu bulan setelah ijab, Mi, Karena kan kita harus benar-benar mempersiapkan itu dari jauh-jauh hari," jawab Karina. Acara besar memang harus di persiapkan dengan semaksimal mungkin supaya tidak mengecewakan ya meskipun kadang tetap saja ada yang bikin kecewa. Itu adalah hal yang wajar dan sudah biasa terjadi.
"Memangnya kamu ingin acara resepsi di laksanakan di mana, Rin?" tanya Melia.
"Aku sih tergantung pihak laki-laki," jawab Karina.
"Nanti jika kalian sudah menentukan tanggal resepsi kalian berdua bisa kabarin aku. Mungkin aku bisa bantu kalau kalian ingin acara resepsi di laksanakan di gedung milik Opa," ujar Azmia.
"Nah, iya itu ada hotel milik keluarga Bakhri, atau kamu mau acara resepsi di cafe lovely?" tanya Melia.
"Wah, saran yang bagus tuh, nanti aku rekomendasi kan dulu ke Kak Daffa ya," jawab Karina.
"Sip, deh." Azmia mengacungkan jari jempolnya ke arah Karina.
__ADS_1
"Tidur yuk! ngantuk." Melia mengajak kedua sahabatnya agar istirahat terlebih dahulu sebelum menghadapi hari esok yang akan sangat melelahkan.
Mereka bertiga pun mulai memejamkan matanya. Sesaat kemudian Karina membuka matanya lagi. "Aku nggak bisa tidur," ucap Karina sambil menoleh ke arah samping kanan dan kiri.
"Tidur, Rin. Besok kamu pasti capek banget," balas Melia dengan mode mata merem mulutnya berbicara.
"Iya, Rin, betul tuh kata Meli," sambung Azmia.
"Baiklah." Karina memejamkan matanya kembali dalam hati ia berdoa supaya bisa tidur nyenyak malam ini.
****
Di tempat lain
"Enggak usah tegang gitu, selow," ucap Alby sambil memegang bahu Daffa.
"Santai saja, jangan terlalu di pikirkan," ujar Alby.
"Gimana mau santai, kalau keadaan seperti ini," balas Daffa.
"Kan dulu, Lu yang bilang ke gue gitu slow ja, Al, santai. Ngerasain kan, Lu sekarang," ucap Alby.
"Kan dulu gue belum pernah ngerasain," balas Daffa sambil tertawa kecil.
"Habis ini, Lu jangan bulan madu dulu," ujar Alby.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Daffa yang heran masa dia habis nikah nggak boleh bulan madu.
"Katanya kan, Lu mau ngurus acara resepsi," jawab Alby.
"Iya, sih. Eh ... tapi kan bulan madu paling hanya beberapa hari duang," ujar Daffa.
"Iya, tapi lebih baik setelah acara resepsi biar tenang nggak ada tanggungan," balas Alby.
"Suka-suka gue lah. Lagi pula, Lu ngapa sih gue yang mau bulan madu, Lu yang riweh," ucap Daffa.
"Enggak apa kan gue cuma kasih saran duang," balas Alby.
"Gue tahu, nih, Lu pasti takut kan gue tinggal bulan madu. Ngaku, Lu," ujar Daffa.
"Enggak juga, tapi salah satunya iya. Kerjaan di kantor banyak, Lu enak banget mau bulan madu," balas Alby.
"Dasar, Lu," ucap Daffa.
"Kalian berdua bukannya segera istirahat malah masih di sini. Tidur sana!" Bunda menghampiri Daffa dan Alby yang berada di teras rumah menikmati secangkir kopi.
"Belum ngantuk, Bun," ucap Alby.
"Masuk, tidur!" Bunda berkata dengan nada tegas.
"Iya, Bun." Kedua laki-laki yang terlihat gagah saat di luar, tapi sekali Bundanya berkata dengan tegas mereka langsung kicep seperti anak kucing yang imut.
__ADS_1
Alby dan Daffa langsung berdiri dari duduknya berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamar masing-masing.