Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 75 Kedatangan Rania


__ADS_3

"Abang memang belum pernah merasakan bagaimana kehidupan rumah tangga, tapi Abang akan merasa sakit saat kamu sakit. Peri kecil Abang, sedikit egois tak apa, pikirkan kebahagiaan mu kali ini saja, jangan terus memikirkan perasaan orang lain karena orang lain belum tentu memikirkan perasaan kamu." Angga menasehati Azmia. Dia ingin melihat Azmia bahagia bersama pasangannya, karena Angga takut tidak bisa menjaga Azmia lagi setelah dia menikah.


"Jika sudah tiba saatnya pasti kebahagiaan itu akan datang menghampiri Azmia, Bang. Abang tenang saja Azmia akan selalu baik-baik saja." Azmia berusaha meyakinkan Angga. Bukan tak ingin mempertahankan rumah tangganya, tapi jika di dalam rumah tangga tidak ada cinta untuk apa di pertahankan.


"Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu dimana pun kamu berada," ucap Angga.


"Amin. Terima kasih karena Abang selalu ada buat, Mia. Mia sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian," balas Azmia.


"Abang juga beruntung memiliki Adik seperti mu." Angga berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Azmia yang duduk di kursi memeluk Azmia dari arah samping.


Azmia hingga meneteskan air mata, pelukan Angga mampu membuatnya lebih tenang dan memberikan kekuatan padanya.


"Perm __ ah ... maaf, Pak saya pikir tidak ada tamu jadi saya langsung masuk," ucap sekretaris Angga yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Dia begitu terkejut melihat pemandangan yang tak biasa, pasalnya yang dia tahu Angga masih jomblo, tapi kini dia melihat Bosnya sedang memeluk seorang wanita.


Angga juga terkejut karena tiba-tiba ada sekretarisnya masuk, dia langsung melepaskan pelukannya.


"Tidak apa, Nov. Ada apa?" tanya Angga.


"Saya hanya ingin memberikan ini, Pak." Novi memberikan map pada Angga.


"Terima kasih," ucap Angga sambil menerima map tersebut.


"Kalau begitu saya permisi dahulu, Pak." Setelah memberikan map tersebut Novi langsung bergegas keluar dari ruangan Angga.


Setelah kepergian Novi. Angga duduk di kursi sebelah Azmia memutar kursi Azmia agar berhadapan dengannya.


"Jangan menangis, jika kamu ingin mengeluarkan keluh kesah mu, Abang akan selalu ada untukmu, Dik," ujar Angga sambil menghapus air mata Azmia yang membasahi pipinya.


"Abang selesaikan kerjaan ini dulu, nanti setelah ini Abang akan ajak kamu pergi ke suatu tempat supaya bisa menghilangkannya kegalauan mu," lanjut Angga.


"Baiklah," balas Azmia.


Angga kembali ke kursi kebesarannya menatap kembali layar laptop menyelesaikan pekerjaan yang tadi Sem tertunda.


Azmia juga bukan hanya duduk bersantai dia memilih mengecek beberapa laporan selama dia tidak di cafe karena sakit.


**

__ADS_1


Di tempat lain


"Ada apa kamu datang kesini? Jika tidak ada yang penting maka pergilah," ucap Alby dengan tegas.


"Al, aku hanya ingin mengajak mu makan siang bersama," balasnya.


"Aku sedang sibuk," ujar Alby.


"Al, please jangan seperti ini maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi berikan kesempatan lagi buat ku, Al," balasnya dengan memohon.


"Baiklah, tapi setelah ini jangan pernah ganggu aku lagi," ucap Alby.


"Ok, baiklah," balasnya.


Alby menutup layar laptopnya kemudian berdiri dari duduknya. "Ayo!" ucapnya sebelum keluar dari ruangan.


'Gue nggak akan melepaskan lu lagi, Al. Lu nggak boleh jatuh hati padanya, lu harus kembali ke dalam pelukan gue,' batinnya kemudian berdiri dari duduknya berjalan mengikuti langkah Alby dari belakang. "Al, tunggu!" teriaknya dari belakang.


Namun, Alby tak menghiraukannya dia tetap berjalan lebih dahulu.


"Al, lu mau kemana?" tanya Daffa saat berpapasan dengan Alby. Daffa keluar dari Lift, Alby ingin masuk kedalam lift.


"Kapan dia pulang ke Indonesia?" tanya Daffa.


"Satu minggu yang lalu yang waktu itu gua bilang," jawab Alby.


"Lupa gue, Al. Pergilah sana awas kalau ketemu istri nanti langsung di bawa ke pengadilan," sindir Daffa.


"Sue, lu," balas Alby kemudian masuk ke dalam lift.


"Awas gue mau masuk."


"Biasa aja dong, dasar pelakor," sindir Daffa langsung berlalu pergi berjalan menuju ruangannya.


"Al, kaki gue sakit banget nih sepertinya lecet deh," keluhnya sambil memegangi kakinya. Kini mereka berdua berada di dalam lift.


"Siapa suruh pakai sepatu begitu," balas Alby.

__ADS_1


"Al, masa lu nggak mau bantuin gue sih," keluhnya.


"Rania, gue kan nggak minta lu buat datang ke sini, jadi gue juga nggak peduli dengan apa yang terjadi sama lu," tegas Alby. Ya wanita yang datang menghampiri Alby adalah Rania.


'Kali ini lu bisa nolak gue, kita lihat aja nanti,' batin Rania.


Setelah life terbuka Alby dan Rania keluar berjalan menuju parkiran mobil. Mereka pergi menggunakan mobil Alby.


"Kita mau kemana?" tanya Alby setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Ke restoran yang berada di Mall X," jawab Rania.


Tanpa mengucap sepatah katapun Alby langsung tancap gas menuju Mall X.


"Azmia, bagaimana kabarnya?" Rania membuka suara.


"Jauh lebih baik," jawab Alby.


"Apa dia masih kuliah?"


"Masih." Alby hanya menjawab sekedarnya saja membuat Rania kesal.


'Sabar, Nia sabar,' batin Rania.


"Apa Revan pernah datang menemui Azmia?" tanya Rania dengan sengaja memancing Alby.


"Siapa, Revan?" Alby balik bertanya pura-pura tidak mengetahui semuanya. Alby ingin tahu bagaimana tanggapan Rania.


"Apa lu tidak mengetahuinya? tanya Rania.


"Tidak," jawab Alby.


"Dia kekasih Azmia saat mereka SMA, tapi mereka bukan hanya sekedar cinta monyet karena Revan cinta mati sama Azmia, bahkan mereka berjanji akan terus bersama dan akan menjalin bahtera rumah tangga setelah Revan menyelesaikan pendidikannya di Yogja," jelas Rania.


"Kok lu bisa tahu?" tanya Alby.


"Apa sih yang nggak gue tau, semua bisa gue cari tahu dengan mudah," jawab Rania dengan sombongnya, tanpa dia sadari orang yang berada di sampingnya adalah Kakak kandung Revan.

__ADS_1


"Lu memang hebat," puji Alby, tapi dalam hati berkata lain seakan muak dengan kelakuan Rania.


__ADS_2