
Di kamar
"Ay, makan ya." Revan membawakan sepiring nasi untuk istrinya.
Azmia menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu nggak mau makan nanti kamu sakit," ucap Revan.
"Mia nggak lapar, Kak," balas Azmia.
"Kamu boleh sedih, tapi kamu juga harus jaga kesehatan. Kalau kamu sakit nanti kamu nggak bisa jemput peri cantik." Revan terus membujuk istrinya agar mau makan.
"Kakak suapin, a-a-a," ucap Revan.
Azmia mengangguk kemudian membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.
"Kak," panggil Azmia.
"Iya, Ay," balas Revan.
"Kakak nggak marah kan kalau Mia merawat peri cantik?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Tidak, justru Kakak bahagia karena keluarga kita jadi lengkap sekarang," jawab Revan.
"Iya, Kak, tapi maaf __." Azmia menahan ucapannya.
"Maaf, kenapa?" tanya Revan yang merasa aneh karena istrinya nggak ada angin nggak ada ujan minta maaf.
"Mia belum bisa memberikan keturunan," jawab Azmia.
"Hust ... kamu nggak boleh bicara seperti itu lagi. Anak itu titipin Allah jadi kamu nggak perlu minta maaf. Mungkin memang saat ini Allah belum memberikan kepercayaan pada kita karena Allah sudah menyiapkan peri cantik untuk keluarga kita, meskipun itu bukan darah daging kita, tapi itu juga titipan Allah yang harus kita jaga. Titipan Allah melalui Mba Nila." Revan berkata sambil memegang kedua pipi istrinya.
"Terima kasih ya, Kak sudah mau menerima Azmia apa adanya," ucap Azmia sambil memegang tangan suaminya yang menempel di pipinya.
"Sama-sama, Sayang." Revan mencium kening Azmia sebagai rasa kasih sayang pada istrinya.
Di kamar lain
Alby duduk di kursi belakang jendala pandangannya menatap ke arah luar. Saat ini hidupnya hampa karena kini untuk kedua kalinya dia harus kehilangan sosok yang dia cinta. Setelah ini dia harus kembali berjuang melanjutkan kehidupan membuka lembaran lagi.
"Al," panggil Bunda.
"Pantas saja dari tadi di panggil nggak nyahut, ternyata lagi melamun," ucap Bunda sambil berjalan mendekati putranya.
__ADS_1
"Dari semalam, kamu belum makan. Sekarang kamu makan ya, ini bunda sudah bawain nasi beserta lauknya." Bunda memberikan nampan berisi makanan.
"Al, tidak lapar, Bun," balas Alby.
"Meskipun tidak lapar kamu harus tetap makan. Kamu harus jaga kesehatan juga, Al," ujar Bunda.
"Untuk apa, Bun. Toh sekarang separuh jiwa Al sudah pergi, ini bukan yang pertama, tapi sudah kedua kalinya. Al, lelah, Bun," balas Alby.
"Istighfar, Al, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Setiap apa yang terjadi itu sudah takdir Allah, kamu harus percaya bahwa di balik kejadian ini pasti Allah sedang menyiapkan rencana yang lebih indah. Jangan pernah bilang lelah, karena saat ini Allah sedang dekat denganmu, Allah sedang menunjukkan kasih sayangnya pada mu," ujar Bunda.
Alby diam mencerna setiap ucapan Bundanya.
"Sekarang kamu makan ya, ingat ada malaikat kecil yang membutuhkan mu." Bunda terus memberikan nasihat pada putranya. Bunda tak ingin putranya larut dalam kesedihan, karena setiap hidup pasti mati dan setiap apa yang terjadi sudah kehendak yang Maha Kuasa.
Alby menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kemudian mengambil nampan yang di bawa Bundanya.
***
Di lantai bawah
Selesai sarapan para sanak saudara mulai berbagi tugas ada yang rapi-rapi, ada yang ke pasar, ada juga yang berada di dapur membersihkan sayuran dan mencuci perabotan dapur.
__ADS_1
Sedangkan Mama Iren, Papa Ari dan Ali memilih pulang setelah pemakan meraka akan kembali saat malam hari acara tahlilan.