
Malam hari
Sebelum Azmia berangkat ke rumah sakit dia lebih dulu memberi tahu Revan kalau dia dan Azmia akan menjenguk Bunda.
"Mi, ayo!" ajak Karina.
"Iya, Rin," balas Azmia.
"Dia berubah lagi lama-lama kamu jadi kayak bunglon ya, Mi." Karina berkata dengan tertawa kecil.
"Dasar teman terlaknat kau." Azmia pun ikut tertawa melihat dirinya sendiri karena harus merubah penampilan gara-gara drama rumah tangganya.
***
Di rumah sakit
"Yah," panggil Revan.
"Iya," balas Ayah Wisnu.
"Mantu mau kesini." Revan memberi tahu Ayahnya kalau Azmia akan datang menjenguk Bunda.
"Kapan dia mau kesini?" tanya Ayah Wisnu.
"Sebentar lagi juga sampai, Yah. Mereka sudah di perjalanan," jawab Revan.
***
"Gimana, Rin di rumah sakit nggak ada Mas Alby kan?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Kata Kak Revan sih nggak ada, dia hanya berdua dengan bokapnya," jawab Karina.
"Alhamdulillah, jadi nanti aku bisa langsung saja bilang ke Ayah," ucap Azmia.
"Iya," balas Karina.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit karena perjalanan lancar tidak terlalu ramai. Kini mereka telah tiba di rumah sakit setelah memarkirkan mobilnya Karina dan Azmia berjalan menuju ruang melati tempat Bunda di rawat.
"Assalamualaikum," ucap Azmia sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas Ayah Wisnu dan Revan.
Azmia bersama Karina berjalan masuk kedalam menghampiri Ayah Wisnu yang duduk di kursi samping Bunda mereka menyalami Ayah Wisnu, kemudian Karina duduk di sofa yang berada di ruangan.
Sedangkan Azmia berdiri di samping kiri brankar.
"Bagaimana keadaan, Bunda, Yah?" tanya Azmia. Ayah Wisnu berada di samping Kanan brankar.
** Setelah operasi dokter memberi tahu Ayah Wisnu jika Bunda akan siuman lebih lama mungkin satu sampai tiga hari, tapi kalau lewat tiga hari nggak siuman juga maka Bunda di nyatakan koma. *
Azmia mengelus lembut tangan wanita patuh baya yang kini terlihat begitu pucat sekali, senyum yang biasa menghiasi kini mulut itu tertutup begitu rapat.
"Bunda, kenapa Bunda masih betah tidur, apa Bunda tidak merindukan Mia? Bunda cepatlah Bangun Mia rindu sekali dengan pelukan Bunda," ucap Azmia sambil terus mengelus lembut tangan mertuanya.
"Ayah, sungguh berterima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi donor darah untuk Bunda," ucap Ayah Wisnu.
"Ayah, tidak perlu berterima kasih pada Mia, bukankah sebagai anak harus rela berkorban demi orang tuanya. Mia selalu menganggap Ayah dan Bunda adalah orang tua Mia sendiri," balas Azmia. Bagi Azmia tidak ada kata mertua di matanya Ayah dan Bunda adalah orang tuanya sendiri.
"Ayah, bangga padamu, Nak. Semoga Allah selalu melindungi mu, mengirimkan jodoh terbaik untuk mu," ucap Ayah Wisnu mendoakan menantunya.
__ADS_1
"Amin," balas Azmia.
"Bunda lihatlah menantu mu ini, jangan kau sia-sia waktumu untuk terus tertidur karena sebentar lagi dia tidak menjadi menantu kita lagi." Ayah Wisnu berbicara pada istrinya barang kali dengan cara itu Bunda terbangun dan siuman.
"A ... a ... a ... a ...i ... r," lirih Bunda
Perlahan Bunda mulai membuka matanya.
"Bunda," teriak Azmia kemudian dia langsung memencet tombol memanggil dokter agar segera datang. Sedangkan Ayah Wisnu langsung mengambil air dan membantu istrinya untuk minum.
Karina dan Revan yang berada di sofa mendengar suara Azmia memanggil Bunda mereka pun langsung menghampirinya.
"Alhamdulillah, Bunda sudah siuman," ucap mereka bersama.
Tak lama kemudian dokter datang langsung memeriksa kondisi Bunda.
"Alhamdulillah, kondisi Ibu Rita sudah mulai membaik," ucap dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Azmia.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu." Setelah memeriksa keadaan Bunda dokter keluar dari ruangan Bunda.
"Azmia," lirih Bunda Rita sambil mengelus lembut pipi Azmia.
"Iya, Bun ini, Mia. Bunda butuh sesuatu?" tanya Bunda.
Bunda menggelengkan kepalanya.
"Jangan menangis, Bunda tidak apa-apa, sayang," ucap Bunda Rita dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
Azmia mengangguk kemudian menghapus air matanya.