
Di cafe cinta.
"Rin, nanti kamu ikut bareng ya makan malamnya kan sebentar lagi kamu bakal jadi menantu Bunda Rita," ucap Azmia sambil merapikan balkon persiapan makan malam bareng Bunda Rita.
"Siap. Eh ... tapi aku ganggu nggak Mi?" tanya Karina memastikan, karena dia takut mengganggu acara makan malam antara mantan mertua dengan mantan mantu.
"Enggak, kan biar rame, Rin," ujar Azmia.
"Ok, baiklah," balas Karina setuju dengan permintaan Azmia agar dia ikut makan malam bersamanya.
"Setelah ini kita ke dapur ya, nyiapin menu buat nanti malam," ucap Azmia.
"Ok, siap," balas Karina.
Azmia dan Karina menghias balkon dengan lampu-lampu serta membersihkan balkon supaya lebih enak di pandang dan nyaman.
******
Malam hari
"Revan, Bunda sudah rapi nih," teriak Bunda di depan pintu kamar putra bungsunya.
"Iya, Bunda sebentar," balas Revan dari balik kamar.
"Bunda tunggu di bawah ya," ucap Bunda.
"Iya, Bun," balas Revan.
Setelah memberi tahu putranya, Bunda Rita berjalan menuju ruang tamu.
"Bunda mau kemana rapi begini?" tanya Alby saat tiba di ruang tamu melihat Bundanya berpenampilan rapi sambil membawa tas kecil.
"Mau makan malam bareng Putri Bunda," jawab Bunda. Beliau selalu menyebut Azmia sebagai putrinya.
"Azmia maksud Bunda?" Kini Nila yang bertanya.
"Iya," jawab Bunda. "Kalian jadi pindah hari ini?" tanya Bunda saat melihat koper yang di bawa Alby.
"Iya, Bun," jawab Alby.
"Mas, Kita ikut makan malam bareng Bunda yuk!" rengek Nila mengajak Alby agar ikut makan malam bersama Bunda dan Azmia.
"Katanya mau pulang sekarang." Alby yang bingung dengan keputusan istrinya.
"Nanti saja, mau ikut makan malam Bunda saja," balas Nila.
"Boleh ya, Bun. Kan biar makin seru kalau rame-rame iyakan, Bun?" tanya Nila sambil memasang wajah sok imut.
"Iya boleh, pindahannya besok saja," ucap Bunda, meskipun dalam hati sebenarnya ingin menolak karena kan niat hati ingin menghabiskan waktu bersama Azmia malah si Nila ngintil.
"Enggak apa, Bun?" Alby memastikan jika tidak apa-apa kalau dia dan Nila ikut.
"Tak apa, Al," balas Bunda dengan tersenyum kecil.
"Bun, ayo!" Revan yang baru turun dari tangga langsung menghampiri Bundanya dan mengajak Bundanya agar segera berangkat.
"Iya, ayo kalian mau bareng apa bawa mobil sendiri?" tanya Bunda.
"Bawa mobil sendiri saja, Bun," jawab Alby.
"Mas Alby mau ikut?" tanya Revan sedikit terkejut.
"Iya, sudah ayo!" Bunda menarik Revan keluar rumah supaya tidak terjadi perdebatan antara adik dan kakak.
"Bun, kenapa sih Mas Alby sama Mba Nila segala ikut?" tanya Revan dengan nada kecewa karena makan malamnya pasti akan terganggu jika bareng dengan Mas dan Kakak iparnya. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Sudahlah biarkan saja. Bunda kan nggak mungkin melarang mereka untuk ikut nanti takutnya Nila kecewa," jawab Bunda.
"Ah ... baiklah." Revan pasrah, ada benarnya juga sih kata Bundanya jika melarang pasti nanti kakak iparnya akan merasa di perlakukan tidak adil hanya ingin ikut makan malam saja tidak boleh. Dan pada akhirnya yang kecil memang harus mengalah.
"Mas kita makan malamnya di mana sih?" tanya Nila.
"Enggak tahu, tadi kan nggak sempat nanya Bunda. Kita ikuti saja mobil Revan," balas Alby.
"Iya deh," ucap Nila.
Mobil Alby terus melaju tepat di belakang mobil Revan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit kini mereka tiba di tempat tujuan.
"Nin, Azmia ada?" tanya Revan saat tiba di meja kasir.
"Ada, Mas. Mari!" Nina mempersilakan Revan agar mengikutinya.
Nina mengantarkan Revan serta yang lain ke balkon, karena tadi Azmia sudah berpesan pada Nina supaya tamunya di antar ke balkon.
"Assalamualaikum," ucap Bunda saat tiba di balkon melihat Azmia dan Karina sedang duduk santai sambil ngobrol.
Mendengar ada suara seseorang Azmia dan Karina langsung menoleh. "Wa'alaikumussalam," balas Azmia dan Karina sambil menoleh ke sumber suara terlihat Bunda tersenyum ke arah Azmia dan Karina.
Melihat Bunda datang Azmia langsung berdiri dari duduknya menghampiri Bunda menyalami beliau, kemudian Bunda memeluk Azmia dan mencium kening mantan menantunya.
"Silakan, duduk!" Karina mempersilakan semua untuk duduk.
Mereka pun duduk di tempat yang di sediakan.
"Hallo, Mi apa kabar?" tanya Nila basa-basi.
"Alhamdulillah baik, Mba," jawab Azmia.
"Oh, iya pada mau minum apa?" tanya Azmia.
"Baiklah," ucap Azmia kemudian mengambil ponselnya menghubungi Nina.
"Nin, tolong pesanan saya di antar sekarang ya, nanti kamu bilang ke Mas Aji," ujar Azmia saat panggilannya tersambung.
"Enaknya kerja di sini sesama karyawan, tapi bisa sesuka hati menyuruh karyawan lain," sindir Nila.
"Maaf ya, Mba. Azmia itu bukan karyawan," balas Karina.
"Hust ...." Azmia langsung memegang tangan Karina agar tidak terpancing dengan ucapan Nila, takutnya nanti Karina keceplosan malah membongkar identitas Azmia.
"Jaga bicara kamu," bisik Alby tepat di telinga Nila.
Suasana yang tadi hangat menjadi canggung gara-gara ucapan Nila.
Azmia hanya menanggapi ucapan Nila dengan senyuman.
Ah ... menyebalkan sekali sih Mba Nila, batin Revan.
Tak lama pesanan Azmia datang.
"Permisi," ucap Nina bersama dua karyawan lainnya yang membawa nampan berisi makanan dan minuman sesuai pesanan Azmia.
"Sini, biar saya bantu," ucap Azmia kemudian membantu menaruh makanan di atas meja.
"Nah, gitu dong sesama karyawan harus saling membantu jangan hanya menyuruh seperti bos," celetuk Nila.
"Mba, biar Nina saja," ucap Nina melarang Azmia membantunya setelah mendengar ucapan Nila yang menyindir Azmia.
"Enggak apa, Nin," balas Azmia dengan memberi kode jika dia baik-baik saja.
__ADS_1
Tuh perempuan mulutnya minta di sumpel sendal kali ya, batin Karina yang merasa kesal dengan ucapan Nila.
Bunda hanya diam mendengar ucapan-ucapan Nila yang menyindir Azmia, sebenarnya beliau ingin sekali menyahut, tapi takut salah karena satu mantan menantu satu lagi menantu.
"Mari silakan di nikmati!" ucap Azmia mempersilakan semua tamunya agar menikmati hidangan yang sudah di sajikan di atas meja.
"Apa semua ini kamu yang masak?" tanya Bunda.
"Iya, spesial untuk Bunda," jawab Azmia.
"Terima kasih, sayang pasti enak nih," ucap Bunda kemudian mencicipi makanan yang ada di depannya. "Ini enak sekali, sayang," lanjut Bunda setelah mencicipi makanan tersebut.
Saat semua menikmati makanan tiba-tiba Nila berulah. "Huek." Nila seakan ingin muntah.
"Kamu kenapa, La?" tanya Alby sambil memberikan segelas air pada Nila.
"Enggak tau nih, Mas rasanya mual sekali," jawab Nila.
"Apa kamu sedang sakit, Nak?" tanya Bunda.
"Tidak, Bun. Entahlah tiba-tiba Nila mual," jawab Nila.
"Lebih baik, Mas Alby ajak Mba Nila pulang saja kasihan nanti pingsan di sini malah bikin repot orang," ucap Revan.
Kurang ajar sekali tuh anak, batin Nila setelah mendengar ucapan Revan.
"Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Alby.
"Nanti saja, Nila tidak apa kok. Kasihan Azmia kan sudah masak untuk kita," jawab Nila.
"Mas suapin aku ya," ucap Nila.
"Baiklah," balas Alby. Kemudian mengambil makanan untuk istrinya dan menyuapinya.
"Kayak nggak punya tangan aja minta di suapin," lirih Karina.
Azmia yang mendengar ucapan sahabatnya dia pun langsung mencubit perut Karina.
"Au," keluh Karina.
"Kenapa, Nak?" tanya Bunda.
"Tidak apa, Bun," jawab Karina dengan tersenyum kecil.
"Mi, besok sebelum aku kembali ke kota Y aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Revan sengaja mengajak Azmia mengobrol agar tidak menjadi penonton kemesraan Abangnya dan Kakak iparnya.
"Cie ... kemana tuh," goda Karina.
"Kepo kamu, Rin," balas Revan.
"Mas minggu depan kita honeymoon yuk ke negeri P," ucap Nila dengan manja.
"Aku kan masih banyak pekerjaan, sayang," balas Alby.
"Ah, Mas kita kan belum honeymoon," ucap Nila sambil memasang wajah melas supaya Alby mengabulkan permintaannya.
"Baiklah, nanti Mas lihat dulu jadwalnya," balas Alby.
"Terima kasih, Mas," ucap Nila tiba-tiba langsung mencium pipi Alby sebagai rasa terima kasih. Nila seakan dengan sengaja melakukan semua itu di depan Azmia, dia ingin membuat Azmia cemburu.
Azmia, Revan, Karina dan Bunda di buat melongo dengan sikap Nila.
Namun, bukan hanya mereka yang di buat melongo, Alby pun sama dia tak menyangka jika Nila akan melakukan itu di depan umum.
Bunda yang sejak kemarin berharap makan malam bersama Azmia akan menjadi makan malam yang berkesan menyenangkan, tapi kini malah sebaliknya. Bunda merasa kecewa, malu dengan kelakuan menantu barunya.
__ADS_1
Bunda diam bukan berarti tidak berani menegur hanya saja Bunda tidak ingin berdebat dengan menantunya.
Karina semakin kesal dengan sikap Nila. Revan pun sama seperti Karina, sedangkan Azmia menghadapinya dengan santai.