
Di kampus
Setelah kelas selesai Azmia memilih duduk di bangku pinggir lapangan sambil melanjutkan baca buku novelnya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering pertanda ada telpon masuk. Azmia segera mengambil ponselnya yang berada di tas kemudian menggeser layar hijau.
"Assalamualaikum," ucap Azmia.
"Wa'alaikumussalam," balas seseorang di sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Azmia.
"......."
"Lagi nunggu jemputan karena si Meli dan Karina nggak masuk. Mas Ali kan tau tadi Mia nggak bawa kendaraan karena berangkat bareng teman jadi ya mau nggak mau pulang minta di jemput," jawab Azmia. Ya orang yang ada di sambungan telepon adalah Ali. Ali yang tanpa sengaja melihat Azmia sedang duduk sendirian jadi dia segera menelpon Azmia
"............"
"Tidak perlu, Mia sudah minta jemput Nina." Tadi sebelum Azmia keluar kelas dia sudah lebih dulu memberi kabar Nina agar menjemputnya ke kampus.
".....…..."
"Beneran tidak bohong kalau nggak percaya Mas Ali lihat saja nanti saat mobil berhenti di depan gerbang."
".........."
"Iya, siap, pak Dosen," balas Azmia kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
****
Di cafe
Karena waktu sudah menunjukkan jam istirahat selesai Daffa berpamitan kembali ke kantor sedangkan Karina masih duduk manis menikmati makanan yang baru dia pesan.
"Al, mau kemana lu?" tanya Daffa saat berpapasan dengan Alby di depan pintu utama.
"Lu lihat Nila nggak?" Alby balik bertanya.
"Barusan dia pergi," jawab Daffa. "Memangnya kenapa?" tanya Daffa.
"Nanti saja ceritanya, sekarang gue mau nyusulin dia dulu," ucap Alby langsung pergi ke parkiran mobilnya.
"Kenapa mereka berdua? apa terjadi sesuatu? ah ... biarin ajalah udah pada tua lebih baik gue lanjut kerjaan gue yang masih numpuk di atas meja, lirih Daffa. Enggak mau ambil pusing dengan masalah Alby.
"Kemana dia pergi cepet banget mobilnya nggak kelihatan, telponnya juga nggak di angkat-angkat." Alby jadi ngoceh sendiri karena tidak menemukan jejak Nila.
__ADS_1
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh akhirnya Alby menemukan mobil Nila tepat saat lampu merah mobil Nila berada di depan mobil Alby. Akhirnya ketemu juga, batin Alby.
Saat lampu berganti hijau Alby segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya bisa menghentikan laju mobil Nila yang lebih dulu jalan.
Tiba di jalan yang tidak terlalu ramai Alby menyalip mobil Nila kemudian menghentikan laju mobilnya tepat di depan mobil Nila. Tindakan sontak membuat Nila terkejut dia langsung rem mendadak untuk tidak menabrak mobil Alby.
Alby keluar dari mobil berjalan menghampiri mobil Nila. "La buka pintunya," ucap Alby sambil mengetuk kaca mobil Nila.
Nila membuka kaca pintu. "Ada apa sih, Mas?" tanya Nila.
Tanpa basa-basi Alby membuka pintu mobil Nila kemudian mengajak Nila agar masuk ke dalam mobilnya.
"Mobil aku gimana, Mas?" tanya Nila.
"Sudah biarkan saja di sini nanti sopir yang ambil," jawab Alby.
"Masuklah!" Alby menyuruh Nila agar segera masuk ke dalam mobil.
Nila pun masuk duduk di kursi samping sopir setelah Nila masuk Alby juga masuk dari pintu samping kemudian Alby mulai melajukan mobilnya.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Nila.
"Nanti juga tahu," jawab Alby.
"Kenapa kita kesini?" tanya Nila.
"Ada yang ingin saya bicarakan," jawab Alby.
"Maaf," ucap Alby.
"Untuk?" Nila yang tak mengerti maksud Alby.
"Saya tahu kamu marah dengan saya," ujar Alby.
"Marah?"
"Iya, sudahlah kamu jangan membohongi diri mu, La. Maafkan saya jika tidak berkata yang sejujurnya," jelas Alby.
"Tidak perlu minta maaf, Mas jika memang tidak ada cinta untuk Nila lebih baik kita akhiri saja hubungan ini," balas Nila.
"Tidak, tolong jangan bicara seperti itu, Mas nggak mau hubungan kita berakhir." Alby berkata sambil memegang erat tangan Nila.
"Sebenarnya Azmia itu mantan istri saya bukan sepupu saya, maaf karena tidak jujur pada mu lebih awal," ucap Alby menceritakan tentang hubungannya dengan Azmia.
__ADS_1
"Berarti kalau tadi Nila tidak mengetahui maka Mas Alby tidak akan memberi tahu ku gitu," balas Nila. Dia begitu kecewa dengan Alby.
*Jadi tadi saat ponsel Alby bunyi Nila melihat layar ponsel Alby foto Azmia dan Alby saat mereka masih bersama.
"Tidak, bukan seperti itu. Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Maaf karena terlambat menceritakan semua ini," ucap Alby.
"Kamu mau kan maafin saya?" tanya Alby.
Nila mengangguk.
"Terima kasih," ucap Alby sambil mencium tangan Nila. Kemudian Alby melajukan mobilnya mengantarkan Nila ke kantornya.
Setelah mengantarkan Nila Alby kembali ke kantornya.
"Dari mana lu lama banget?" tanya Daffa. Dia seperti penunggu ruangan Alby saja.
"Hist ... lu udah kayak jalangkung. Lu ngapain di ruangan gue udah kayak nggak punya kerjaan aja lu," omel Alby.
"Gue baru sepuluh menit di sini. Gue pikir lu udah balik makanya gue kesini eh ternyata belum. Dari pada bolak balik jadi gue nunggu ajalah. Kerjaan gue udah beres semua tinggal pulang," jelas Daffa.
"Oh, iya lu tadi ngapain nyariin Nila?" tanya Daffa.
"Ngejelasin ke dia takut salah paham," jawab Alby.
"Jelasin apaan?" Daffa yang bingung.
"Jadi ceritanya tadi tuh selesai makan tiba-tiba si Nila aneh berubah cemberut gitu. Eh ... ternyata tadi pas gue ke toilet ada yang telpon sepertinya Nila lihat foto wallpaper di handphone gue," jawab Alby.
"Kok lu bisa tahu Nila ngambek karena itu?"
"Ya masa nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba dia cemberut gitu terus pamit pulang gitu. Gue baru sadar pas gue buka handphone ada panggilan tak terjawab di situ gue langsung mikir kalau Nila marah sama gue karena salah paham," jawab Alby.
Jadi setelah kepergian Nila. Alby membuka layar ponselnya ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari situlah dia langsung menyimpulkan bahwa Nila pasti marah gara-gara lihat handphone Alby.
"Salah paham kenapa memangnya ada apa di ponsel lu?" selidik Daffa.
"Foto gue sama Azmia gue jadiin wallpaper lupa belum di ganti," jawab Alby.
Hari itu Alby nggak mengira jika Nila akan melihat handphonenya karena selama pacaran dengan Nila, Nila nggak pernah memegang atau melihat ponsel Alby. Lagi pula Alby memang orang yang jarang ngotak ngatik handphone jadi dia lupa jika wallpapernya foto dia dan Azmia.
Mungkin itu adalah cara Allah untuk memberi tahu Nila supaya Alby menceritakan semuanya pada Nila.
"Pantas saja Nila marah. Kalau gue jadi Nila harusnya gue lempar aja muka lu pakai kotak nasi," ujar Daffa.
__ADS_1
"G*l* lu," kesel Alby.