Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 235 Permintaan Bunda


__ADS_3

Di rumah


"Bagaimana, Li?" tanya Mama Iren yang sejak tadi sudah menunggu di ruang tamu.


"Biarkan Ali duduk dulu, Ma. Baru juga sampai," balas Ali. Dia baru aja melangkah masuk ke dalam, tapi Mamanya udah nggak sabar.


"Hehe, iya-iya duduklah!" ucap Mama Iren sambil tertawa kecil.


Ali pun duduk di samping Mamanya kemudian dia menceritakan semua informasi yang dia dapat dari Karina.


"Bagaimana untuk memastikan bahwa dia itu Zahra?" tanya Ali.


"Hanya ada dua cara," balas Mama Iren.


"Apa tuh, Ma?" tanya Ali.


"Pertama kita harus menanyakan tentang gelang yang di pakai Azmia, kedua tes DNA," jawab Mama Iren karena hanya dengan cara itulah semua bisa terungkap.


"Untuk gelang sepertinya Ali pasrahkan sama Mama," ucap Ali karena jika sama Mamanya bisa ngobrol dari hati ke hati.


"Ok, nanti kita atur saja pertemuan dengan Azmia," balas Mama Iren.


"Siap," balas Ali.


"Semoga dia benar-benar Zahra ya, Li," ujar Mama Iren berharap Azmia adalah putrinya yang hilang.

__ADS_1


"Jangan terlalu berharap, Ma. Kita berdoa saja minta yang terbaik," balas Ali. Bukan mematahkan harapan Mamanya, tapi jika terlalu berharap dan hasilnya tidak sesuai keinginan takut nyesek.


"Iya," ucap Mama Iren.


"Ma, Ali masuk kamar dulu ya mau siap-siap berangkat ke kampus," ujar Ali.


Mama Iren mengangguk.


Setelah itu Ali berdiri dari duduknya berjalan menuju kamarnya.


****


Di tempat lain.


"Kamu dari mana, Nak?" tanya Bunda Rita saat melihat menantunya datang dengan membawa banyak paper bag.


"Iya, Nak," balas Bunda.


Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap menantu barunya.


Alby-Alby, Bunda nggak tau lagi harus berkata apa, batin Bunda Rita seakan menyayangkan keputusan Putranya.


"Kenapa, Bun bengong aja." Revan mengagetkan Bundanya yang sedang terdiam di ruang tamu sambil melihat ke arah tangga.


"Ih, kamu ini kebiasaan bikin Bunda jantungan," omel Bunda pada Putra bungsunya.

__ADS_1


"Hehehe, Bunda ngapain ngeliat ke atas terus?" tanya Revan.


"Tidak apa," jawab Bunda berbohong karena nggak mungkin dia membahas Nila pada Revan.


"Bunda pasti lihatin Mba Nila ya?" tebak Revan.


"Kok kamu tahu," balas Bunda.


"Tadi Revan nggak sengaja lihat pas Mba Nila masuk ke dalam rumah," ucap Revan.


Tadi saat Nila masuk ke dalam rumah Revan baru pulang ingin memarkirkan mobil jadi ngeliat saat Nila baru pulang shopping.


"Oh," balas Bunda.


"Bunda heran ngeliat Mba Nila, sudahlah Bun biarkan saja itu kan sudah pilihan Mas Alby jadi sekarang kita ikuti saja dan kita lihat saja apa yang terjadi," ujar Revan.


"Iya, Van. Bunda nggak akan komen apapun kok. Bunda hanya lihat aja," balas Bunda. Meskipun Alby anaknya, tapi Bunda tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.


"Iya," ucap Revan sambil mengelus lembut lengan Bundanya.


"Oh, iya waktu itu kamu habis ketemu putri Bunda, bagaimana kabarnya Bunda jadi kangen sama dia," ujar Bunda.


"Revan nggak bisa ketemu Azmia, Bun. Kata Karina dia sedang ada tamu penting jadi nggak bisa di temuin," balas Revan.


"Oh, gitu. Sebelum kamu kembali ke kota Y kamu harus ajak Bunda dulu makan bersama Putri Bunda," ucap Bunda meminta agar beliau di pertemukan dengan Azmia.

__ADS_1


"Siap, nanti Revan bilang dulu ke Azmia biar meluangkan waktu bersama kita," balas Revan menyanggupi permintaan Bundanya.


__ADS_2