
Acara pernikahan Melia dan Derry.
H-1
Azmia, Melia dan Karina kini berada di cafe lovely karena besok pagi pukul 9 acara ijab kabulnya jadi malam ini Azmia bersama Karina menemani Melia. Mereka bertiga menginap di cafe lovely tidur di bagian ruangan yang nanti akan jadi ruang pribadi Azmia. Ruangan Azmia sudah rapi dan sudah lengkap dengan kebutuhan Azmia hanya bagian samping dan menghias depan yang belum selesai.
"Mel, kamu gugup nggak?" tanya Karina.
"Bukan gugup lagi, rasanya jantung ku mau keluar," jawab Melia.
"Haduh, kok aku jadi ikutan deg degan ya." Karina memegang dadanya.
"Ikutan aja kamu tuh, Rin. Mel istirahatlah terlebih dahulu supaya besok saat acara terlihat fresh," ucap Azmia.
"Iya, Mi. Sana cepat tidur karena besok pasti menguras tenaga," sambung Karina.
"Iya, iya." Melia beranjak dari duduknya berjalan menuju tempat tidur merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Azmia dan Karina masih duduk bersantai di sofa dekat jendela.
"Mia," panggil Karina.
"Apa, Rin?" Azmia bertanya, tapi hanya mulut yang berkata sedangkan matanya menatap ke arah luar jendela melihat gelapnya langit malam yang di hiasi dengan bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang begitu damai.
"Kenapa?" Karina balik bertanya.
"Tidak apa, Rin," jawab Azmia.
"Kamu bisa berkata seperti itu, tapi tidak dengan matamu yang memancarkan sebuah kesedihan," ucap Karina. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Azmia saat ini. Entah kenapa perasaan berkata Azmia sedang tidak baik-baik saja.
Azmia tersenyum getir. "Andai kehidupanku seperti orang lain mungkin saat ini aku tidak merasa lelah dengan semuanya. Susah, senang kita lalui bersama," ujar Azmia.
"Mi, kita memang tidak pernah tahu tentang hidup ini. Entah kemana alurnya kita hanya bisa mengikuti sesuai skenario," balas Karina.
"Kenapa mereka harus kembali di saat aku sudah seperti ini?"
"Ambil hikmahnya aja, Mi. Mungkin Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah untuk mu di kemudian hari. Percayalah bahwa setelah air mata akan ada tawa." Karina berkata sambil mengelus lembut lengan Azmia berusaha memberikan semangat untuk sahabatnya.
__ADS_1
"Terkadang aku merasa kenapa aku harus di lahirkan, kenapa aku harus di titipkan di keluarga Pranata, kenapa tidak di buang di tempat lain saja yang bisa menyayangiku dengan sepenuh hati." Tanpa dia sadari air mata jatuh saat mengucapkan kata-kata itu. Azmia meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Hidup dengan orang kaya, tapi ternyata pada akhirnya harus menderita karena sebuah cinta dan pengorbanan.
Bukan tidak bersyukur bisa hidup bersama keluarga Pranata, tapi jika pada akhirnya seperti ini. Dia bagaikan boneka mainan keluarga Pranata.
"Mia, jangan menangis." Melihat Azmia yang meneteskan air mata membuat Karina tak tega dia langsung memeluk erat Azmia. "Menangislah jika memang itu bisa membuat mu lega," ucap Karina sambil mengelus lembut punggung Azmia.
"Apa salahku, Rin? Kenapa mereka tega sekali denganku. Tidak bolehkah aku bahagia?"
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Karina.
"Kak Rania meminta Mas Alby kembali padanya," jawab Azmia.
"Apa?" Karina langsung melepaskan pelukannya menatap kearah Azmia. "Terus, kamu berikan padanya?"
"Iya. Aku sudah meminta cerai dengan Mas Alby, tapi Mas Alby belum mendatangani surat cerai itu," jawab Azmia.
"Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri, Mi," ucap Karina. Dengan Azmia memberikan Alby pada Rania itu sama saja menyakiti dirinya sendiri.
"Aku ikhlas, Rin. Karena pada awalnya memang seharusnya Kak Rania yang berada di samping Mas Alby bukan aku. Sekarang aku hanya bisa meratapi diriku sendiri bangkit untuk membahagiakan diriku sendiri. Meskipun ada rasa sakit dalam hati ini, tapi tak apa dengan seiring berjalannya waktu sakit ini pasti akan pudar." Pada akhirnya
Azmia menceritakan semuanya pada Karina karena hatinya sudah mampu menampung lagi kisah kehidupannya. Memorynya sudah terlalu penuh untuk terus menyimpan rasa perih kehidupannya.
"Apa kamu mencintai Mas Alby?" selidik Karina.
"Aku tak tahu entah ini cinta atau sekedar rasa nyaman karena setiap hari kita selalu bersama," jawab Azmia.
"Jika kamu cinta kenapa kamu melepaskannya?"
"Bukankah cinta memang tak harus memiliki dan rela berkorban untuk kebahagiaannya." Azmia berkata dengan tersenyum getir.
"Memang iya, tapi kita juga boleh egois sedikit, Mi untuk kebahagiaan kita," ujar Karina.
"Jika di luar sana masih banyak cinta kenapa tidak aku lepas. Belum tentu juga dia mencintaiku dengan tulus. Bukankah lebih baik di cintai dari pada mencintai?"
"Semoga kelak kebagian selalu menghampiri mu," ucap Karina sambil memegang kedua tangan Azmia.
__ADS_1
"Semoga." Azmia tersenyum ke arah Karina.
Senyuman yang menandakan kebahagiaan dan rasa syukur karena memiliki sahabat seperti Karina.
***
Di tempat lain tepatnya di hotel AR. Dua pria sedang duduk balkon mengobrol santai sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa cemilan yang mereka beli di supermarket.
"Bin, lu nggak bilang kan kalau kita pulang?" tanya Revan. Ya kedua laki-laki itu adalah Revan dan Kabin.
"Tidak. Tenang saja kita aman di sini," jawab Kabin.
Revan dan Kabin sengaja pulang demi bisa hadir di acara pernikahan sahabatnya yaitu Melia, tapi mereka sengaja tidak memberi tahu siapa pun jika mereka pulang untuk memberikan surprise pada para sahabatnya.
Saat Melia mengundang Revan dan Kabin mereka hanya bilang insya'Allah karena takut tidak bisa hadir.
"Besok acara jam berapa, Bin?" tanya Revan.
"Jam sembilan," jawab Kabin.
"Nggak sabar pengen lihat pujaan hati gue," ucap Revan.
"Jangan terlalu berharap dengan sesuatu yang tidak pasti, nanti kalau nggak kesampaian sakitnya tuh disini." Kabin berkata sambil memegangi dadanya.
"Tenang saja gue cuma pengen lihat dia duang. Kenapa ya gue susah banget buat ngelupain dia. Apalagi setiap melihat fotonya terkadang gue masih ada rasa ingin memiliki dia," ucap Revan.
"Melupakan seseorang yang kita cinta memang butuh waktu yang terpenting kita ikhlas dan berusaha untuk mencari penggantinya agar lebih cepat melupakan cinta itu," balas Kabin.
"Gimana gue bisa dengan yang lain jika di hati masih sepenuhnya milik dia," ujar Revan.
"Duh ... kalau begitu memang sulit, tapi bukan hanya lu. Azmia pun pasti sama. Jika dia bisa melupakan lu kenapa lu nggak. Kita itu harus bahagia meski tanpa cintanya," balas Kabin.
Ucapan Kabin memang benar saat orang yang kita cintai bisa move on dari kita. Kita juga tidak boleh kalah secepat mungkin kita juga harus bisa melupakannya. Buang masa lalu dan ganti dengan masa depan karena kita hidup bukan di masa lalu, tapi kita hidup untuk menuju ke masa depan.
***
__ADS_1
Hallo reader tercinta terima kasih sudah membaca cerita aku. Jangan lupa like dan vote ya Kakak apalagi jika di kasih hadiah duh...senangnya hatiku. 😊
lope lope buat kalian semua semoga sehat selalu ya ❤️🤍❤️🤍❤️❤️❤️❤️🤍🤍🤍❤️❤️❤️❤️❤️🤍🤍🤍🤍🤍❤️❤️❤️❤️❤️❤️