
Jika bertemu tidak boleh maka Ardiaz memilih untuk melakukan video call pada Azmia, tapi sudah berkali-kali mencoba menghubungi Azmia tak kunjung tersambung.
"Ah ... Mia kemana sih, kenapa telpon gue nggak di angkat-angkat." Ardiaz marah-marah sendiri karena panggilan telepon tak kunjung tersambung kan.
***
Di cafe lovely.
Azmia masih sibuk dengan beberapa lembaran kertas yang ada di meja. Kertas laporan bukti pemasukan barang. Azmia sengaja mematikan nada ponselnya agar tidak menggangu konsentrasinya dalam bekerja.
"Mia," teriak Karina dari luar.
"Masuklah, jangan teriak-teriak di depan," balas Azmia dari dalam ruangan.
"Lagi sibuk ya," ucap Karina setelah masuk ke dalam ruangan terlihat Azmia yang membolak-balik kertas di depannya.
"Enggak juga. Bagaimana semalam?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Alhamdulillah berjalan lancar. Oh, iya coba tebak semalam Kak Daffa ngajak siapa ke rumah?" Karina memberikan pertanyaan pada Azmia.
"Siapa lagi kalau bukan Bunda sama Ayah," jawab Azmia.
"Yah, ternyata kamu sudah tau," ucap Karina.
"Itu sudah pasti, karena Bunda pernah bercerita padaku," balas Azmia.
"Oh, iya bagaimana dengan pertemuan mu dengan orang tua Kak Diaz?" tanya Karina.
"Lupakan saja tentang pertemuan itu," jawab Azmia.
"Sudahlah nggak perlu di ingat nggak ada acara makan malam," ucap Azmia dengan tegas.
"Kalau kamu masih menganggapku sahabat harusnya dalam suka maupun duka kita saling berbagi," balas Karina menatap ke arah Azmia. Tatapan penuh harap agar Azmia mau menceritakan masalahnya tidak di pendam sendiri.
Mendengar ucapan Karina akhirnya Azmia menghentikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Kita ngobrolnya di sofa aja!" Azmia berdiri dari duduknya kemudian mengajak Karina untuk duduk di sofa supaya lebih nyaman ngobrolnya.
"Apa Mama dan Papa kamu tahu kalau Kak Daffa bukanlah anak kandung Bunda?" tanya Azmia membuka obrolan. Bukan menceritakan masalahnya dia malah menayakan tentang Daffa.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," jawab Karina.
"Tidak, aku hanya nanya," ujar Azmia.
"Alhamdulillah, Mama dan Papa tidak mempermasalahkan semua itu," balas Karina.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku senang dengarnya," ucap Azmia.
"Kembali ke pembicaraan awal. Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?" tanya Karina.
"Tidak ada makan malam hanya sebuah cuitan yang ku dapat pada malam itu. Mama dan Papa Kak Diaz menyuruh ku untuk menjauhi Kak Diaz," jawab Azmia dengan tersenyum kecil.
"Apa ada yang salah? Bukankah waktu itu Mamanya Kak Diaz setuju dengan hubungan kalian?" tanya Karina.
__ADS_1
"Aku tidak pantas untuk berada di samping Kak Diaz karena status ku. Tidak apa sih aku masih bersyukur karena belum memiliki hubungan yang serius dengan Kak Diaz jadi sakitnya nggak nyesek-nyesek banget." Sudah di cibir begitu masih aja merasa bersyukur. Azmia memang wanita hebat.
"Mereka tega sekali berbicara seperti itu. Mereka kan belum mengenal siapa kamu Mi, andai saja mereka tahu yang sebenarnya tentang dirimu mungkin mereka akan langsung bungkam. Aku nggak nyangka Mamanya Kak Diaz mulutnya pedes kayak cabe rawit," balas Karina dengan kesal kemudian Karina memeluk Azmia. Dia jadi merasa kasihan dengan nasib sahabatnya seng montang-manting. "Sabar ya, Mi. Suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan cinta sejati mu," ucap Karina sambil mengelus lembut punggung Azmia.