Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 99


__ADS_3

Setiap manusia memiliki titik di mana dia harus memilih jalan hidupnya sendiri antara bertahan atau berpisah.


**


"Pagi, Mbok," sapa Alby saat sampai di dapur.


"Pagi juga, Den," balas Mbok Asih.


"Mia belum turun, Mbok?" tanya Alby kini dia sudah duduk di kursi meja makan.


"Non Mia sudah pergi dari pagi, Den. Katanya ingin istirahat sebentar, tapi tadi Non Mia bawa koper, Den." Mbok Asih menceritakan semuanya pada Alby.


Deg


Alby terdiam mendengar jawaban Mbok Asih pasalnya Alby pikir Azmia hanya mengancam atau bercanda saja, tapi ternyata dugaannya salah. Azmia benar-benar pergi meninggalkannya.


"Den," panggil Mbok Asih karena Alby hanya terdiam memandangi makanan yang ada di atas meja tanpa di sentuh sama sekali.


"Den Alby, tidak apa-apa?" tanya Mbok Asih.


"Saya tidak apa, Mbok. Kalau begitu saya langsung berangkat ke kantor ya, Mbok," pamit Alby dengan nada yang sudah berbeda.


"Lho, Den kok berangkat kan belum sarapan," ujar Mbok Asih.


"Al, tidak lapar, Mbok," balas Alby. Kemudian berdiri dari duduknya berjalan dengan gontai meninggalkan meja makan menuju garasi mobil.


"Mang, tolong antarkan saya ke kantor ya," ucap Alby pada Mang Udin saat sampai di depan rumah.


"Siap, Den," balas Mang Udin kemudian membukakan pintu mobil untuk Alby.


'Si Aden teh kenapa ya, tumben tidak seperti biasanya wajahnya terlihat begitu sedih, apa karena di tinggal keluar kota oleh Non Mia,' batin Mang Udin saat melihat Alby dari spion mobil.


Sepanjang perjalanan menuju kantor Alby hanya diam tak berbicara sepatah kata pun, tidak seperti biasanya yang suka bertanya ini itu pada Mang Udin.

__ADS_1


"Mang mobil bawa pulang saja, nanti saya bisa bareng Daffa," ucap Alby sebelum keluar mobil.


"Baik, Den," balas Mang Udin.


Setelah keluar dari mobil Alby langsung berjalan menuju ruangannya karena masih terlalu pagi jadi keadaan kantor masih sepi belum terlalu banyak karyawan yang datang.


***


Di tempat lain.


Azmia mulai merapikan pakaiannya menatanya di dalam lemari.


"Maafkan, Mia ya Allah karena harus menyerah. Mia hanya ingin keluarga Mia bahagia Ya Robb, Mia tidak ingin Mama, Papa, Kak Rania membenci Mia. Semoga ini adalah jalan yang terbaik,' batin Azmia di sela-sela merapikan pakaiannya tak ada lagi tangis air mata karena sudah terlalu sering dia menangisi kehidupan ini.


Selesai merapikan pakaiannya Azmia mulai membersihkan apartemennya karena sudah terlalu lama dia tinggalkan, jadi terlalu banyak debu-debu di apartemen.


Libur kuliah Azmia menggunakan waktunya untuk membersihkan apartemen.


'Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,' ucap Azmia sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya.


Selesai merapikan apartemen Azmia bergegas membersihkan badan.


Malam hari Azmia duduk di ayunan yang berada di balkon mengayunkan tubuhnya sambil memejamkan mata menikmati angin malam yang terasa damai tenang karena posisi apartemen agak jauh dari jalan raya jadi tidak terlalu banyak suara kendaraan berlalu lalang.


****


"Kenapa lagi sih, Al?" tanya Daffa karena Alby ikut pulang bersamanya lagi.


"Azmia pergi, Daf. Gue pikir dia hanya mengancam gue, tapi ternyata tidak. Kata Mbok Asih tadi pagi dia pergi membawa koper," jelas Alby menceritakan semuanya pada Daffa.


"Pergi kemana dia?" tanya Daffa.


"Gue, nggak tahu. Dia nggak nitip pesan apapun pada Mbok Asih," jawab Alby.

__ADS_1


"Semalam dia menyerahkan surat cerai dan menyuruh gue untuk menikahi Rania. Apa dia pikir segitu tak berartinya gue di hatinya," ucap Alby.


"Ini nih yang gue takutin dari dulu. Al, dia itu manusia biasa yang tidak memiliki stok kesabaran berlimpah, ada saatnya di mana dia sudah merasa lelah dan menyerah. Sekarang sudah tidak ada yang perlu kamu sesali, Al. Azmia bukan tidak peduli padamu, justru karena dia peduli padamu makanya dia relakan kamu untuk yang lain asal kamu bahagia. Sepertinya dia juga tertekan dengan keadaan karena tidak mungkin Azmia mengajukan perceraian jika tidak ada tekanan batin." Daffa merasa ada yang mengganjal. Meskipun baru satu tahun mengenal Azmia, tapi Daffa yakin Azmia bukanlah orang yang gegabah.


"Kok lu bisa bicara seperti itu? terus siapa yang berani melakukan semua itu?" tanya Alby.


"Sekarang lu pikir saja Azmia itu anak yang baik, polos, dia bukan orang yang cepat dalam mengambil keputusan. Sepertinya sih yang melakukan semua ini bukan orang jauh, dia pasti dekat sekali dengan Azmia," balas Daffa.


"Keluarga Pranata," ucap Alby.


"Itu lu tahu." Daffa bukan hanya sekedar asisten pribadi Alby, tapi dia juga orang yang pandai dalam menggali informasi. Feeling yang kuat serta belajar dari pengalaman.


"Terus sekarang apa yang harus gue lakukan, Daf?" tanya Alby.


"Lu jalani saja seperti biasa pura-pura tidak ada masalah apapun. Nanti setelah semua berjalan mulus baru kita lakukan tindakan. Kita bahas saja nanti lagi," ucap Daffa


"Ok, gue ikuti saran lu," balas Alby menyetujui rencana yang akan di susun Daffa. Alby percayakan semua pada Daffa.


"Eh ... tunggu gue begini bukan demi lu, tapi demi pujaan hati gue Adek gue yang cantik bin imut-imut. Gue nggak suka Adek gue yang baik hati selalu di sakiti orang-orang yang tidak memiliki hati nurani," ujar Daffa.


"Adik, lu siapa? demi pujaan hati lu, siapa lagi dia?" Alby yang bingung pasalnya mereka membahas masalah Alby, Azmia, keluarga Pranata, tapi jadi merembet ke adik dan pujaan hati.


"Azmia, dia itu adik gue plus pujaan hati gue. Gue sampai berdoa, berharap semoga kelak gue memiliki istri seperti Azmia." Daffa mengucap dengan jujur.


"Teman terlaknat lu, Daf." Alby menjitak jidat Daffa.


"Sakit, Al," keluh Daffa.


"Makanya jangan suka menaruh hati pada istri orang apalagi itu istri temen lu sendiri," tegas Alby.


"Siapa sih laki-laki yang nggak akan jatuh cinta pada Azmia, baik hati, pinter, Sholehah. Suaminya saja yang buta, punya istri seperti itu dia sia-siakan malah munggutin pelakor yang cantik nggak seberapa," balas Daffa.


"Lu. Ah ... sudahlah males berdebat dengan lu." Alby memilih mengalah dan pergi meninggalkan Daffa sendirian di teras rumah Daffa.

__ADS_1


"Setiap kena mental pasti kabur," teriak Daffa masih tetap duduk di kursi teras rumah menikmati kesendiriannya sambil meminum teh hangat yang ia buat. Bikin sendiri di minum-minum sendiri.


__ADS_2