
Saking penasaran Alby mendatangi rumah Bunda ingin mempertanyakan foto sw Bunda waktu itu yang memperlihatkan keakraban Bunda dengan wanita berkacamata.
"Assalamualaikum," ucap Alby di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas Bunda sambil membukakan pintu.
"Masuk, Al!" Bunda mempersilakan Putranya untuk masuk ke dalam.
"Terima kasih, Bun," balas Alby. Kemudian masuk ke dalam duduk di sofa ruang tamu.
"Revan sudah kembali ke Yogja, Bun?" tanya Alby.
"Sudah kemarin malam," balas Bunda.
"Kamu pulang kerja?" tanya Bunda karena melihat Alby masih rapi memakai jas.
"Iya, Bun," balas Alby. Dia sengaja pulang dari kantor langsung ke rumah Bunda.
"Tumben kesini
ada apa?" tanya Bunda sudah bisa menebak kelakuan anaknya jika ke rumah pasti ada sesuatu.
"Pengen main saja kangen masakan, Bunda," jawab Alby. Mulut dan hati tidak kompak. Mulut bilang kangen masakan Bunda sedangkan hati berkata ingin mencari informasi tentang wanita berkacamata.
"Alasan saja." Bunda yang tak percaya dengan ucapan Alby. Insting seorang Ibu itu kuat jadi sulit untuk di bohongi.
"Beneran, Bun. Bunda masak apa hari ini?" tanya Alby basa-basi sebelum beraksi ke misinya.
__ADS_1
"Bunda hari ini nggak masak lagi malas, Mba Lasmi juga nggak masak karena sedang pulang ada urusan," balas Bunda.
"Yah, Bunda. Padahal Alby sudah semangat banget ke rumah Bunda pengen masakan Bunda," ujar Alby.
"Kamu datangnya tidak tepat waktu," balas Bunda.
"Ya sudahlah." Dalam hati berkata tidak masalah karena niat awal bukanlah itu jadi tidak kecewa terlalu dalam.
"Bagaimana urusanmu sama Azmia?" tanya Bunda.
"Azmia tetap bersikeras ingin kita berpisah, Bun. Dia menyuruh Al agar segera memberikan surat pengajuan itu, tapi Al masih belum bisa melepaskannya," jelas Alby.
"Ngga bisa melepas Azmia, nggak bisa juga ninggalin Rania," cibir Bunda kesal dengan putranya yang satu ini entah keturunan dari mana bisa seperti itu.
"Al bingung, Bun," balas Alby.
"Tidak semudah itu, Bun. Oh, iya, waktu itu Al lihat foto Bunda sama perempuan berkacamata siapa dia, Bun? apa dia calon Revan?" tanya Alby mulai mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas dirinya terus.
"Yang mana?" tanya Bunda pura-pura lupa. Instingnya benar Alby kerumah pasti ada sesuatu.
"Waktu itu di cafe, Bun beberapa hari yang lalu," ucap Alby.
"Oh, si Nisa," balas Bunda.
"Oh, jadi namanya Nisa. Bunda kok bisa kenal sama dia?" Alby mulai mengorek informasi tentang wanita berkacamata tersebut yang ternyata namanya Nisa. Alby percaya saja dengan ucapan Bundanya.
"Waktu itu tidak sengaja bertemu dengannya saat jalan dengan Revan kebetulan temannya itu sahabat Revan sejak SMA jadi ya sudah kita gabung makan bareng. Kenapa kamu bertanya tentang dia Kepo banget," ucap Bunda.
__ADS_1
"Cuma heran saja tumben sekali, Bunda makan di restoran bersama Revan dan para sahabatnya tidak seperti biasanya," balas Alby memberikan alasan yang masuk akal. "Apa dia kekasih Revan?" tanya Alby.
"Sepertinya begitu. Bunda sih setuju banget jika Revan nikah sama dia anaknya baik, cantik, berpendidikan, sopan pokoknya menantu idaman deh," jawab Bunda.
"Sepertinya Bunda mengenal sekali wanita itu. Bukankah kalian baru bertemu?" Alby merasa heran dengan jawaban Bundanya.
"Iya, tapi kita kan bisa lihat bagaimana wanita yang baik dari hati atau wanita yang hanya mencari muka saja, tapi hatinya busuk," ujar Bunda seakan menyindir putra sulungnya. 'Andai saja kamu tahu siapa sebenarnya dia, Al pasti kamu akan terkejut. Wanita yang telah kamu sia-siakan, wanita yang selalu kamu sakiti kini dia bisa mengubah hidupnya lebih berwarna dan mampu berdiri tanpamu, mungkin dia memang sudah tidak membutuhkan mu karena dia bukanlah wanita biasa yang selalu kamu anggap remehkan. Al, Al kamu terlalu lemah untuk menilai wanita sudah di kasih berlian indah malah pilih mas murahan,' batin Bunda.
"Maksud Bunda?" Alby yang tak mengerti dengan ucapan Bundanya.
"Tak bermaksud apa-apa. Kamu ingin menginap di sini?" tanya Bunda.
"Iya, Bun. Al bosen di rumah sendiri," jawab Alby. Biasanya dia di rumah Daffa, tapi bosen juga ngikutin Daffa mulu.
"Makanya segera halalin yang itu biar ada yang ngurus," ujar Bunda.
"Nanti nunggu restu dari Bunda dan Ayah dulu," balas Alby karena dia nggak ingin menikah tanpa restu orang tua. Alby tahu Bunda sekarang kurang respect dengan Rania jadi dia masih menunggu waktu yang tepat untuk meminta restu dari Ayah dan Bundanya.
Menanti dan berharap dengan Azmia sudah tidak mungkin. Azmia sudah memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali.
****
Cafe Lovly.
Azmia duduk bersantai di ayunan yang berada di balkon cafe Lovly. Ruangan khusus untuk para orang penting di cafe Lovly.
'Aku belajar untuk tak perduli lagi, tapi setiap kali melihat kalian hatiku terasa sakit, dadaku begitu sesak entah rasa apa yang aku alami. Ya Allah, jika itu rasa cinta maka hilangkan rasa itu dari dalam hatiku,' batin Azmia sambil memandangi langit yang mulai berubah menjadi gelap.
__ADS_1