Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 104 Mengungkit


__ADS_3

Usaha sudah, tapi belum juga membawakan hasil sekarang hanya tinggal menunggu kapan Allah akan mempertemukan mereka kembali, atau tidak akan ada pertemuan lagi.


Sedikit demi sedikit Alby mulai menikmati hidupnya tanpa Azmia di sampingnya meskipun dalam hati masih berharap sang istri akan kembali. Alby sudah bertanya ke cafe, tapi Nina bilang Azmia sudah lama tidak datang ke cafe menunggu di depan kampus hasilnya nihil tak menemukan sosok Azmia karena penampilan baru Azmia membuat Alby tak mengenalinya.


Hari ini Alby ada janji jalan bersama Rania, tapi seperti biasa Alby selalu mengajak Daffa setiap pergi bertemu dengan Rania.


"Al, lu tega banget sama gue," keluh Daffa. Sambil melajukan mobilnya menuju taman kota dimana Alby dan Rania janjian.


"Tega kenapa?" tanya Alby yang tak mengerti maksud Daffa.


"Lu jadiin gue obat nyamuk. Kalian berdua enak pacaran lha gue berasa kayak setan yang ada di antara kalian berdua," jawab Daffa.


"Hahaha, makanya Lu sekalian saja cari pacar," ujar Alby.


"Cari pacar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan," balas Daffa. Ibarat kata kita beli baju saja milih apalagi pendamping hidup untuk seumur hidup itu harus memilih dengan teliti, sudah milih saja terkadang masih ada penyesalan di belakang apalagi yang asal comot.


Mereka menghentikan obrolannya karena sudah sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya Daffa dan Alby menunggu Rania di pinggiran air terjun duduk di kursi yang telah tersedia.


"Al, gue cari minum sama cemilan dulu ya," ucap Daffa.


"Iya," balas Alby.


Daffa meninggalkan Alby sendiri, dia melangkahkan kakinya berkeliling taman sambil mencari makanan yang sesuai dengan selera lidahnya.


"Akhirnya ada juga yang menggoda iman," ucap Daffa saat melihat penjual telur gulung. ia pun menghampiri pedagang tersebut.


"Pak, pesan lima ya," ucap Daffa.


"Siap, Mas. Silakan di tunggu!" balas pedagang.

__ADS_1


Daffa duduk di kursi tunggu yang di sediakan pedagang sambil menunggu pesanannya selesai di buat Daffa melihat-lihat sekeliling taman. Tanpa sengaja ia tertuju pada satu bangku sebelah bunga-bunga yang di tempati oleh seorang wanita. Daffa terus saja memperhatikan wanita tersebut hingga membuatnya tak fokus saat di ajak berbicara oleh pedagang telur gulung.


"Mas -- mas - mas ini telur gulung nya pedas apa tidak?" tanya pedagang yang terus memanggilnya Daffa karena tak ada jawaban hingga ketiga kalianya tak ada respon dari Daffa, pedagang tersebut menepuk pundak Daffa membuat Daffa terkejut. "Astagfitullah, Pak bikin kaget saya saja," keluh Daffa.


"Yah, ilang," keluh Daffa. "Ah ... si Bapak sih kagetin saya jadi ilang dah tuh orang kemana?" Daffa celingak-celinguk mencari keberadaan wanita tadi yang ia lihat.


"Apanya yang ilang, Mas? Lha terus kenapa jadi saya yang salah. Si Mas saya panggil dari tadi nggak jawab-jawab." Pak pedagang telur yang tidak terima di salahkan oleh Daffa.


"Ah ... sudahlah lupakan. Tadi bapak mau tanya apa?" tanya Daffa.


" Ini pesanannya pedas apa nggak?"


"Pedas, Pak," jawab Daffa.


"Nih pesanannya sudah jadi," ucap Pak pedagang sambil memberikan pesanan Daffa.


"Terima kasih, Pak. Nih." Daffa membayar pesanannya kemudian berjalan pergi meninggalkan pedagang tersebut. "Ah ... gara-gara tuh bapak-bapak gue jadi kehilangan jejak, gue harus cari kemana coba begini," gerutu Daffa di sepanjang kakinya melangkah. Merasa lelah karena terus berjalan Daffa menghentikan langkahnya duduk di kursi kosong yang berada di area taman sambil menikmati telur gulung yang ia beli tadi.


***


"Maaf ya, Mas menunggu lama," ucap Rania yang baru datang.


"Tidak apa," balas Alby. "Duduklah!"


"Bagaimana kabar Mas Alby?" tanya Rania.


"Alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih baik," jawab Alby.


"Apa Azmia belum pulang juga?" tanya Rania.

__ADS_1


Rania mengetahui semuanya karena saat hari kedua kepergian Azmia, Alby menelpon Rania menanyakan keberadaan Azmia barang kali ada di kediaman Pranata.


"Belum," jawab Alby.


"Sudahlah, Mas. Mungkin memang Azmia itu tidak mencintai Mas Alby jadi untuk apa harus di pertahankan. Bukankah Mas Alby pernah berjanji pada Nia akan selalu menjaga Nia sampai kapanpun," ucap Rania.


"Namun, sampai saat ini di hatiku hanya ada Azmia," balas Alby. Setelah kepergian Azmia, Alby bukan lupa dengan Azmia, tapi malah semakin merindukan istrinya meskipun sekarang keadaannya lebih baik dari hari-hari sebelumnya saat awal pertama sampai satu minggu kepergian Azmia, Alby benar-benar kacau penampilannya kurang rapi, pola makan yang tidak teratur, kurang tidur karena dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan hingga larut malam. Jika Daffa tidak memarahinya setiap hari mungkin keadaan Alby akan semakin meburuk.


"Mas, kenapa sih selalu saja Azmia tidak adakah sedikit saja namaku di hatimu?" Rania mulai emosi.


"Maafkan aku Rania kamu sendiri yang membuat hatiku melupakan namamu. Disaat cinta itu bersemi kamu sendiri yang melunturkan cinta itu. Apa kamu lupa dengan semua itu?" Alby mulai mengungkit kejadian waktu itu.


"Kenapa sih Mas harus mengungkit semua itu. Iya, itu memang salah ku, tapi kan sekarang aku sudah kembali tidak bisakah kita berjalan ke depan menata masa depan tanpa harus melihat lagi kebelakang. Bukankah semua orang bisa punya salah? apakah kesalahan ku begitu fatal hingga membuatmu sampai saat ini masih membenciku, tak ingin lagi mengenalku," ucap Rania dengan derai air mata.


"Maafkan aku." Hanya itu yang keluar dari mulut Alby.


"Jika memang aku sudah tidak berarti lagi bagimu, kenapa saat itu kamu harus menahan ku, memberikan perhatian padaku, kenapa tidak membiarkan aku pergi dari dunia ini," ujar Rania.


"Banyak orang yang masih menyayangi mu, Nia jangan berbuat konyol hanya karena aku," balas Alby.


Hanya karena cinta rela menghabisi nyawanya sendiri. Hidup itu penuh dengan skenario jadi jangan putus asa jika putus cinta. Nikmati saja apa yang telah Allah berikan, bahagiakan dirimu sendiri dan buktikan padanya bahwa kamu bisa bahagia tanpa cintanya.


"Aku mencintai mu, Mas," ucap Rania.


"Yang kamu rasakan bukanlah cinta, tapi hanya obsesi. Jika kamu tulus mencintai ku maka __." Alby sengaja menahan ucapannya.


"Maka seharusnya aku tidak pergi dari pernikahan kita," lanjut Rania.


Sakit hati itulah yang Rania rasakan ternyata dia telah salah menebak untuk mendapatkan cinta Alby kembali tak semudah yang ia pikirkan karena Alby masih saja mengingat kejadian di hari pernikahan.

__ADS_1


**


Terkadang masa lalu memang sulit untuk di lupakan, apalagi tentang pahitnya kehidupan sampai seumur hidup pun akan selalu teringat dan mungkin juga sudah tersimpan di memory otaknya.


__ADS_2