Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 47 Rencana


__ADS_3

"Gimana, keadaan Azmia sekarang, Ga?" tanya Mami Erna pada anak laki-lakinya. Sudah beberapa bulan ini Azmia tidak berjumpa dengan Azmia karena baru pulang dari luar kota mengikuti sang suami mengurus kantor cabang.


"Mia, baik-baik saja, Mi," balas Angga. Kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Gimana keadaan kantor, Ga?" kini berganti Papi yang bertanya.


"Alhamdulillah, semua baik, Pi," jawab Angga.


"Cafe adikmu gimana?" tanya Papi Wisnu.


"Alhamdulillah, Pi. Mia sangat pandai dalam mengelola usahanya," balas Angga.


"Betul sekali kita nggak salah menganggapnya sebagai putri kita. Mami bangga padanya," ucap Erna.


"Allah memang sengaja mengirimkan dia untuk kita," sambung Papi Wisnu.

__ADS_1


Angga dan Mami mengangguk.


"Gimana, kalau besok kita makan malam bersama?" Mami Erna menatap kearah Angga dan suaminya.


"Nanti Angga tanya Mia terlebih dahulu, Mi," ucap Angga.


"Baiklah," balas Mami Erna.


Meskipun Azmia hanyalah anak angkat, tapi mereka tidak pernah membedakan antara Azmia dan Angga mereka menyayangi keduanya dengan penuh kasih sayang.


Mereka malah begitu bersyukur Allah mengirimkan Azmia masuk ke dalam keluarganya. Berbeda dengan keluarga Pranata awalnya saja mereka senang, tapi saat Azmia beranjak anak-anak mereka mulai berbeda jarang sekali memperdulikan Azmia, hingga saat dia dewasa mereka dengan tega memaksa Azmia untuk mengantikan Rania. Tanpa memikirkan perasaan Azmia.


Setiap orang itu memiliki masa lalu. Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran untuk menuju masa depan.


Jangan terus menoleh ke belakang karena masa depanmu itu di depan bukan di belakang.

__ADS_1


"Mi, gimana rencana pembangunan cabang?" tanya Karina.


"Belum mulai masih nunggu keputusan dari Abang. Insya'Allah nanti malam aku akan bicarakan sama Abang," balas Azmia. Karena nanti malam dia di undang makan malam di rumah Angga jadi Azmia pikir mungkin nanti malam waktu yang tepat untuk membicarakan rencananya pada Angga dan kedua orang tua angkatnya.


"Oh ... aku suka Mi sama desainnya sangat menarik apalagi di tambah hiasan dinding mungkin akan lebih menarik pengunjung," ucap Karina sambil melihat gambar yang di berikan arsitek.


"Nanti kita yang akan mengurus semuanya kalau sudah dapat izin dari Abang. Kamu kan tahu, Rin. Aku tidak akan bisa seperti ini tanpa mereka, dan kamu, serta Melia. Kalian yang selalu ada di samping ku dalam suka maupun duka, selalu memberikan dukungan dan semangat untuk ku agar terus maju." Memang benar apa yang Azmia katakan jika bukan karena mereka mungkin kini dia hanya di rumah mengerjakan pekerjaan rumah membantu para art seperti biasa.


"Kamu memang pantas mendapatkan segalanya Mi, kamu patut bahagia." Karina menggeser kursinya di samping Azmia kemudian dia memeluk sahabatnya dengan penuh kasih sayang, Azmia pun membalas pelukan Karina.


"Woi ... kalian ngapain pelukan begitu?" Melia yang baru datang tanpa permisi langsung masuk ke dalam ruangan. Dia di buat terkejut saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya kedua sahabatnya sedang berpelukan entah apa yang membuat mereka seperti teletabis begitu.


"Kebiasaan kalau masuk nggak ketok pintu terlebih dahulu untung saja Azmia berpelukan sama aku, coba kalau dia lagi pelukan sama pacarnya, kamu sangat mengganggunya," omel Karina setelah melepas pelukannya.


"Hehehe, maaf." Melia tersenyum kecil kemudian dia duduk di kursi depan Azmia. "Kalian sebenarnya ngapain sih sampai pelukan gitu?" jiwa kepo Melia meronta-ronta seakan meminta pada sang pemilik kalau dia masih penasaran dengan kedua sahabatnya yang tiba-tiba tadi pelukan, jika tak ada sesuatu pasti mereka tidak akan seperti teletabis.

__ADS_1


__ADS_2