
"Kita mampir dulu ya," ucap Revan. Kini mereka berada dalam perjalanan.
"Kemana?" tanya Azmia.
"Kesuatu tempat yang bisa membuatmu tersenyum kembali," jawab Revan.
"Ok, baiklah," ucap Azmia.
"Oh, iya, Kak Revan kapan sampai?" tanya Azmia.
"Baru sampai tadi pagi," jawab Revan.
"Oh," ujar Azmia sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah menempuh jarak sekitar lima belas menit Revan menghentikan mobilnya di pinggir taman kota.
"Ayo!" Revan mengajak azmiyah keluar dari mobil.
Azmia mengangguk kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil.
Kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol.Azmia mengangguk kemudian mereka melangkahkan kakinya untuk mencari bangku yang kosong. Setelah berputar berkeliling akhirnya mereka tertuju dengan satu bangku yang berada di dekat air mancur taman kota.
"Apa yang kamu lakukan tadi di Mall menangis di kursi seorang diri?" tanya Revan.
"Enggak apa-apa," jawab Azmia berbohong.
__ADS_1
"Mi, tolong jawab yang jujur aku tahu kamu seperti apa. Aku yakin pasti terjadi sesuatu apa kamu tidak mau bercerita denganku?" tanya Revan.
"Apa ada yang salah dalam diri Mia, Kak? segitu rendahnya seorang j**da di mata mereka. Apa ada yang salah dengan status j**da? Jika boleh memilih mungkin semua orang juga nggak ada yang mau memiliki status seperti itu." Hatinya begitu sakit saat mengingat kata-kata orang tua Ardiaz.
"Abaikan saja. Mereka hanya belum tahu tentang dirimu. Jika kamu di rendahkan seseorang jadikan motivasi dan kamu tanamkan dalam hati untuk membuktikan pada mereka bahwa kamu tidak serendah yang mereka pikirkan," ucap Revan.
Azmia mengangguk dia tak ingin menceritakan semuanya pada Revan. Azmia takut Revan akan marah dan menghampiri Ardiaz.
***
Di tempat lain
Karina, Mama dan Papanya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga Daffa. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Sudah, Ma. Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Karina.
Karina baru aja diem. Tiba-tiba terdengar suara mobil.
"Assalamualaikum," ucap Daffa saat berada di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas Karina yang sudah berdiri di dekat pintu sejak mendengar suara mobil datang.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Karina sambil menyalami tangan Bunda Rita dan Ayah Wisnu.
"Lho, Nak Karina. Kamu temannya Azmia kan?" tanya Bunda. Beliau sedikit terkejut saat melihat ternyata wanita yang akan di lamar Daffa adalah Karina.
__ADS_1
"Iya, Tan," jawab Karina dengan tersenyum kecil.
"Mari, Om, Tante!" Karina mempersilakan Bunda Rita dan Ayah Wisnu masuk ke dalam.
"Selamat malam, Mba, Mas," sapa Bunda Rita pada Mama dan Papa Karina sambil saling salam-salaman.
"Malam juga, Mba, Mas. Mari silakan duduk!" Mama Diva mempersilakan Bunda Rita dan Ayah Wisnu duduk di sofa ruang tamu.
"Terima kasih, Mba," ucap Bunda Rita kemudian mereka semua duduk bersama.
"Terima kasih atas kesediaannya bertamu serta bersilaturahmi di rumah kami," ucap Papa Dika.
"Sama-sama, Mas. Mudah-mudahan setelah ini kita bisa menjalin hubungan kekeluargaan," balas Ayah Wisnu.
"Amin, tapi kita kembalikan semuanya pada putra dan putri kami," ujar Papa Dika.
"Iya benar, Mas," balas Ayah Wisnu.
"Bagaimana, Nak Karina apa bersedia menerima pinangan Putra kami, Daffa?" sambung Bunda Rita.
Karina mengangguk. Karena semua sudah mereka obrolin terlebih dahulu sebelum acara jadi saat acara pertemuan keluarga Karina akan menerima tunangan Daffa.
"Alhamdulillah," ucap semuanya.
Daffa melirik ke arah Karina dengan tersenyum kecil. Karina dengan malu-malu membalas senyuman Daffa.
__ADS_1