
Selesai kuliah Azmia dan Karina segera merapikan alat tulisnya setelah itu mereka berdua bergegas keluar kelas.
"Buru-buru sekali mau kemana?" tanya Ali karena mereka hampir saja menabrak Ali yang sedang berjalan.
"Hehehe, maaf, Pak," jawab Karina.
"Mi, nanti malam ada waktu nggak?" tanya Ali.
"Memangnya ada apa, Pak?" Bukannya menjawab Azmia malah balik bertanya.
"Saya dan Mama ingin berkunjung ke cafe," jawab Ali.
"Oh, insya'Allah nanti malam sudah di cafe kok," ucap Azmia.
"Kalau begitu sampai jumpa nanti malam," balas Ali kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruang Dosen.
Setelah kepergian Ali. Azmia dan Karina juga melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil Karina.
"Cie, camer pengen ketemu," goda Karina sambil menyenggol lengan Azmia.
"Siapa?" tanya Azmia.
"Mamanya pak Ali," jawab Karina.
"Ngaco aja," ujar Azmia.
Sesampainya di parkiran Azmia dan Karina langsung masuk ke dalam mobil.
***
Di rumah sakit
"Ar, kapan kamu membawa Azmia ke sini?" tanya Mama Irana yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Azmia.
"Nanti ya, Ma. Azmia hari ini ada kuliah sampai sore setelah kuliah dia kerja. Nanti kalau Mia libur pasti Ar ajak kesini," jawab Ardiaz.
__ADS_1
"Kerja dimana dia?" tanya Mama Irana.
"Azmia kerja di salah satu cafe. Dia bekerja sebagai asisten pemilik cafe. Di sela-sela waktunya libur dan setelah pulang sekolah dia gunakan untuk bekerja supaya bisa membiayai kuliahnya sendiri," jelas Ardiaz.
"Memangnya mantan suaminya tidak memberikan uang atau biaya dia?"
"Azmia tidak ingin bergantung dengan orang lain, Ma. Dia itu wanita yang sangat mandiri. Bahkan saat kita makan malam waktu itu Azmia yang membayar semuanya," jelas Ardiaz.
Dia membayar semuanya, tapi dia tak mencicipi sedikit pun makanan atau minuman yang ada di meja karena sudah aku usir lebih dulu, batin Mama Irana. Mengingat saat Azmia di caci-maki olehnya dan suaminya, tapi malah Azmia yang membayar semua biaya makanan dan minuman yang mereka nikmati betapa malunya dia saat ini jika bertemu dengan Azmia. Orang yang dia benci, tapi seperti malaikat.
"Kenapa kamu baru bilang Mama, Ar?"
"Ar pikir Mama tidak perlu tahu karena Mama dan Papa tak menginginkan Azmia," jawab Ardiaz.
Mama Irana terdiam, saat itu memang dia dan suaminya menentang keras hubungan Putranya dengan Azmia, tapi setelah melihat kebaikan hati Azmia dia merasa seperti orang yang begitu jahat karena telah menilai seseorang hanya dari statusnya.
"Assalamualaikum," ucap Azmia dan Karina di depan pintu ruang rawat inap Mama Irana.
"Wa'alaikumussalam," balas Ardiaz dan Mama Irana dari dalam.
"Entahlah," jawab Ardiaz. "Ar, lihat dulu ya, Ma," ucap Ardiaz kemudian berdiri Ndari duduknya berjalan ke arah pintu.
"Selamat sore,Kak," sapa Azmia dan Karina saat melihat Ardiaz membuka pintu.
"Kalian berdua. Mari masuk!" Ardiaz mempersilakan Azmia dan Karina masuk ke dalam.
"Azmia," ucap Mama Irana saat melihat seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.
Azmia tersenyum kemudian menghampiri Mama Irana menyalami tangan beliau. "Bagaimana keadaannya, Tan?" tanya Azmia.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik," jawab Mama Irana.
Mama Irana menggenggam tangan Azmia. "Azmia maafkan Tante ya waktu itu, Tante merasa menyesal karena telah berbuat seperti itu. Tante sangat berterima kasih karena kamu sudah menolong Tante meskipun Tante pernah menyakitimu," ucap Mama Irana.
"Tante tidak perlu meminta maaf Mia sudah lupakan kejadian itu jadi tidak perlu di bahas lagi," balas Azmia dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Nak, terima kasih," ujar Mama Irana dengan derai air mata.
Hatimu terbuat dari apa sih Nak, begitu cepatnya kamu melupakan kesalahan saya, bahkan kamu merasa saya tidak pernah salah. Begitu berdosanya saya Ya Allah karena telah menyakiti hati anak yang memiliki hati begitu tulus, batin Mama Irana.
"Mama." Seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Kamu, untuk apa kamu kesini. Kamu mau meracuni istri saya belum puas kamu sudah membuat istri saya celaka? Enggak perlu sok baik seakan-akan kamu bagaikan pahlawan karena telah menolong istri saya, pasti orang yang menabrak orang suruhan kamu kan? Kamu mau balas dendam pada kita karena kamu sakit hati kan sama kita? ngaku kamu?" Teriak Papa Irwan memarahi Azmia sambil menunjuk-nunjuk ke arah Azmia.
"Papa stop!" ucap Ardiaz menghentikan Papanya agar tidak menuduh Azmia sembarangan.
"Pa, jangan bicara seperti itu. Dia benar-benar menolong Mama, Pa. Bukan dia pelaku yang menabrak Mama." Mama Irana mencoba menjelaskan pada Papanya.
"Oh, Mama sekarang sudah mulai termakan dengan kebaikan yang dia buat. Ma, jangan percaya dengan dia. Wanita sok polos padahal dalam hatinya dia ingin balas dendam pada kita," cerocos Papa Irwan.
"Om, tolong ya jika berkata di saring terlebih dahulu, teman saya tidak sejahat itu." Kini Karina angkat bicara karena sudah merasa kesal dengan tuduhan Papa Irwan sebagai sahabat dekat Azmia, Karina tak terima jika Azmia di tuduh seperti itu.
"Rin, sudah!" Azmia memegang tangan Karina seakan berkata agar Karina tidak meladeni ucapan Papa Irwan.
"Berani sekali kamu anak kecil melawan saya," ucap Papa Irwan.
"Saya memang anak kecil. Saya tidak berniat melawan Anda wahai Om terhormat, tapi saya tidak akan tinggal diam jika Anda memfitnah keluarga saya," balas Karina dengan lantang dan berani, dia tak menghiraukan genggaman tangan Azmia yang semakin erat.
"Wow," ucap Papa Irwan sambil bertepuk tangan seakan meledek keberanian Karina yang sudah menantangnya.
"Stop, Pa stop! Papa sudah keterlaluan. Papa tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti," ucap Ardiaz menghentikan Papanya yang terus saja memojokkan Azmia.
"Mi, lebih baik kita pergi dari sini, jangan sampai kamu berhubungan dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain," ucap Karina menarik tangan Azmia mengajaknya pergi keluar dari ruangan Mama Irana.
"Sudah jangan terus ngedumel," ucap Azmia pada Karina. Karena Karina terus saja menggerutu di sepanjang jalan menuju parkiran.
"Tuh bapak-bapak mulutnya rasanya pengen aku jejelin cabai setan sekilo biar diem. Punya mulut nggak bisa dijaga," kesel Karina.
"Kenapa sih kamu nggak lawan saja orang seperti itu," ucap Karina.
"Untuk apa? orang seperti itu tidak perlu di lawan buang-buang tenaga saja, nanti kalau sudah capek juga diem sendiri," balas Azmia. Dia sengaja diam saat Papa Irwan menuduhku karena tak ada gunanya melawan orang seperti itu. Lebih baik diem setelah itu tinggal pergi bereskan.
__ADS_1