
Selesai mengecek beberapa laporan Alby merapikan meja kerjanya.
"Al," panggil Daffa dengan kebiasaannya langsung masuk ke ruang Alby tanpa permisi.
"Lu, Daf," balas Alby.
"Kita makan dulu yuk, Daf sebelum pulang!" Daffa mengajak Alby untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
"Makan di mana?" tanya Alby.
"Sudahlah ayo ikut aja!" ajak Daffa.
"Baiklah." Alby berdiri dari duduknya memakai jasnya kembali yang tadi dia taruh di kursi.
"Ayo!" ucap Alby setelah dia rapi kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan di ikuti Daffa dari belakang.
*
*
*
Satu jam perjalanan kini mereka telah sampai di depan Restoran langganan Daffa.
Setelah memarkirkan mobilnya mereka masuk kedalam restoran.
"Selamat datang," sapa karyawan yang berdiri di samping pintu sebagai penyambut tamu yang datang.
Alby dan Daffa membalaskan dengan senyuman.
"Duduk di situ saja yuk, Daf!" Alby mengajak Daffa duduk di meja nomor enam.
"Ingin pesan apa, Pak?" tanya salah satu karyawan restoran.
Daffa menunjuk ke daftar menu.
"Baik, di tunggu sebentar ya, Pak!" ucap Karyawan tersebut.
Daffa mengangguk.
"Al, gimana pertemuan kemarin dengan Pak David?" tanya Daffa. Kemarin dia tidak ikut Alby bertemu dengan klien karena dia harus menggantikan Alby meeting bersama para dewan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, beliau setuju y penawaran kita dan tertarik dengan produk yang kita pasarkan," jawab Alby.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Daffa.
"Al, kok gue ngerasa seperti denger suara nyokap lu ya," lanjut Daffa.
"Perasaan lu aja kali," balas Alby.
"Nggak kok beneran. Suara ketawanya tuh mirip banget suara Bunda dan Revan." Daffa berkata sambil memandangi ke seluruh ruangan restoran mata tertuju pada satu meja yang berisi lima orang karena posisi kursi restoran itu sofa panjang jadi tidak terlalu terlihat jelas dengan orang yang duduk agak jauh. 'Kayak kenal mereka ya, apa jangan-jangan beneran itu Bunda dan Revan,' batin Daffa.
"Al, coba deh lu liat meja itu sepertinya itu Bunda dan Revan deh." Daffa menyuruh Alby agar melihat ke arah meja paling pojok.
"Lu salah lihat kali, Daf. Mana mungkin Bunda makan di tempat seperti ini apalagi sama Revan," ujar Alby. Setahu Alby, Bunda itu jarang sekali makan di tempat seperti ini bersama anaknya, kalau bersama teman-temannya kemungkinan besar iya perkumpulan arisan emak-emak, tapi kalau bersama anaknya itu tidak mungkin.
"Al, perasaan gue berkata itu Bunda, coba kita perhatikan gerak-gerik mereka saja," balas Daffa.
"Lu aja yang perhatiin." Alby malas sekali mengikuti saran Daffa.
Daffa terus saja memperhatikan gerak-gerik meja pojok sedangkan Alby sibuk dengan ponselnya. 'Apa ini? apa aku nggak salah lihat Bunda bersama siapa cantik sekali wanita itu, tapi sepertinya aku pernah lihat wanita ini di kampus Azmia kuliah. Apa dia sahabat Azmia, tapi apa hubungannya dengan Bunda. Apa dia calon Revan,' batin Alby saat melihat status WhatsApp Bundanya. Alby tak mengenali Azmia yang berpenampilan baru memakai kacamata serta penampilannya juga sedikit berbeda dengan sosok Azmia yang dia kenal. Alby semakin di buat penasaran dengan wanita yang bersama Bundanya.
Azmia pinter sekali saat bertemu dengan Bunda Azmia melepaskan kacamatanya supaya Bunda bisa mengenalinya, tapi saat berfoto Azmia sengaja memakai kacamata dan masker supaya tidak di kenali keluarga Pranata saat mereka melihat fotonya bersama Bunda dan Azmia juga menceritakan semuanya pada Bunda tentang perubahannya supaya Bunda tidak heran saat melihatnya di jalan dan Azmia juga terpaksa harus memberikan nomor ponselnya yang baru pada Bunda.
Tak lama kemudian karena sudah cukup lama mengobrol Azmia dan Karina pamit pulang duluan karena masih ada beberapa kerjaan yang harus mereka kerja.
"Iya, Sayang, tapi janji sama Bunda kamu tidak boleh menghindari Bunda. Bunda akan sangat sedih apabila kamu tidak ingin bertemu lagi dengan Bunda," tegas Bunda.
"Mia janji," balas Azmia meyakinkan Bunda supaya mertuanya tidak sedih. Azmia tak bisa melihat Bunda sedih meskipun beliau bukan orang tuanya, tapi Azmia mertua sama saja orang tua sendiri.
Bunda memeluk menantunya dengan erat seakan tidak rela jika menantunya harus pergi meninggalkannya.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Sayang. Bunda akan selalu ada untukmu. Bunda sayang sama kamu," ucap Bunda di sela-sela pelukannya.
"Mia juga sayang sama Bunda. Bunda juga jaga diri baik-baik," balas Azmia.
"Kak Kabin, Kak Revan, Mia pulang duluan ya," pamit Azmia.
"Iya, Mi. Hati-hati ya," ucap Revan dan Kabin.
"Duluan ya, Kak," pamit Karina pada Kabin dan Revan kemudian dia menyalami tangan Bunda.
"Assalamualaikum." Azmia berkata sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," balas Bunda, Revan dan Kabin bersama.
"Nah, kan bener yang gue bilang," ucap Daffa saat melihat dua wanita berdiri dari meja pojok.
"Apa yang benar?" tanya Alby saat mendengar ucapan Daffa.
"Tuh lihat, itu bukannya sahabat Azmia." Daffa menunjuk ke arah dua wanita yang berdiri dan ingin meninggalkan meja pojok.
Alby pun menoleh melihat ke arah yang di tunjukkan Daffa. "Itu dia," ucap Alby.
"Siapa, Al?" Daffa balik bertanya.
"Wanita itu." Alby menunjuk ke arah wanita yang memakai kacamata.
Daffa mengikuti arah pandang Alby. "Lu, kenal, Al?" tanya Daffa.
"Tidak, tapi gue pernah lihat dia di kampus Azmia kuliah saat gue nyariin Azmia," jawab Alby menjelaskan pada Daffa. "Menurut gue ada yang aneh nih, Daf nih lu lihat." Alby memperlihatkan status WhatsApp Bundanya pada Daffa. Status foto Bunda bersama wanita berkacamata.
"Berarti tebakan gue benar di meja itu ada Bunda dan adik lu. Apa mungkin dia calon Revan?" tebak Daffa lagi.
"Bisa jadi seperti itu," jawab Alby.
"Sepertinya kita harus cari tahu siapa perempuan itu," ucap Alby.
"Gue setuju." Daffa menyetujui ide Alby untuk mencari tahu identitas perempuan berkacamata yang foto bersama Bundanya.
Daffa juga penasaran dengan wanita tersebut sehingga membuatnya menyetujui ide Alby.
*
*
*
"Bun, Revan mohon jangan kasih tahu, Mas Alby tentang perubahan penampilan Azmia," ucap Revan.
"Iya, kamu tenang saja. Bunda juga tidak ingin menantu Bunda terus tersakiti akibat ulah Kakakmu," balas Bunda. Beliau juga akan memberikan pelajaran pada putranya karena telah berani menyakiti wanita yang baik seperti Azmia. Andai saja Bunda lebih kenal lebih awal pada Azmia mungkin Bunda tak akan pernah menjodohkan Alby dengan Azmia agar Azmia tidak merasa terlalu karena ulah anaknya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Revan pada Bundanya karena mereka sudah cukup lama beranda di dalam restoran.
"Iya, ayo! Bunda sudah puas bisa bertemu dengan menantu Bunda," ucap Bunda Rita.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Revan jadi ikut senang lihat Bunda seperti ini," balas Revan. 'Segitu bahagianya Bunda bisa bertemu dengan Azmia,' batin Revan saat melihat wajah Bunda yang berseri bahagia.