
Kapan ya saya bisa bertemu dengan Non Mia lagi. Kalau Non Nila seperti itu terus bisa-bisa saya nggak betah tinggal di sini. Apa saya bilang Nyonya saja ya, eh ... tapi nanti takut ketahuan Non Nila malah berabe. Mungkin lebih baik aku ketemu Non Mia saja deh, batin Mbok Asih sambil menatap kearah langit-langit kamarnya.
"Mbok Asih," teriak Nila di dapur.
Mendengar suara teriakan majikannya Mbok Asih yang tadi sedang merebahkan badan langsung bergegas keluar kamar menuju dapur. Kamar Mbok Asih tidak jauh dari dapur.
"Iya, Non," balas Mbok Asih.
"La, kenapa sih teriak-teriak?" tanya Alby. Dia yang tadi sedang berada di ruang kerja. sampai turun ke dapur saat mendengar teriakan istrinya.
"Ini, Mas. Mbok Asih jam segini udah tidur, Nila ingin makan, tapi masakannya dingin jadi mau minta tolong untuk di hangat kan," jawab Nila.
"Kenapa nggak kamu angetin saja sendiri?"
"Percuma dong, Mas ada art di rumah, kalau Nila harus melakukannya sendiri," jawab Nila.
"Enggak semua pekerjaan rumah harus mbok Asih yang melakukannya," ucap Alby.
"Itu kan memang sudah tugas dia sebagai art, lagi pula dia kan begini juga di bayar, balas Nila. Dia terus saja menjawab ucapan Alby.
"Sudah-sudah, Den. Si Mbok tidak apa-apa, ini memang sudah tugas si Mbok sebagai art di sini," sahut Mbok Asih menghentikan perdebatan majikannya. Jika terus dibiarkan maka akan terjadi perang ke lima bikin dia tambah pusing.
"Non Nila ingin apa?" tanya Mbok Asih.
"Tolong buatkan saya mi instan saja, Mbok pakai telur," jawab Nila.
"Baik, Non," jawab Mbok Asih. Kemudian dia segera membuatkan pesanan majikannya.
Alby yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sungguh tak menyangka Nila bisa bersikap seperti itu.
Dulu saat Azmia yang berada di sini Mbok Asih tak pernah kerepotan, jam segini pun Mbok Asih sudah bisa tidur nyenyak kasihan Mbok Asih, batin Alby tak tega melihat Artnya.
__ADS_1
***
Di tempat lain
Azmia perlahan membuka gelangnya setelah terbuka dia pun memberikan gelang tersebut pada Mama Iren. "Ini, Ma."
Mama Iren menerima gelang tersebut kemudian ia lihat dengan teliti tanpa terasa air matanya menetes.
"Ma." Ali mendekat di samping Mamanya.
"Kamu lihat, Li." Mama Iren memperlihatkan gelang tersebut pada putranya.
"Masih ada satu lagi, Ma. Kita harus lakukan itu untuk membuktikan semua kebenaran ini," ucap Ali. Meskipun dia yakin, tapi alangkah baiknya jika kita harus memastikan dengan sedetail mungkin.
"Iya, Li, tapi apa dia akan percaya dengan kenyataan ini?" tanya Mama Iren.
"Insya'Allah," jawab Ali.
Setelah melihat secara detail model kaluang tersebut Mama Iren mengembalikannya pada Azmia.
"Boleh Mama bertanya sesuatu?" Mama Iren bukan menjawab pertanyaan Azmia beliau malah mengajukan pertanyaan.
Azmia mengangguk.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung tersebut?" tanya Mama Iren sambil menatap kearah Azmia.
"Kata Mama Sonia kalung ini sudah Mia pakai sejak mereka menemukan Mia," jawab Azmia.
"Apa kamu tahu maksud dari huruf yang ada di kalung tersebut?"
Azmia menggeleng pertanda tidak tahu.
__ADS_1
"Huruf ini adalah inisial nama kamu, sayang. Z adalah Zahra dan B adalah Bakhri kalung ini Mama pesan khusus untuk putri Mama tercinta," jelas Mama Iren.
"Maksud Mama?" tanya Azmia belum mengerti karena syok dia jadi lemot.
Bukan memberi jawaban, tapi Mama Iren langsung memeluk Azmia di iringi derai air mata. "Kamu anak Mama yang selama ini menghilang, sayang. Kamu anak Mama" ucap Mama Iren di sela-sela pelukannya.
Azmia terdiam dia tak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa menangis mendengar ucapan Mama Iren, antara bahagia, sedih, campur aduk rasanya.
Karina dan Ali yang melihat itu pun ikut meneteskan air mata.
Karina tak menyangka Azmia bisa menemukan keluarga aslinya.
Melihat Azmia yang tidak merespon Mama Iren melepaskan pelukannya menatap ke arah Azmia. "Sayang apa kamu mau tes DNA untuk membuktikan semuanya?" tanya Mama Iren dengan tatapan penuh harap.
Azmia mengangguk pertanda menyetujui saran Mama Iren, mungkin dengan cara ini dia juga bisa percaya bahwa dia benar-benar putri Mama Iren yang hilang.
"Alhamdulillah," ucap Mama Iren dan Ali bersama.
"Besok kita ke rumah sakit ya," ajak Mama Iren.
Azmia mengangguk sebagai jawaban. Dia masih bingung, syok dengan kenyataan hari ini, bukan tidak bahagia bisa bertemu dengan keluarga aslinya, tapi dia masih tidak menyangka.
"Sebentar Mama ingin memperlihatkan sesuatu padamu," ucap Mama Iren kemudian beliau pergi berjalan masuk ke dalam rumah.
"Rin, ini aku nggak sedang mimpikan?" tanya Azmia sambil menggoyang-goyangkan tangan Karina.
"Nih." Karina mencubit pipi Azmia.
"Au, sakit," keluh Azmia.
"Sakitkan? berarti tandanya kamu __."
__ADS_1
"Tidak mimpi," sambung Azmia.
"Pinter," balas Karina, kemudian langsung memeluk Azmia. "Aku seneng kamu bisa menemukan keluarga asli kamu, Mi," ucap Karina di sela-sela pelukannya.