
"Abang, kenapa harus berkata seperti itu pada Kak Diaz," ucap Azmia.
Kini Azmia dan Angga sedang berada di dalam mobil perjalanan menuju pulang.
"Memangnya kenapa sih, Dek? mereka kan memang pantas menerimanya," balas Angga.
"Namun, Kak Diaz itu tidak tahu apa-apa, Bang. Hanya pak Irwan yang seperti itu. Mia tidak bisa menyalakan pak Irwan, ya sebagai orang tua pastinya mereka menginginkan yang terbaik untuk putranya apalagi Kak Diaz itu anak tunggal," ujar Azmia.
"Namun, tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu, Dek. Mereka kan belum mengenalmu, tapi dengan begitu cepat mereka menilai mu begitu rendah." Angga hanya tidak terima atas sikap pak Irwan yang sok sempurna.
"Sudahlah biarkan saja. Lebih baik jelek di mata manusia daripada jelek di mata Allah," ucap Azmia. Dia tak ingin ambil pusing dengan masalah itu karena sudah terbiasa baginya di pandang sebelah mata.
"Kamu benar, Dek. Abang salut padamu, kamu begitu cepat bisa memaafkan orang lain, tanpa ada dendam dalam hatimu," balas Angga.
__ADS_1
"Untuk apa menaruh dendam yang hanya nambah dosa, lebih baik kita pasrahkan semuanya pada Allah," ucap Azmia.
"Tidak salah Abang memanggilmu peri kecil karena hatimu begitu lembut, Dek," balas Angga sambil mengelus lembut kepala Azmia.
Sepanjang perjalanan di iringi dengan obrolan tanpa terasa kini mereka tiba di kediaman Dewata.
****
Andai saja Papa mau mendengarkan perkataan ku, tidak juga menilai orang dari sebelah mata mungkin semua ini tidak akan terjadi. Apa mungkin Azmia sudah menceritakan semuanya pada pak Angga ya? Lagi dan lagi kamu selalu membuat ku kagum, Mi. Wanita yang dulu ku kenal sederhana ternyata bukanlah wanita biasa kamu seakan memberikan kejutan padaku, batin Ardiaz.
"Pantas saja Mama panggil dari tadi tidak menyahut ternyata di luar, masuklah angin malam tidak bagus untuk kesehatan," ucap Mama Iren saat melihat putranya duduk di kursi balkon kamar. Mama Iren menghampiri Putranya kemudian beliau pun duduk di kursi samping Ardiaz. "Kenapa, apa ada masalah?" tanya Mama Iren.
"Tidak, Ma," jawab Ardiaz.
__ADS_1
"Lantas kenapa belum istirahat?" tanya Mama Iren.
"Lagi pengen nyari angin saja, Ma," jawab Ardiaz. Dia terpaksa berbohong karena dia nggak mau Mamanya tahu yang nantinya akan membuat Mamanya sedih.
"Ma, jika semua ini sudah seperti ini apa mungkin bisa kembali seperti semula?" tanya Ardiaz. Ibarat kaca jika sudah pecah apa bisa untuk di satukan kembali.
"Maafkan Mama dan Papa ya, Ar. Andai saja kami ingin mengenal lebih dulu siapa Azmia maka semua ini tidak akan terjadi," jelas Mama Iren.
"Mama tidak perlu minta maaf semua sudah berlalu. Semoga saja masih ada kesempatan untuk Ar memperbaiki semuanya ya, Ma," ucap Ardiaz.
"Azmia anak baik pasti dia mau memberikan kesempatan ke dua untukmu, Ar," balas Mama Iren.
"Semoga saja, Ma. Ar yakin jika Azmia masih bisa memberikan kesempatan, tapi tidak dengan keluarganya, Ma. Pak Dewata, pak Angga pasti mereka akan sangat menolak keras," ujar Ardiaz. Dia yakin Azmia pasti bisa memaafkan Papanya, tapi dia tidak yakin jika Pak Dewata dan Angga juga bisa memanfaatkan sikap Papanya.
__ADS_1
"Jika kamu benar-benar mencintainya, tunjukkan pada mereka bahwa kamu layak untuk Azmia. Sekali lagi maafkan Mama dan Papa karena sikap kami, kamu jadi terkena imbasnya," balas Mama Iren.
Ardiaz tak lagi menyambung obrolannya dia memilih untuk diam dengan pikirannya sendiri.